
Azkhan menunggu Ana sepulang sekolah dia sangat penasaran dengan Ana. Sudah lama sebenarnya, tapi setiap Ana memberikan coklat yang di sebut selalu saja Arkhan.
Ana adalah gadis polos yang lugu menurut Azkhan. Manik mata coklat gelap, dengan mata yang lebar mirip anime jepang. Bibir mungil, tapi senyumnya manis. Kulit sedikit kuning seperti gadis korea. Tapi yang membuat Azkhan suka adalah wajah bingung Ana, dan saat Ana menaikkan kacamatanya yang melorot.
Tapi setelah kejadian penolakan Arkhan tadi, Azkhan akan mendekati Ana. Ana suka atau tidak, Azkhan akan berusaha.
Ana berjalan sendirian seperti biasanya. Dia lupa kalau tadi Azkhan memintanya untuk pulang bersama.
"Hei!" Azkhan menepuk pundak Ana. Ana terkejut, dia memegang tangan Azkhan bersiap dengan jurusnya. Memelintir tangan Azkhan. Azkhan merintih kesakitan. Ana melihat siapa yang merintih merasa bersalah.
"Maaf- maaf!" seru ana melepaskan tangan Azkhan. Azkhan mengelus lengannya yang sakit. Terdengar dari kejauhan sana gelak tawa Arkhan bersama beberapa teman yang lainnya dan disana juga ada Syifa dan Ameera. Azkhan kesal.
"Sakit!" rajuk Azkhan dengan wajah memelas.
"Sorry lagian kamu juga salah sendiri ngagetin!"
"Kan tadi aku udah bilang kita pulang bareng!" sela Azkhan. Ana tersenyum saat mengingatnya. Dia kira Azkhan hanya basa-basi.
Mereka pun naik bis, Azkhan membawa Ana ke toko optik dan mengganti kacamata Ana yang kemarin patah. Meskipun Ana menolak dan itu juga bukan kesalahan Azkhan.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu cantik kalau gak pakai kacamata." Ana tersipu malu mendengarnya.
"Tapi kalau aku gak pakai kacamata, aku gak bisa jelas melihat." Azkhan memilihkan kacamata yang berbeda bentuknya dengan yang kemarin Ana pakai.
Setelah dari optik Azkhan mengajak Ana untuk makan.
"Kamu bisa beladiri?" tanya Azkhan. Ana mengangguk.
"Ayahku pelatih Aikido." ucap Ana, menyeruput jus jeruknya yang tinggal setengah.
"Hebat!" ucap Azkhan kagum. Mereka pun melanjutkan acara makan mereka setelah itu Azkhan mengantar Ana pulang ke rumahnya dengan menggunakan taksi.
"Mau masuk?" tanya Ana.
"Umm... Lain kali aja. "Aku pulang ya. Takut mama marah kalau telat." Ana tertawa. Tapi Ana suka karena Azkhan tipe pria yang sayang dengan mamanya. Terbukti saat tadi bercerita Azkhan selalu mengagungkan mamanya. Ana bisa membedakan mana yang sayang mama dan mana yang anak mama.
"Oke kalau gitu. Maksih udah gantiin kacamata aku. Dan juga traktir aku." ucap Ana.
"Iya aku pergi dulu, sampai besok di sekolah." ucap Azkhan tapi dia tidak beranjak sama sekali. Malah asik menatapi wajah manis Ana.
__ADS_1
"Ya sudah sana, katanya mau pulang." Ana tertawa kecil merasa lucu dengan tingkah Azkhan.
Akhirnya mau tidak mau Azkhan pulang, tapi kali ini dia tersenyum senang karena Ana membalas lambaian tangannya.
Sampai di rumah.
Azkhan tidak bisa mengehentikan biburnya yang terus tersenyum dia merasa senang karena bisa jalan dengan Ana.
"cieee yang lagi kasmaran!" goda Syifa. Azkhan hanya menyengir ria lalu berjalan ke kamarnya.
Azkhan langsung mandi karena ini sudah hampir jam lima sore. Dia menatap dirinya di depan cermin, lalu tersenyum sendiri. Tidak menyangka jatuh cinta bisa menyenangkan seperti ini.
"Tapi bagaimana kalau Ana tidak suka aku?"
"Ah tapikan tadi dia bilang akan tetep perjuangin, walaupun yang dia suka Arkhan." Azkhan merasa lesu.
"Tapi aku juga harus perjuangin perasaan aku kan?!"
"Tidak peduli dia suka Arkhan, aku akan buat dia jatuh cinta sama aku!"
__ADS_1
Arkhan tersenyum sendiri. Memantapkan dirinya.