Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 147


__ADS_3

Bima memutuskan untuk membawa Dena keluar negeri. Meskipun dokter disana sudah menyatakan kenyataan pahit bagi Dena tapi Bima tidak menyerah. Kanker hati yang di idap Dena sudah stadium lanjutan dan kanker itu sudah menyebar ke organ lainnya. Kecil kemungkinan untuk Dena bisa bertahan, hanya obat dan kemoterapi yang bisa memperpanjang usia Dena, tentunya dengan semangat Dena yang besar.


"Mas, jangan nangis dong. Aku juga kuat, masa kamu enggak!" seru Dena dengan senyumannya. Bima menyadari bahwa ia salah, harusnya ia bisa menguatkan Dena, bukan malah membuat Dena bersedih karena melihatnya menangis.


"Maaf, aku bukan suami yang baik selama ini." Dena mengulurkan tangannya menyentuh rahang Bima dan menarik wajah Bima yang tertunduk hingga mereka saling berpandangan satu sama lain. Dena menautkan keningnya pada kening Bima.


"Aku yang minta maaf mas, gak akan bisa menepati janji ku buat hidup selamanya sama kamu." mereka hening beberapa saat, lalu Dena tersenyum geli membuat Bima menjauhkan wajahnya.


"Kenapa?"


"Ingat saat itu mas? Waktu kedua kalinya kita ketemu?" Bima tertawa kecil. Ya. Dia ingat semua saat bertemu dengan Dena.


Singkat cerita. (Gak mau kepanjangan, banyak yang emosi ternyata 😅😅 😅)


Waktu itu Bima menolong seorang gadis saat hendak di lecehkan oleh mantan pacarnya. Dan satu tahun setelah itu mereka dipertemukan lagi dalam acara perjodohan oleh kedua orang tuanya yang saling bersahabat.


Lucunya mereka berdua sama-sama kabur dari acara perjodohan itu tanpa mengetahui satu sama lain.


Saat sampai di kafe tempat pertemuan Dena beralasan ke toilet dan kabur. Dena bersembunyi di dalam mobil Bima, tanpa tahu itu mobil milik siapa. Saat Bima masuk ke dalam mobilnya Bima terkejut karena mendapati seorang penyusup di kursi belakang.


"Ssttt. Jangan berisik nanti ketahuan!" pinta Dena yang masih bersembunyi karena mama dan papa nya mencarinya, tepat di samping mobil Bima.


Dan mereka akhirnya pergi seharian. Dan saling tertawa karena punya nasib yang sama. Mereka masih belum tahu bahwa mereka akan di jodohkan satu sama lain.


Sore saat Bima mengantarkan Dena pulang dan mendapati amukan dari sang mama. Lalu sang mama terdiam dan tersenyum melihat Bima yang baru saja keluar dari dalam mobil.


Dena yang merasa Bima adalah superhero nya karena sudah menyelamatkannya dulu. Semenjak itu Dena selalu mengagumi sosok Bima walaupun tidak mengetahui nama atau apapun tentang Bima. Hanya sebatas ingatannya dengan senyum di wajah Bima yang teduh.

__ADS_1


"Kalau dulu aku tahu kamu yang akan di jodohkan aku gak akan kabur." Dena tertawa terkikik menatap suaminya yang juga tertawa kecil. Terbayang bagaimana wajah bodohnya saat itu.


***


Lily menatap ranjang kosong yang selama ini di tinggalkan. Sudah lama sekali Bima pergi ke luar negeri untuk pengobatan Dena. Sementara perusahaan di ambil alih oleh Adi Mahendra, sang papa mertua.


Rindu sudah pasti Lily rasakan bagaimanapun juga Bima adalah orang yang dia cintai selain Bimbim yang belum jelas keberadaanya.


Hanya sesekali Bima telfon itupun pasti karena paksaan Dena. Karena Lily rasa tidak mungkin Bima berinisiatif menelfonnya duluan.


Keadaan Dena lebih baik sekarang, terlihat dari setiap video call yang mereka lakukan wajah Dena lebih berseri. Lily merasa bersyukur dan bahagia karena itu.


***


Mendung menghiasi langit siang ini. Tampak beberapa orang dengan pakaian serba hitam masih berdiri di depan gundukan tanah yang jelas-jelas masih baru dengan kelopak bunga-bunga berwarna-warni di atasnya. Tanah pemakaman yang sangat luas itu terlihat kosong, dan hanya menyisakan mereka yang masih meratapi nasib dari sang jiwa yang baru saja meninggalkan raganya.


'Sebesar itu mas Bima menyayangi mbak Dena. Tentu saja karena hanya dia yang mas Bima yang cinta!' monolog Lily di sertai lelehan hangat di pipinya. Adit merangkul pundak Lily memberinya kekuatan.


Bima menatap nanar pada gundukan tanah merah di hadapannya, air mata sudah tidak lagi menetes dari matanya, tapi hatinya yang terluka, dan hampa melihat sosok yang selama ini menjadi penguat di dalam kehidupannya kini tertimbun di dalam tanah. Sepi sendirian untuk Dena di bawah sana, dan untuk Bima yang memang hatinya sudah hancur sedari dulu.


Bima tidak tahu lagi apakah setelah kepergian Dena ia, bisa menjalani hidupnya dengan baik. Bagaimana ia bisa melewati hari-hari terberatnya jika sang penguat hatinya bahkan sudah pergi mendahuluinya.


Kosong. Hampa. Rapuh. Dan ingin mengikuti jejak Dena saja rasanya.


Tubuh Bima limbung dan terjatuh tepat di atas tanah merah itu, membuat beberapa orang panik dan membawa Bima ke dalam mobil. Bima sudah terlalu lama berdiri disana, maratapi nasib sang istri yang kini sudah tidak akan merasakan kesakitan lagi.


Ratih dan Adi memutuskan untuk membawa Bima ke kediamannya, rumah mama dan papa nya setidaknya tidak akan membuat Bima mengingat hal tentang Dena sementara waktu. Lily mengikuti saran dari sang ibu mertua. Bima akan lebih baik di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Adit dan Roman membantu membawa Bima hingga ke mobil dan mengantarnya pulang.

__ADS_1


Tinggallah sekarang empat orang yang berdiri di sana. Masih di tanah pekuburan, dengan seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menangis meraung-raung di atas kursi roda, karena tubuhnya lemas dan tidak bisa berdiri dengan tegap karena kepergian sang anak. Menolak untuk di bawa pulang, dan kini dia disini untuk mengantar kepergian sang buah hati.


Tepat di sampingnya berdiri seorang pria dengan postur tubuh gagah meskipun kini usianya sudah di atas lima puluh tahun. Sama terpuruknya dengan sang istri yang harus merelakan satu-satunya pusat kasih sayang dan pewaris tahta di dalam keluarganya.


Sedangkan di belakang mereka berdiri dua orang dari dua generasi berbeda. Rian dan sang nenek yang melihat pemandangan miris dan iba kedua orang di depannya.


"Kenapa pah, anak kita.. hiks.. anak kita..." Ana William, mama dari Dena, menangis meratapi nasib sang anak yang telah pergi mendahuluinya padahal Dena masih muda, tapi umur tidak ada yang bisa menebak bukan?


Ana terus menangis dengan sesekali menepuk dadanya yang sesak. Sang suami hanya bisa menggenggam erat tangan istrinya yang semakin lama semakin kecil karena terlalu larut dalam kesedihan, mengingat sang anak yang menutupi penyakitnya membuat mereka merasa menjadi orangtua yang buruk.


"Apa salah kita pah? Dena.. Dena..." isak Ana yang terus menangis dengan air mata yang tidak pernah berhenti mengalir dari sana. "Apa salah kita sehingga Dena pergi lebih cepat?"


Selalu sama yang di pertanyakan membuat Rian sedikit geram dengan pertanyaan sang ibu yag menurutnya tidak perlu di pertanyakan lagi. Sudah jelas menurutnya. Tidak ingatkah wanita itu bahwa dulu...


"Apa anda tidak juga mengerti. Nyonya Ana Kamila Sasmitha?" suara itu membuat Ana dan sang suami menoleh ke belakang.


"Kamu... siapa?!" dengan sisa kekuatan yang dia miliki Ana bertanya, karena pasalnya sopir sang anak mengetahui nama lengkapnya sebelum menikah dengan pria yang berdiri di sampingnya. Tidak ada yang tahu. Nama itu adalah rahasia di masa lalunya.


"Hanya orang yang tidak pernah anda harapkan, nyonya." Lalu tanpa permisi Rian berlalu dari sana, tapi langkahnya terhenti saat sang nenek menahan lengannya.


Ana dan sang suami tidak mengerti dengan semua ini.


"Dia Adrian, Ana! Anak yang sudah kamu tinggalkan!"


Seperti petir yang menyambar di siang hari yang cerah, pernyataan sang ibu membuat Ana seketika terdiam, pandangan matanya kosong menatap pemuda gagah di hadapannya. Hingga kemudian ia tak tahu lagi apa yang terjadi, karena seingatnya sang suami terus memanggilnya hingga ia tak mendengar suara itu lagi. Semua gelap. Ana tak sadarkan diri.


***

__ADS_1


__ADS_2