
"Na, harusnya kamu jujur saja sama Bima. Aku gak tahan lagi lihat kamu kayak gini!"
"Aku gak pa-pa, mas. Lihat aku masih bisa bicara kan?" senyum Dena. Pria di samping nya ini mendengus kesal karena Dena sangat keras kepala. Pasalnya sering ia meminta Dena untuk jujur pada Bima, tapi Dena selalu menolak dengan alasan yang sama.
"Mas." Dena meraih tangan pria di sampingnya dengan tangannya yang bebas, satu tangan yang lain terpasang infus yang mengalir ke tubuhnya. "Aku masih kuat kok. Janji ya, mas gak akan kasih tahu mas Bima. please!" pinta Dena dengan puppy eye's-nya. "Demi aku mas." pria itu masih diam tapi pandangannya ia alihkan ke arah lain. Dia paling tidak bisa kalau harus menghadapi Dena yang seperti ini.
"Mas." Dena menggoyangkan tangan pria yang tidak lain adalah sopir pribadinya, "Ya. Mas. Ya." rayunya lagi. Pria itu masih diam.
__ADS_1
"Jadi mas gak mau?" tanya Dena, dan menghempaskan tangan itu dengan kasar. Bibirnya memberengut.
"Ya sudah kalau gitu, mas Rian antar aku pulang aja!" Dena bangun dari pembaringannya, dan hendak menurunkan kedua kakinya. Sopir yang bernama Rian itu segera mengubah raut wajahnya dan menahan tangan Dena.
"Enggak, Na. Oke aku akan diam. Tapi kalau kamu lebih dari ini aku gak bisa janji kalau gak kasih tahu Bima." ucap Rian sama kesalnya.
Dena tersenyum menang dan kembali membaringkan dirinya di bantu oleh Rian.
__ADS_1
Rian menghapus air mata di sudut matanya. Biarkan saja jika orang lain menganggapnya cengeng, dia tidak akan peduli. Jika saja kesakitan wanita yang sangat dicintainya ini bisa di alihkan padanya tentu ia akan merasa senang. Dena tidak perlu tersiksa. Dena tidak perlu menangis. Dan tentunya Dena akan bahagia dengan Bima seorang. Tidak pernah ada Lily di antara mereka.
Rian sudah tidak tahan. Dia tidak ingin Dena memergokinya kalau sedang menangis. Bukankah harusnya dia juga kuat untuk bisa mendampingi Dena di hari-hari selanjutnya?
Rian menaikan selimut pada tubuh Dena hingga sebatas leher lalu di kecupnya dengan sayang kening Dena. Kemudian dia keluar dari ruang perawatan menuju ke taman.
Hari masih belum terlalu malam, suasana di taman rumah sakit sangat lengang. Hanya beberapa orang yang masih ada disana duduk diam memandang langit malam yang gelap, sama seperti dirinya.
__ADS_1
Bulan yang terlihat setengah lingkaran dengan cahayanya yang tertutupi awan hitam. Angin dingin bersemilir lewat tanpa permisi. Dedaunan dan bunga-bunga bergerak menari perlahan. Suara derap langkah kaki yang terbungkus sepatu beradu dengan batu kerikil terdengar jelas saling bergesekan hingga batu kerikil itu menggelinding ke sembarang arah.
Rian menutup matanya, teringat akan pertemuan pertama kali dengan Dena. Gadis yang sudah membuatnya tersadar dan kembali ke kehidupan yang lebih baik. Gadis yang sudah memberikannya perhatian dan kasih sayang yang selama ini ia dambakan.