Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 194


__ADS_3

"Terserah! Tapi awas aja kalau kamu gak dateng jangan harap perusahaan kamu akan selamat!" tunjuk Celia tepat di depan wajah Bima. Lalu Celia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Bima.


Bima mengusap rambutnya frustasi. Ia akan mengejar Celia, tapi Yumna membuka pintu dan memanggilnya. Bima mengurungkan niatnya untuk mengejar Celia, dia memilih masuk kembali ke dalam ruang rawat Lily dengan Yumna di gendongannya.


Adit melihat kejadian barusan, dia hanya memperhatikan dari ujung lorong. Tadinya Adit ingin menjemput Yumna. Celia dengan muka merah padam berjalan dengan langkah yang kasar melewatinya, seakan ingin menghancurkan bangunan ini dengan kaki indahnya.


"Well, sang putri nangis disini rupanya!" ucap Adit membuat Celia menghapus air mata di pipinya. Mereka ada di taman rumah sakit. Hujan yang sudah berhenti sedari tadi meninggalkan genangan air yang cukup besar di depan mereka. Celia membuang pandangannya ke samping.


"Mau apa lo disini? Mau ketawain gue?!" cecar Celia. Adit hanya mendecih tidak suka, Celia memang selalu berkata dengan nada kasar padanya. Adit mendudukan dirinya agak jauh dari Celia, dia duduk di ujung bangku panjang yang sama.


"Siapa yang mau ketawain elo? Gue cuma nyapa!"

__ADS_1


"Gak percaya gue! elo selalu pengen lihat gue lagi terpuruk kan. Iya kan? Dan elo puas sekarang lihat gue nangis, iya?" Sekarang Celia menatap geram pada Adit. Adit hanya mengangkat kedua bahunya cuek, membuat Celia semakin geram.


"Mendingan elo pergi deh! Tinggalin gue sendiri!" usir Celia. Dia semakin geram karena Adit tidak menggubrisnya.


"Adit, elo budek ya!" teriak Celia. Adit hanya tersenyum karena baru kali ini Celia memanggil namanya dengan benar, karena biasanya hanya 'hei', 'kamu', 'elo' dan sebagainya yang tidak pernah masuk akal dan kriteria dari seorang Adityo Ramadhan.


"Dasar gila lo! Gue panggil budek elo gak marah? Harusnya elo marah! Harusnya elo marahin gue! Dasar laki-laki semua sama aja! Selalu bikin gue jadi kesel! Selalu bikin mood gue gak baik! Kenapa coba ada makhluk yang namanya laki-laki kalau di ciptain buat nyakitin hati wanita? Harusnya tuhan gak usah ciptain laki-laki kalau cuma buat wanita patah hati, kalau cuma buat wanita selalu menunggu, dan harus sabar! HARUSNYA KALIAN MUSNAH AJA DARI MUKA BUMI INI!!"


"Udah, puas teriaknya?" tanya Adit tanpa ekspresi.


"Gak! Gue belum puas!" Celia mengalihkan pandangannya dengan cepat ke samping.

__ADS_1


"Ikut gue." Adit beranjak dari duduknya.


"Gak mau!" Tolak Celia tetap duduk di tempatnya, tapi Adit memang sudah tuli sepertinya, dia menarik tangan Celia menuju ke tempat parkir mobilnya.


"Elo beneran budek ya! Gue bilang gak mau, Dit!" sergah Celia mencoba menarik tangannya.


"Tapi gue mau!" ucap Adit, lalu tetap menarik tangan Celia dan memaksanya masuk ke dalam mobilnya. Adit tersenyum tipis saat Celia tidak menolak lagi.


Mobil melaju dengan kecepatan konstan, beruntung tidak macet karena banjir yang sempat mengenangi jalanan sudah surut sedari tadi.


Celia melipat kedua tangannya di depan dada, bibirnya mengerucut, sesekali terdengar gumaman tak jelas, membuat Adit tersenyum tipis hampir tidak terlihat.

__ADS_1


Celia terus bergumam meracau tidak jelas hingga akhirnya mereka sampai di suatu tempat.


__ADS_2