Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 173


__ADS_3

Adit kembali ke Surabaya. Dua hari lagi adalah tanggal perkiraan persalinan Lily. Seperti janjinya waktu itu Adit akan hadir saat Lily lahiran dan akan mengadani putranya. Permintaan Lily.


"Mas Adit!" seru Lily mengetuk pintu kamar Adit. Adit baru saja sampai tadi pagi dengan penerbangan pertama.


"Ya." sahut Adit dari dalam.


"Lily masuk, boleh?"Lily masuk setelah mendapatkan ijin dari Adit.


"Kamar mas Adit berantakan, mau beresin baju dulu ke lemari." ucap Adit, Lily duduk di tepi tempat tidur. "Kamu kenapa, kok pucet banget?" tanya Adit khawatir.


"Gak pa-pa, barusan muntah lagi."


"Periksa ke dokter ya!" Adit khawatir. Lily menggelengkan kepala.


"Kata mama kalau bulan ke sembilan emang gini, katanya kayak waktu pertama hamil." Ucap Lily. Adit melihat Lily iba, di saat wanita yang akan melahirkan di dampingi suaminya, tapi Lily berjuang sendirian.


"Kalau ada yang sakit kasih tahu mas Adit ya!" Lily hanya mengangguk lalu membantu membereskan baju milik Adit.


"Mama kemana, mas. Gak lihat dari tadi."


"Gak tau. Tadi cuma bilang mau cari sesuatu di luar." Lily mengangguk.


"Ada apa?" tanya Adit, Lily pasti punya tujuan sampai dia datang ke kamarnya.


"Umm... Anu.."


"Apa?"


"Gak jadi deh. Lain kali aja." Pandangan Lily menangkap sesuatu yang menyembul di tas Adit. Lily mendekat dan mengambil benda tersebut. Matanya membelalak.


"Mas Adit, dapet ini dari mana?" Lily mengangkat benda tersebut, gelangnya yang dulu hilang entah kemana.


"Oh, itu nemu waktu di Jogja. Kenapa?" Adit meneruskan melipat bajunya.

__ADS_1


Lily terduduk di depan Adit matanya berkaca-kaca.


"Ly?" Adit mulai khawatir melihat Lily menahan tangis. "Ada yang sakit ya? yang mana? Ayo ke dokter!" Lily menggeleng.


"Ini..ini gelang Lily, mas!" Adit menatap tak percaya. "Lily kehilangan ini waktu di Jogja. Waktu Lily di pantai."


Rasanya seperti tertabrak mobil saat Adit mendengar penuturan Lily. Bagaimana bisa hidupnya selalu berkaitan dengan Lily. Lily yang ia cinta, lalu menjadi adiknya, dan bahkan sekarang dengan gadis yang dulu ia sukai. Cinta pada pandangan pertama. Adalah orang yang sama!


Adit tertawa miris. Takdir memang sangat kejam memupuskan harapan dan cintanya.


"Ternyata hidup mas Adit memang gak bisa jauh dari kamu! Kita selalu berkaitan Ly!" Lily menatap Adit tidak percaya setelah mendengar ceritanya.


***


Bima terbangun dari tidurnya. Ia merasa gelisah, entah karena apa. Tapi fikirannya terus tertuju pada Lily.


Bima meraih origami yang sudah mulai kusut karena setiap malam ia genggam saat tidurnya, tapi tetap saja tidak bisa menggantikan kehadiran Lily.


Mimpi Bima selama ini tidaklah buruk, tapi Bima merasa sangat bersalah karena belum menemukan Lily. Di dalam mimpinya Bima selalu melihat Lily dengan seorang anak, tapi siapa? Di kejar pun mereka selalu menjauh meski dengan jelas kaki mereka tidak bergerak sama sekali.


*


Beberapa orang berlarian di lorong rumah sakit. Adit tak kalah khawatirnya dengan sang mama yang sedang memegangi tangan Lily.


Lily menahan kesakitannya dengan menggigit bibir bawahnya.


"Maaf, bu, pak. Silahkan tunggu di luar. Suaminya boleh menemani di dalam!" ucap perawat.


Puspa mengangguk ke arah Adit. "Harus ada yang menemani Una. Mama gak kuat Dit. Kamu aja, ya." pinta Puspa, lututnya sudah bergetar karena panik, bahkan tas persiapan berisi baju bayi tertinggal karena saking paniknya.


"Tapi ma..."


"Mama akan ambil tas yang ketinggalan, kamu tolong temani Una, ya. Telfon mama kalau ada apa-apa."

__ADS_1


Adit terpaksa masuk ke dalam, mengenakan baju hijau serta penutup kepala dan masker. Lily menolak untuk caesar selama masih bisa melahirkan normal.


"Mas Adit ngapain disini?" tanya Lily di sela-sela tarikan nafasnya.


"Mama yang nyuruh. Udah kamu fokus aja." ucap Adit sambil mengalihkan tangan Lily dari suster pada lengannya.


"Lagian, udah mau berojol aja masih jalan-jalan ke warung!" Adit merasa kesal saat Lily bersikeras ingin beli camilan ke warung tadi. Lily hanya tersenyum meringis entah merasa sakit atau agar Adit tidak memarahinya.


"Bapak, jangan di ajak bicara terus istrinya!" dokter memperingatkan. Adit hanya tersenyum canggung.


Sudah satu jam lamanya Lily berada di dalam sana. Sebenarnya dari semalam Lily merasakan kontraksi, tapi Lily masih bisa menahannya, dan mencoba untuk berjalan-jalan di sekitaran rumah.


Adit melihat Lily dengan iba. Lily adalah wanita yang sangat kuat. Rasa sayang Adit pada Lily semakin besar saat melihat perjuangan Lily saat itu. Wajahnya kesakitan tapi tidak membuat Lily menyerah.


Lily menggeram menahan sakit pada pinggul dan juga perutnya Bibirnya pucat, keringat membanjiri kening dan lehernya, tangannya menggenggam lengan Adit dengan keras. Sesekali menggigit bibirnya sendiri dan meracau tidak jelas.


"Ayo bu, saat merasa kontraksi tarik nafas lalu dorong ya." ucap dokter yang lain. Dokter Dian sedang menangani pasien lain sebelum Lily. Lily mengangguk, menarik nafas panjang, lalu...


"Aaaaaakhh!!"


"Kenapa mas Adit yang teriak?!" seru Lily di sela mengejannya. Dokter dan beberapa perawat yang membantu tersenyum geli melihat raut muka Adit yang aneh.


"Sakit, ini." tunjuk Adit dengan menggunakan dagu pada tangannya yang kini sudah memerah karena tancapan kuku Lily disana. Keringat sudah membanjiri pelipis keduanya.


"Sakitan Lily yang lagi lahiran mas!" protes Lily, lalu bersiap untuk menarik nafas lagi. Tidak butuh waktu lama. Lily kembali mengejan. Dan...


Owekk...owekk...


"Alhamdulillah." semua orang berseru lega, persalinan Lily termasuk singkat karena hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam sampai anaknya lahir.


Bersamaan dengan keluarnya si bayi, Adit limbung saat melihat tubuh mungil bayi itu yang masih berlumuran darah di angkat oleh dokter dan di simpan di dada Lily dengan hati-hati.


Semua orang terkejut karena tidak menyangka pria segagah Adit bisa pingsan setelah itu.

__ADS_1


Lily mengecup kepala sang anak dengan sayang.


__ADS_2