
Bima tertegun, perkataan Lily membuatnya frustasi. Jadilah dia disini di klub malam, dengan di temani beberapa botol minuman di depannya yang sudah tiga di antaranya kosong dan tergeletak tak beraturan. Bahkan Bima sudah meracau tidak jelas.
"Lily..!" Panggil Bima, tapi yang di panggil juga tidak ada disana.
Bima sudah mabuk berat, kepalanya pusing, tenggorokannya terbakar, tapi dia masih belum berhenti untuk minum.
Bima mencoba membuka matanya lebar-lebar saat melihat sosok yang di harapkannya muncul. Terakhir kali begitu kan kalau tidak salah. Lily datang dan membawanya pulang ke rumah.
"Lily?!" Bima tersenyum lebar saat orang yang di lihatnya mendekat. Dan segera menarik tangannya hingga jatuh di pangkuannya. Menciumnya dengan beringas, tanpa malu dengan sekitar mereka yang sangat ramai dengan orang-orang, hingga Bima dengan kurang ajarnya meremas bagian dada wanita di dalam pangkuannya.
Matahari bersinar dengan sangat terik. Bima masih tertidur di sebuah kamar kecil berukuran tiga kali empat. Hanya ada ranjang dan lemari kecil di dalam sana. Juga beberapa foto yang menggantung di dinding.
Sinar matahari menelusup di antara tirai yang menggantung, tepat mengenai wajah Bima yang mulai terusik dengan rasa panas yang mulai menjalar di wajahnya.
Bima menggeliat, merasakan tubuhnya yang entah kenapa terasa sangat lelah, kepalanya juga masih terasa pusing.
Lily!
Seketika Bima membuka matanya, melihat ke sekeliling. Bukan tempat yang ia kenal, lalu tertunduk melihat dirinya yang hanya terbalut selimut. Bima terkejut karena dia sama sekali tidak memakai apapun.
Apa yang terjadi?Kenapa aku disini? Siapa yang membawaku?
Berbagai macam pertanyaan terlontar dari dalam fikirannya. Bima menggeleng pelan, lalu menjambak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Pintu terbuka, seorang wanita masuk dengan pakaian yang sangat seksi. Dengan perona pipi yang merah dan bibir dengan lipstik merah menyala. Terlihat masih muda hanya saja dandanannya sangat menor yang terlihat. Bibirnya mengulas senyum melihat pria di depannya sudah bangun.
"Siapa kamu?" tanya Bima saat wanita itu mendekat. Dia hanya tersenyum, lalu menyerahkan sebuah bungkusan makanan ke hadapan Bima.
"Makan dulu bang. Abang pasti cape dan lapar kan?" senyum manis wanita itu mengembang, tapi Bima tidak memperdulikannya.
"Kenapa aku disini?"
Bima sudah tidak ingin bertanya apa yang dilakukan semalam, karena sepertinya sudah sangat jelas dengan melihat wanita seksi yang tengah berdiri dan tersenyum di hadapannya.
"Ya semalam abang mabuk." ucapnya lalu menyerahkan semua baju milik Bima.
"Tapi tenang kok. Kita juga gak ngapa-ngapain. gue juga gak akan minta bayaran sama abang!" ucapnya tenang lalu duduk di pinggir tempat tidur dan menyulut sebatang rokok. Bima menoleh dengan heran ke arah wanita itu. Wanita itu menawarkan rokok dari dalam bungkusan pada Bima. Bima menggeleng.
"Ya semalam sih sebenernya kita hampir aja... Kalau bukan si kampret itu yang telfon gue, ogah deh datang kesana dan nganggurin badan seksi elo bang. Sayangnya yang dia tawarin gede banget duitnya!" ucapnya lalu menghembuskan asap rokok yang mengepul dari dalam mulutnya, seketika ruangan itu berkabut karena asap rokok, membuat Bima terbatuk.
Wanita itu bangun, lalu membuka jendela dengan lebar membuat asap rokok itu terbang keluar.
Bima memakai kembali pakaiannya tepat di hadapan gadis itu.
"Abang ini kayak orang baik-baik, tapi kok mainnya di klub. Lagi ada masalah ya bang?" Bima hanya diam tidak menjawab, fikirannya kembali pada ucapan Lily kemarin.
"Coba deh abang fikirin lagi siapa yang abang suka? Dena. Lily. Una. Abang itu harus pilih salah satu bang. Kadang cinta itu rumit ya bang. Semuanya kita sayang, tapi pada akhirnya hanya satu orang yang bakal bener-bener ada di hati kita. Tapi nih ya bang, kalo gue kira nih yang abang suka itu Lily bang, sepanjang malam abang ngigau yang banyak disebut nama Lily terus..."
__ADS_1
"Bisa gak sih jangan berisik!" ucap Bima kesal karena gadis itu masih tetap berceloteh, rasanya sangat mengganggu di telinganya.
Mulut gadis itu mengerucut lucu saat mendapat bentakan dari pria tampan di hadapannya.
Bima mengambil dompet dari saku celana dan mengeluarkan semua uang cash yang ada di dalam sana, lalu menyimpannya di atas kasur.
"Eh bang, gue kan gak minta bayaran!" seru gadis itu sebelum Bima beranjak dari sana.
"Anggap aja itu buat ganti sarapan."
"Tapi abang juga gak makan bang, lagian harganya juga cuma sepuluh rebu." Bima hanya melambaikan tangannya. Lalu membuka pintu dan pergi dari sana.
Wanita itu tersenyum melihat jumlah uang yang berada di atas kasur, mengambilnya lalu menghitungnya. Bibirnya mengulas senyum.
"Baru kali ini ada yang gantiin duit sarapan satu juta lebih!" bibirnya mencebik, lalu membuat uang itu seperti kipas dan mengipasi dirinya dengan uang tersebut.
"Gara-gara si Edi gue gak bisa nikmatin cwo ganteng tadi. Akhh dasar sial! Tapi lumayan sih, seenggaknya gue udah..." Gadis itu tertawa sendiri merasa geli dengan apa yang di perbuatnya semalam. Setidaknya walaupun dia tidak bisa memperkosa Bima dia sudah sempat merasakan 'milik' Bima yang berurat dengan mulutnya, sebelum hpnya berbunyi dan mengharuskan dia pergi melanjutkan pekerjaannya di luar.
Bima menuruni tangga di sebuah bangunan losmen itu dengan tergesa. Di parkiran dia tidak melihat mobilnya.
"Bang!" suara seorang wanita berteriak. Bima mencari asal suara itu dan mendapatkan gadis yang tadi sedang melongokan kepalanya dari jendela di atas. "Mobil abang masih di klub, gue gak bisa bawa mobil, dan gak tau mobil abang yang mana!" serunya dari atas.
Bima segera berlalu untuk menyetop taksi dan kembali ke klub untuk mengambil mobilnya.
__ADS_1