
Liburan sekolah telah tiba. Bima mengajak keempat putranya untuk berlibur ke Jogja selama satu minggu.
Pakdhe Yudha sekeluarga sangat senang dengan kedatangan keluarga Bima. Begitu juga anak-anak yang sekarang sedang berlarian di halaman yang luas. Budhe Nani yang punya sifat panik dan khawatir tidak hentinya mengejar si kembar, takut mereka jatuh dan terluka. Tapi si kembar justru semakin menjadi-jadi, mereka naik pohon jambu, lalu beralih ke pohon mangga. Bermain ayunan dengan berdiri, dan membuat ikan milik pakdhe jadi mabuk karena ulah mereka.
"Arkhan! Azkhan!" teriak Lily untuk ke sekian kalinya. Arkhan dan Azkan berhenti berlari, namun tak sampai tiga detik mereka kembali kabur ke samping rumah.
Budhe Nani tergopoh-gopoh dia terlihat lelah.
"Budhe, sudah jangan di kejar. Mereka memang bandel!"
"Budhe takut mereka jatuh!" seru budhe pada Lily.
"Masss!!" teriak Lily dari teras. Bima berada di kamar sedang meluruskan punggungnya. Bima yang mendengar teriakan sang istri langsung keluar dari kamar menuju ke teras depan.
Baru saja ingin istirahat! batin Bima.
"Apa, sayang?"
"Mas urus si duo rusuh, kasihan budhe Nani, lihat!" tunjuk Lily.
__ADS_1
Arkhan dan Azkhan sudah masuk.ke falam kolam ikan dan berteriak, masing-masing memegang satu ikan mas di tangannya. Ukurannya lumayan besar. Budhe Nani berteriak dari pinggir kolam takut jika di kolam itu licin karena pakdhe belum sempat membersihkannya.
"Ya ampun. Arkhan, Azkhan!" Bima memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut. Tubuhnya lelah setelah sekian jam lamanya perjalanan, tapi kedua putranya seakan tidak punya rasa itu.
Perasaan waktu kecilnya gue gak gitu-gitu amat! batin Bima.
"Sini semua naik!" ucap Bima, tapi duo rusuh itu tidak mendengar sang ayah, mereka semakin asyik mengejar ikan, sampai Azkhan terpeleset dan tercebur. Tubuhnya basah hingga ke rambut. Arkhan tertawa melihat sang adik yang gelagapan lalu menyemburkan air dari mulutnya.
"Tuh kan Uti bilang apa. Sini tole naik, basah kan!" seru budhe Nani.
Azkhan bukannya naik ke atas dia malah memercikkan air kepada Arkhan dengan tangannya. Mereka pun saling melemparkan air. Basah semua!
"Budhe. Maafin anak-anak. Semua jadi kacau!" sesal Lily.
"Wes, ra po-po nduk. Namanya juga anak-anak!" budhe Nani maklum, lalu menyesap tehnya. Bima duduk di sebelah istrinya. Memperhatikan kedua putranya yang terlalu aktif.
"Kadang aku bingung, Na. Mereka bandelnya mirip siapa ya?" Bima berujar sambil menyelonjorkan kakinya. Menatap lurus pada si kembar.
"Maksud kamu?" Lily mendelik.
__ADS_1
"Kamu mau bilang kalau aku dulu bandel gitu?" Bima tersadar dengan nada suara Lily yang mulai meninggi.
"Eh bukan! Maksud aku..."
"Denger ya mas BIMBIM, yang duluan bandel itu kan kamu! Aku cuma ikut-ikutan aja! Kamu lupa? Yang ajarin aku naik pohon sama mancing di sungai itu siapa? hahh???!! Yang ngajakin aku nyolong rambutannya pak Budiman itu siapa? Gak nyadar kamu bandelnya dulu kayak apa?!" seru Lily. Bima mencoba mengingat. sedangkan budhe Nani terkekeh.
"Emang Iya?" tanya Bima. "Perasaan aku enggak gitu deh!" mencoba mengelak.
"Iya le, budhe juga inget. Ibu kamu sampe kesel kalau ceritain itu sama budhe. Malu katanya! haha" Budhe Nani tertawa saat mengenang masa lalu. Ia dan kedua orang tua Lily dan Bima memanglah bersahabat sejak dulu.
"Masa sih budhe. Enggak ah." Masih mengelak.
"Hahh, sak karepmu ae lah mas. Mumet aku!" ucap Lily.
"Aku pijitin nanti. Tapi kasih bayarannya, goyang yang yang hot ya!" bisik Bima.
"Hat hot hat hot! Pantat panci mau?" ucap Lily kesal lalu berdiri. "Dasar gak mau ngaku, kalau bandel mah gak usah ajak-ajak!" ucap Lily kesal lalu pergi ke arah dapur.
"Una! Sayang..!" panggil Bima. Lily tidak mendengar. Budhe Nani semakin terkekeh.
__ADS_1