Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 90


__ADS_3

"Siapa kamu?!" tanyaku sambil melempar foto-foto tersebut ke atas meja di depannya.


"Hanya seseorang yang tidak berarti." ucapnya santai. Lalu membaringkan dirinya dengan nyaman di atas sofa.


"Kamu adik aku?"


"Mas gak bodoh kan? Tadi kan aku sudah bilang nenek kita sama!" ucapnya dengan gemas.


Apa!! Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa dan memijit pelipis ku dengan tangan. Rasanya pening sekali. Ada apa ini? Kenapa aku tahu kenyataan ini di saat aku merasa sudah menyukainya?


"Kenapa gak bilang dari awal?" tanyaku.


Dia memutar tubuhnya menjadi tengkurap dan menatapku dari pembaringannya.


"Kalau aku bilang dari dulu, mas Rian pasti akan menghindar kan?"


Aku memalingkan wajahku. Benar! Memang benar aku pasti akan menghindar darinya. Lalu apakah kejadian tadi cuma aktingnya agar aku membawa dia kesini?


"Tapi aku gak bohong soal yang tadi siang. Aku benar di aniaya tadi." ucapnya seperti tahu apa yang aku fikirkan.


"Trus kenapa gak lawan? Kemarin aja kamu berani naik mobil ku saat balapan!"


"Aku berani karena ada mas Rian." ucapnya sambil tersenyum. Aku memutar bola mata malas. Lalu kemudian teringat soal ciuman setelah balapan selesai.


Aku tertawa kecil. "Ciuman pertamaku. Astaga!!"


Dia menoleh, dengan satu alis tipisnya yang terangkat. Lalu matanya membola. "Ciuman pertamaku juga." ucapnya. Aku dan dia terkekeh bersama.

__ADS_1


"Sial!" ucapku.


Flashback off Rian.


"Mas Rian." panggilan seseorang membuat Rian membuka mata. Segera ia palingkan wajahnya ke samping dan mengusap wajahnya yang telah basah.


"Mas ngapain disini?" tanya Dena dengan membawa infusan di tangannya.


"Kamu ngapain keluar?"


"Aku tadi kebangun, mas Rian gak ada." Dena duduk di samping Rian.


"Ayo masuk ke dalam." Ajak Rian, Dena menggelengkan kepalanya.


"Na mau disini sebentar." ucapnya lalu menyandarkan kepalanya pada bahu sang kakak. Dena memejamkan matanya dan menghirup udara malam yang dingin. Lalu kembali membuka mata dan menyelonjorkan kedua kakinya ke depan.


"Sebentar lagi." ucap Dena. Rian hanya pasrah dengan sifat adiknya yang sangat keras kepala.


"Mas..."


"Hemm?"


"Kapan mas Rian mau menikah?" Rian menoleh ke arah Dena yang masih bersandar padanya.


"Calon aja gak ada!" kekeh Rian.


"Cari dong!"

__ADS_1


"Gimana mau nyari kalau lagi nge-date aja ada yang ngintilin?" Rian mencubit hidung adiknya dengan gemas. Dena terkikik.


"Itu karena mas Rian gak pinter milih cewek. Mereka cuma mau karena mas Rian ganteng, kaya. Coba kalau Mas Rian 'B' aja. Mereka mau gak?" jawab Dena tidak mau di salahkan.


"Yang kemaren tuh siapa namanya yang bibirnya merah delima itu?" Dena menunjuk keningnya sendiri, berfikir keras mengingat.


"Delia!" jawab Rian.


"Ah, namanya juga cuma kurang huruf 'M'. Dia keganjenan, gak pantes buat mas Rian." ucap Dena membuat Rian menggelengkan kepalanya.


"Kalau Mira? Dia baik kan?" tanya Rian.


"Mira... yang mana?" tanya Dena tidak ingat.


"Itu, yang waktu kamu gak sengaja numpahin jus ke bajunya." jelas Rian.


"Oooh. Gak ah baik dari mana nya?" kening Rian berkerut menatap sang adik.


"Mas gak tahu kan kalau di kamar mandi dia telfon orang lain dan bilang sayang-sayangan?" Rian hanya diam, ternyata ini alasan di balik kacaunya acara nge-date nya dengan beberapa wanita. Bukan hanya kedua wanita itu tapi yang lainnya juga.


"Terus kenapa gak kamu cariin aja yang lain? Seperti Lily misalnya? Kamu bisa cariin Bima istri. Masa cariin calon kakak ipar buat mas gak bisa."


Dena menatap sang kakak. "Mas suka sama Lily?"


"Enggak lah. Maksudnya kamu bisa cariin yang terbaik buat Bima, lalu kenapa kamu gak kenalin mas sama yang baik juga seperti Lily?"


"Susah, mas." Dena tersenyum. "Susah karena tipe yang mas suka sekarang langka di kota."

__ADS_1


"Idih. Kamu ini. Ayo ke kamar!" ajak Rian. Dena mengangguk dan menerima uluran tangan sang kakak dan mereka kembali ke kamar rawat.


__ADS_2