Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 193


__ADS_3

"Ro- Roman?" Nila tergagap. Tanpa mempedulikan buah jeruk itu lagi Nila bangkit lalu berbalik dan berlari menjauh.


Roman berusaha berlari mengejar Nila dan memanggil namanya beberapa kali, tapi Nila tidak mendengarkan, dia terus berlari.


"Nila. Please stop!" teriak Roman, kejadian itu tidak luput dari banyaknya mata yang memperhatikan mereka. Tapi Nila tidak mau berhenti. Dia terkejut dan takut saat melihat Roman ada disana. Bagaimana bisa laki-laki itu ada disini?


"Nila, please, berhenti. Aku mau bicara sama kamu!" Akhirnya Roman bisa menyusul Nila dan mencekal tangan Nila. Dia tidak peduli sudah berada di tengah hujan.


"Nila please, kita harus bicara!" teriak Roman mengalahkan suara hujan.


"Gak ada yang harus di bicarain lagi Rom!" Nila berusaha melepaskan cekalan tangan Roman, tapi Roman tidak ingin kehilangan Nila lagi. Dia menyentak tangan Nila dan menarik tubuh Nila ke dalam pelukannya.


"Please, kita harus bicara! Aku cari kamu selama ini sayang! Please!"


Sayang! Nila yang sedari tadi menahan air matanya kini sudah tidak tahan lagi. Air matanya menetes tersamarkan dengan air hujan.


Nila menangis tersedu dan mencoba untuk melepaskan dirinya dari Roman, tapi pria itu tidak ingin melepaskan Nila lagi ini. Cukup sekali melakukan kesalahan dan kali ini dia tidak akan melakukan hal yang sama!

__ADS_1


"Lepas, Rom!"


"Enggak!" tolak Roman saat Nila berusaha melepaskan diri. "Enggak akan pernah, Nila!" seru Roman.


"Maafkan aku, Nila. Karena ketidak berdayaanku dulu kamu harus menderita!" Nila semakin terisak di dalam dekapan Roman, dia tidak lagi melawan atau berusaha melepaskan diri. Hanya diam menerima perlakuan Roman.


***


Celia duduk di atas sofa memperhatikan Bima yang sedari tadi memeluk Yumna di atas pangkuannya, di sampingnya Lily masih setia dengan mimpinya.


Bima masih terus berceloteh, mencoba tertawa meski sebenarnya sulit. Hal yang di butuhkan Lily adalah cerita indah bukan kesedihan. Sesekali.Yumna menimpali dengan celotehan khas anak kecil. Tidak ada lagi kesedihan di matanya, mungkin karena kini Yumna bersama dengan sang papa.


Celia menatap jengah pada tiga orang di depannya, mereka seperti tidak pernah menganggapnya ada.


"Sayang!" Celia mendekatkan dirinya pada Bima, merangkul bahu calon suaminya dengan posesif, hingga Yumna mendelik ke arahnya tak suka.


Yumna tidak suka papanya di sentuh oleh sembarang wanita! Celia hanya tersenyum kecut saat mendapati tatapan itu!

__ADS_1


"Ayo kita pulang, kamu sudah beberapa hari disini. Lusa adalah hari pernikahan kita!" Bima terdiam. Benar. Lusa adalah hari pernikahannya dengan Celia dan Bima hampir melupakan itu!


"Ayo sayang, kamu harus siap-siap bawa barang kamu dari rumah Adit dan kita pulang sore nanti."


"Papa mau pulang?" Bima terdiam menatap mata jernih sang putri. Ia bingung harus menjawab apa.


"Papa pulang, Yuma sama siapa?" tanya gadis cilik itu dengan tatapan sendu. Bima tidak tahan melihatnya.


"Gak. Papa gak akan pulang." ucap Bima membuat mata Celia melotot dan membuat Yumna bersorak kegirangan.


"Sayang gak bisa gitu dong, kamu..."


"Kita bicara di luar!" Bima mendudukan Yumna di atas kursi. "Yumna diam dulu sebentar, papa mau bicara sama tante Celia ya." ucap Bima lembut pada sang putri yang di balas dengan anggukan lucu Yumna.


"Maksud kamu apaan sih kita gak akan pulang." tanya Celia tidak sabaran, Bima baru saja menutup pintu ruangan Lily.


"Kamu gak mau nikah sama aku? Gak bisa gitu dong! pernikahan kita gak bisa batal. Semua udah siap. Undangan udah di sebarkan, Bima!Kamu mau mempermalukan keluarga aku, hahh!" Celia meradang.

__ADS_1


Bima membawa calon istrinya untuk duduk.


"Denger Cel. Aku akan pulang, tapi enggak hari ini. Aku janji akan pulang besok. Kalau kamu mau, pulang sendiri saja ya. Ijinin aku buat menghabiskan satu malam lagi sama anakku!" mohon Bima. Celia sudah memerah mukanya, mandengar Bima lebih memilih anaknya.


__ADS_2