Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 200


__ADS_3

Sudah seminggu ini Lily dan Yumna tinggal di Jakarta. Ratih dan Adi sangat senang dengan kedatangan Lily. Rumah menjadi ramai dengan adanya Yumna yang lucu dan menggemaskan.


Awalnya Bima merasa keberatan saat Lily memintanya untuk menunjukan tempat-tempat yang mungkin membuat ingatannya akan cepat pulih.


"Bim, aku ingin cepat ingat semuanya. Kalau benar cerita kamu tentang hubungan kita dulu, aku ingin cepat ingat kenangan manis tentang kita." Hati Bima terasa tercubit, dia tidak ingat banyak cerita tentang kebersamaan mereka. Dan itu semua salahnya.


"Hubungan kita gak seharmonis yang kamu bayangkan, Una!"


"Gak pa-pa. Setidaknya aku ingat masa lalu aku." Mata Bima berkaca-kaca mendengar penuturan Lily.


Hari ini Bima membawa Lily ke pemakaman. Dena. Sudah sangat lama Bima tidak berkunjung kesini.


Bima memperkenalkan Dena pada Lily, lalu setelah beberapa saat lamanya mereka disana Bima membawa Lily ke rumah mereka.


Pak Dani masih setia menjaga rumah itu dan menyongsong kedatangan Lily dengan sangat bahagia.


"Mbak Lily? Ya ampun. Ini beneran mbak Lily?" tanpa sadar pak Dani membawa tangan Lily untuk berjabat tangan, Lily hanya terdiam bingung membuat pak Dani juga bingung.


"Ini Pak Dani satpam kita." ucap Bima.


"Halo pak."


"Pak Dani. Maaf kalau Lily tidak ingat, Lily kecelakaan dan tidak ingat semuanya." terang Bima. Pak Dani merasa iba setelah sekian lamanya sang bos mencari dan sekarang penderitaan sang bos masih belum berakhir juga.


Bima menbawa Lily ke dalam rumah. Masih tetap sama seperti dulu. Bahkan sekarang foto pernikahan mereka juga terpajang di dinding ruang depan dengan sangat indahnya.


"Jadi kita benar-benar menikah dulu?" tanya Lily mengusap bingkai foto pernikahan mereka.


"Iya, kita menikah atas permintaan Dena."


"Aku jadi yang kedua! haha..." Lily tersenyum kecut.


"Kenapa aku mau menikah jadi yang kedua dulu?" seperti bertanya pada diri sendiri.


"Karena kamu terlalu bodoh dan terlalu memikirkan orang lain." ucap Bima.


Lily merasakan sakit pada kepalanya.


"Ahh..." Lily memegangi kepalanya dengan kedua tangan. "Sakit..!"


"Una kamu kenapa?" Bima khawatir melihat Lily, dia segera menangkap tubuh Lily yang limbung.


"Sakit..." Lily pingsan, Bima mengangkat Lily keluar. Bima berteriak pada pak Dani meminta di bukakan pintu mobil. Pak Dani segera melaksanakan perintahnya. Bima membawa Lily ke rumah sakit.


Ratih dan Adi segera ke rumah sakit saat Bima menelfon mereka. Yumna bersama kepala pelayan tinggal di rumah.


"Harusnya kamu gak bawa Una ke rumah kalian!" Ratih memarahi Bima yang kini duduk menunduk di sofa.


"Bima gak tau kalau bakal kayak gini ma! Una yang minta tujukin tempat..."


"Kalau Una syok gimana? Kan dokter udah bilang, Una harus dapat terapi untuk bisa ingat semua nya lagi? Kamu gak bisa seenaknya aja bawa Una keluar!" Ratih memukul lengan Bima beberapa kali, bahkan anaknya meringis kesakitanpun Ratih tidak peduli. Ratih panik karena Lily pingsan tadi. Adi mengusap lembut punggung tangan Ratih untuk menenangkannya.

__ADS_1


Dada Ratih naik turun dia terlalu emosi dengan Bima yang seenaknya saja membawa Lily keluar.


"Eughhh..." Lily melenguh, Bima, Ratih, dan Adi bangun dan menghampiri Lily yang sudah sadar.


"Una sayang kamu gak pa-pa?" Tanya Ratih. "Maaf sayang kalau aja Bima gak bawa kamu pergi kamu pasti gak akan pingsan!" Ratih mengusap wajah Lily dengan sayang.


"Aku yang salah ma. Aku yang minta Bima buat anter ke tempat-tempat itu. Maaf bikin mama dan papa khawatir." ucap Lily lalu beranjak bangun di bantu Ratih.


"Apa kepala kamu masih sakit sayang?" Lily menggelengkan kepalanya.


"Aku mau pulang ma, gak mau disini."


"Tapi dokter belum ijinin, sayang!"


"Aku mau tidur di rumah saja!"


"Tapi. Sayang..."


"Please ma. Aku gak mau disini. Sakit." ucap Lily terisak.


"Papa panggil dokter!" seru Ratih pada sang suami dan segera perintah itu di laksanakan.


"Kamu juga kenapa diem aja!" Ratih melotot pada Bima, Bima bingung apa yang harus dia lakukan.


"Ambilkan Lily minum!"


"I-Iya ma!" Bima segera mengambilkan Lily minum dan memberikannya pada Lily.


"Sayang kepala kamu sakit lagi?" tanya Ratih setelah Lily selesai minum. Lily menggelengkan kepalanya.


Dengan pertimbangan dari dokter Lily di perbolehkan pulang. Dua hari lagi Lily harus terapi, semoga saja ingatannya akan cepat kembali.


*


Bima mengantarkan Lily untuk terapi. Yumna di tinggal di rumah bersama Ratih. Keadaan di rumah sakit memang tidak akan baik jika membawa anak balita seperti Yumna.


Suara telfon berdering. Bima melihat pada layar di hpnya.


"Aku angkat telfon dulu. Kamu tunggu disini ya!" Lily mengangguk. Bima pergi mencari tempat yang tenang tapi juga tidak jauh dari tempat Lily duduk menunggu.


Lily memperhatikan semua orang yang berlalu lalang di depannya, tiba-tiba dia melihat seorang gadis yang berlari mengejar seorang pria yang membawa sebuket bunga indah.


Lily bangkit, entah kenapa dia sangat penasaran dengan kedua orang itu. Mereka berjalan dengan sangat cepat hingga membuat Lily juga harus melangkah dengan cepat.


Lily terus mengikuti mereka, lorong demi lorong ia lewati. Ia merasa sepertinya pernah melewati lorong ini. Lorong khusus pasien kanker.


Lily terus berjalan mengikuti mereka hingga akhirnya mereka masuk ke dalam sebuah ruangan.


Lily terdiam, melihat handle pintu di depannya. Ragu.


"Una!" Lily terkejut saat bahunya di sentuh seseorang. Bima.

__ADS_1


"Ngapain kamu disini?" tanya Bima heran. Tadi saat Bima baru saja menutup telfon Bima melihat Lily sudah berjalan di ujung lorong. Bima mengikuti Lily.


"Aku, tadi ngikutin orang." ucap Lily.


"Siapa?"


"Gak tahu." Lily menggelengkan kepalanya.


Bima menatap tulisan di atas pintu. Ruangan yang sama saat Dena di rawat dulu. Mungkinkah Lily...


Bima membuka pintu ruangan. Beberapa orang yang berada di dalam sana menoleh pada mereka.


"Maaf, anda punya keperluan disini?" tanya seorang dokter yang sedang memeriksa pasien.


"Maaf dokter, istri saya tadi melihat seseorang masuk ke dalam sini."


"Tapi tidak ada yang masuk kesini dari tadi." dokter muda itu menerangkan.


"Ada orang yang kamu cari?" Tanya Bima pada Lily. Lily mengedarkan pandangannya ke dalam lalu menggelengkan kepala.


"Maaf dokter. Kami permisi." ucap Bima lalu kembali menutup pintunya. Lily memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Bima membawa Lily duduk di kursi yang berderet.


"Tadi aku lihat ada yang lewat dan masuk ke dalam sana." ucap Lily tangannya masih setia memijat kepalanya.


"Mungkin itu salah satu ingatan kamu. Ayo, kita harus ketemu dokter!" Ajak Bima meraih tangan Lily. Lily menahan tangan Bima.


"Kenapa kamu tadi bilang aku istri kamu?" tanya Lily.


"Karena aku masih cinta sama kamu." ucap Bima membuat pipi Lily terasa panas.


"Ayo!" ajak Bima sekali lagi. Lily menurut mengikuti langkah Bima dengan dada yang berdebar.


......................


......................


Haduhhh maaf nih yang kecewa karena bab nya ternyata jadi sebanyak ini. Yang bilang ini cerita belum tamat juga. Kayaknya Thor belum rela berpisah 😅😅😅, Thor masih pengen mereka bucin dulu boleh kan???!!! Boleh ya, boleh... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Sebelumnya malah thor kira bab 200 bakal dah tamat, tapi kok ide lain muncul gitu dan kayaknya sayang banget kalau gak di lukiskan dengan kata-kata 😅.


Yang bilang ni cerita sinetron banget, Oke lah emang inspirasi datangnya dari mana-mana ya. Bisa dari sinetron, kisah nyata, kisah ku menangis, dari novel lain dan dari lagu. Aaaah pokoknya dari mana-mana. Inspirasi kan siapa yang tau ya.


Tapi swear, thor mah gak suka sinetron, sukanya malah upin ipin 🤣🤣🤣 yang gak bikin puyeng, eh tapi malah bikin orang lain puyeng ngikutin cerita Bily😅 peace ahh ✌.


Jangan lupa terus tinggalkan jejak ya, komen, like dan vote biar thor terus semangat buat namatin cerita ini.


Gak lupa thor terus ingetin buat jaga kesehatan selalu. Ingat 3M.


-Menjaga jarak.


-memakai masker.

__ADS_1


-mencuci tangan.


Bye-bye....


__ADS_2