
Bima merasa lega karena sudah satu bulan ini Lily belum memberikan surat resign. Itu artinya Lily belum bicara pada Dena.
Bima terkadang bingung dengan hatinya siapa yang ia suka, siapa yang ia cinta? Diantara tiga nama yang ada hanya akan tersisa satu nama yang akan selalu terpatri di dalam hatinya hingga akhir hayatnya.
Malam ini Bima dan Lily makan bersama dalam diam. Bima tersenyum tipis hampir tidak terlihat melihat Lily yang makan sambil sibuk memperhatikan hpnya.
Kenapa aku jadi tersenyum sendiri? Bukanya sudah biasa seperti ini?
"Kenapa mas? Senyum sendiri? Udah mulai naksir? haha." Lily tertawa karena melihat Bima yang kemudian salah tingkah. Dengan ringannya Lily mengatakan hal itu
Lily mencoba menekan perasaannya yang nyata sudah terlanjur Bima tahu. Dan sekarang dia merasa harus membiasakan diri dengan keadaan. Demi Dena.
Bima hanya tersenyum kikuk. Sekarang Bima tahu sifat lain yang Lily punya. Bima tersenyum.
"Iya-iya Lily tahu. Cuma mbak Dena seorang." Ucap Lily lalu bangkit dari duduknya. " Udah belum makannya? Mau Lily cuci!" tanya Lily.
"Nanti biar mas yang cuci sendiri." Lily melanjutkan langkahnya menuju wastafel dan mulai membasuh piring bekas pakainya. Lalu mengelap tangannya dengan lap kering.
__ADS_1
"Kabar mbak Dena gimana, mas?" Tanya Lily setelah duduk kembali di tempatnya tadi.
"Baik. Dena juga akan berangkat lagi ke luar kota lusa." ucap Bima lalu wajahnya terlihat sendu. Lily menatap Bima iba.
Maaf mas. Aku dan mbak Dena udah gak jujur sama kamu. Dan aku gak bisa karena Mbak Dena udah bikin aku bersumpah demi dia.
"Mas. Besok mas Adit mau ajak aku keluar, boleh?" tanya Lily membuat Bima menghentikan laju tangannya yang akan menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Bima menghela nafas berat. "Iya." lalu segera menghabiskan makannya dan kemudian mencuci piringnya.
Lily mencoba mengalihkan perasaannya pada orang lain karena dia tahu Bima tidak akan mudah untuk beralih mencintainya. Dena adalah orang yang sangat spesial di hati Bima dan itu akan sulit untuk di singkirkan.
***
Bima berbaring di dalam kamarnya. Kedua tangannya terlipat di bawah kepalanya, ia menatap lurus ke depan, ke langit-langit kamar berwarna abu-abu terang.
Bayangan tentang Lily yang waktu itu terus terang padanya soal perasaannya. Lalu beberapa hari kemudian Lily kembali datang dan meminta maaf karena kejadian itu. Dia bilang kalau saat itu dia sedang labil dan sedang merindukan seseorang. Adit kah? Atau siapa?
__ADS_1
Membuat hati Bima terasa ada yang mencubit perlahan tapi sangat intens. Sedikit demi sedikit dan akhirnya membuat lubang di hati Bima semakin menganga lebih lebar lagi.
Apalagi Lily dengan gamblangnya bicara kalau dia menyayanginya seperti menyayangi Dena, layaknya Adik kepada kakaknya. Walaupun Bima merasa lega dengan pernyataan Lily tapi itu membuatnya semakin merasa aneh.
Tidak tahukah Bima bahwa kehadiran Lily telah membuat hatinya berbeda. Tapi Bima selalu menyangkalnya. Dan hanya memikirkan Dena. Wanita yang selama ini mendampinginya.
Sementara itu di atas, Lily sedang menikmati malamnya berdiri di dekat jendela. Sekali mengesap coklat panas dari cangkirnya yang masih mengepulkan asap.
Sama seperti Bima, Lily tengah memikirkan kejadian saat setelah Bima menghancurkan bingkai foto pernikahan mereka. Lalu beberapa hari kemudian Lily datang pada Bima setelah tahu kenyataan tentang penyakit Dena.
Lily berfikir keras untuk tidak egois. Bahkan ini mungkin permintaan terakhir Dena. Walaupun pada akhirnya dalam jarak beberapa bulan lagi mereka harus berpisah. Ada atau tidak adanya Dena.
Lily bilang kalau dia sedang rindu akan seseorang, tidak salah kan? Memang benar itu yang di rasakannya. Menunggu Bimbim datang hingga pada akhirnya dia terjebak dalam permainan Dena.
Lily tertawa miris mengingat nasib cintanya. Ternyata Lily memang tidak bisa egois. Harusnya dulu sang ibu menurunkan sifat egois sedikit saja padanya, entah sifat itu dari ibu atau bapaknya.
"Ibu. Kenapa aku terlahir dengan sifat seperti ini? Menurun pada sifat ibu dan bapak yang terlalu baik pada semua orang." setitik air bening turun dari sudut mata Lily.
__ADS_1
"Bapak. Harusnya bapak memarahiku walau sekali saja, supaya aku ingat apa itu rasa sakit hati dan aku bisa memberikannya juga pada orang lain." Kini Lily terdiam menatap bulan yang enggan muncul dari balik awan hitam kelam, sama seperti hati Lily yang juga kelam.