
Lily terbangun, dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu berdiri masih dengan keadaan bingung. Melihat ke sekitarnya.
'Ah aku lupa! ini kan rumah ku sendiri.'
Rumah sementara maksudnya Ly! Ingat! (author).
"Iya thor! Bawel! Ganggu momen indah aja Thor nih!" (kesal)
"Thor mah selalu aja, gak bisa gitu Thor buat aku senang gitu? Kisah cinta aku juga pengen sama kayak mbak Dena dong, bahagia sama pasangannya!" (Eh Lily protes 😒)
Calm down, baby. Akan ada saatnya, tapi nanti yeeee. Udah ah author mau ngetik lagi! Debat sama kamu mah nanti biar author aja yang jadi tokoh utamanya disini. Mau kamu jadi dayangnya author aja?! Disini author yang pegang kendali loh!
Lily tersenyum. Lalu merenggangkan otot-otot di tubuhnya. Dia melangkahkan kaki menuju kamar mandi, setelah itu turun ke bawah untuk membuat sarapan.
Betapa terkejutnya Lily saat melihat sesuatu di ruang tamu. Seperti sepatu laki-laki.
"Apa ada pencuri?"
Lily mengambil sapu yang tak jauh darinya. Dia berjalan mengendap-endap dengan langkah yang pelan. Menahan nafasnya sendiri karena Lily juga merasa takut.
Lily terus berjalan sambil mengacungkan gagang sapu yang di pegangnya. Dadanya naik turun karena ternyata kaki yang dia lihat itu bergerak perlahan.
__ADS_1
"Hei mau apa kamu! Kamu mau nyuri ya!!" Lily menutup matanya sambil tangannya mengayunkan gagang sapu beberapa kali.
"Awww. Hei apa yang kamu lakuin?! Ini aku!" teriak suara pria itu yang tidak lain adalah Bima. Tangannya ia gunakan untuk melindungi wajahnya dari amukan Lily.
"Lily!!" Bima berhasil merebut sapu yang ada di tangan Lily kemudian melemparnya ke lantai. Sedangkan Lily hanya terbengong melihat siapa orang yang ia pukuli.
"Pak Bima?!" Lily langsung menundukan pandangannya.
"Ya ampun. Gawat! Harusnya tadi aku lihat dulu!"
"Aww." pekik Bima saat meraba tangannya yang pasti memar sekarang.
"Aku gak bawa kunci kamar. Lagian kunci cadangan dimana?" tanya Bima kesal sambil memijit lengannya.
"Di kamar, pak."
"Ambil aku mau mandi!"
"Iya." Lily segera berlari ke atas untuk mengambil kunci kamar Bima dan segera turun untuk menyerahkan kunci tersebut.
"Bapak mau aku buatkan sarapan?" teriak Lily sebelum Bima masuk.ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Terserah!" setelah itu Bima masuk ke dalam kamar.
Lily berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas.
"Aku buat nasi goreng aja deh! Masak yang lain juga gak akan keburu." ucapnya sambil mengambil telur dan udang serta bumbu yang di pelukan dari dalam sana.
Sementara itu di kamar. Bima sedang melihat tangannya yang memar akibat ulah Lily.
"Ya ampun. Masih pagi udah kena pukul!" gumam Bima kesal lalu Bima memutuskan untuk mandi.
Setelah mandi Bima memakai pakaian kerjanya dengan hati-hati karena di bagian lengan kanannya terasa nyeri.
"Sarapan dulu pak!" panggil Lily saat melihat Bima keluar dari kamarnya. Bima masih terlihat kesal, membuat Lily tidak berani menatap bos sekaligus suaminya itu.
"Atau bapak mau sarapannya di bekal ke kantor saja?"
Bima mendekat kemudian duduk tepat di depan Lily.
"Ambilkan aku sedikit saja!" ucap Bima dingin. Lily mengambilkan setengah piring nasi goreng tersebut seperti yang di perintah Bima.
Bima terpaksa sarapan disana karena percuma juga kalau pulang ke rumah Dena dia akan terlambat masuk ke kantor, apa lagi pagi ini ada meeting penting di luar.
__ADS_1