Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 62


__ADS_3

"Na. Kamu udah sampai?" suara Bima tepat di belakang Lily. Membuat Lily mematung dan berucap syukur di hatinya. Dena terdiam melihat kekacauan yang sama pada diri suaminya. Rambut yang berantakan dan peluh di keningnya, nafas tidak teratur, dan satu hal lagi. Kancing kemeja Bima yang terlepas dari tempatnya. Apa mereka tadi sedang..??


Dena mencoba tersadar, dan tersenyum lalu mengangkat dua buah tas karton di tangannya.


"Aku bawa oleh-oleh." ucapnya dengan nada yang di ayunkan. Bibirnya tersenyum sumringah membuat Lily dan Bima juga tersenyum menormalkan detak jantung mereka yang masih berpacu.


"Mbak gak di suruh masuk nih?" Lily dan Bima tersadar lalu memberi jalan untuk Dena.


Dena menuju ke ruang tengah lalu mendudukan dirinya di sofa dengan nyaman. Sedangkan Lily dan Bima menghela nafas lega.


"Mbak mau minum apa?" tanya Lily setelah mendekat.


"Apa aja lah. Yang ada." Ucap Dena. Lily segera pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat, lalu lima menit kemudian kembali lagi ke ruangan dimana Dena dan Bima duduk di sofa.

__ADS_1


Lily melihat Bima yang sangat berantakan, dalam hati merutuki kenapa sebelum keluar dari kamar Bima tidak merapikan dirinya dulu? Begitu juga dengan Bima yang terdiam menatap Lily. Rambut Lily berantakan! Harusnya ia merapikannya sebelum membuka pintu tadi!


"Ini mbak. Mba pasti capek ya?" tanya Lily sambil menyimpan gelas minuman ke atas meja, kemudian duduk di single sofa dengan nampan di pangkuannya.


Dena hanya tersenyum sambil meraih teh hangat dari atas meja lalu menyesapnya perlahan.


"Lumayan Ly, perjalanan empat jam." ucap Dena, lalu menyimpan kembali gelas di tangannya. "Ini aku bawa oleh-oleh makanan khas dari sana." Dena menyerahkan satu tas karton pada Lily dan tas karton lainnya berisi baju sepertinya.


"Ah ya, aku mau ke kamar mandi sebentar ya." pamit Dena lalu pergi ke arah kamar Bima.


Dena pergi ke kamar mandi dengan hati yang tidak karuan. Dia menguatkan dirinya untuk kuat dan sabar. Ini demi keturunan yang akan Bima dapatkan dari Lily. Cemburu mungkin iya, karena Dena fikir Bima sangat liar bersama Lily terlihat dari bentuk kasur yang tidak karuan. 'Bima yang kalem dan Lily yang polos, tidak di sangka mereka bisa liar seperti ini. Bahkan denganku saja Mas Bima tidak seperti ini!' monolog Dena dalam hati. Lalu tersenyum kecut.


Dena keluar dari kamar Bima dan kembali ke ruang tengah, dia merapikan pakaiannya lalu saat mendongak dia terkejut karena di depannya di suguhi pemandangan yang tidak ia sangka. Mereka sedang berdiri saling berciuman dengan ganas. Mereka berciuman seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Hatinya terasa panas. Bima bilang tidak akan mudah melakukannya dengan wanita lain selain dirinya. Tapi sekarang dengan santainya mereka berciuman, bahkan saat ada dia di rumah mereka. Tapi bagus lah. Setidaknya Dena akan merasa tenang.

__ADS_1


"Ekhemm!!" Dena berdehem. Membuat Bima menoleh ke belakang. Mereka salah tingkah melihat Dena yang keluar tiba-tiba.


Dena tersenyum, lalu kembali duduk di tempatnya semula.


"Aku kesini cuma mau anter oleh-oleh aja." ucap Dena setelah kedua orang itu duduk masih dengan salah tingkah.


"Loh, mbak gak nginep? Lily bisa siapin kamar di atas." ucap Lily menatap Dena. Lalu merasa aneh dengan perkataannya.


"Eh maksud Lily. Kamar mas Bima. Biar Lily di atas."


"Iya. Atau tidur di bawah sama aku? Biar Lily di atas. Kamu gak pa-pa kan Ly?"tanya Bima yang kini mengalihkan pandangannya ke arah Lily.


"I-iya, mas. Lily gak pa-pa tidur di atas." jawab Lily dengan cengiran khasnya.

__ADS_1


"Enggak kok. Aku pulang aja. Lagian kasihan juga supir nunggu di luar. Dia juga pasti capek udah nganterin aku keluar kota beberapa hari ini." ucap Dena.


__ADS_2