Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 131


__ADS_3

"Bilang sama aku kenapa kamu mau pisah?" Ucap Bima dengan nada sedikit tinggi dari biasanya. "Perjanjian kita satu tahun kan?!"


"Lily!" panggil Bima setengah berteriak, karena Lily tidak juga menjawab. Malah membanting pintu mobil dengan keras, membuat pak Dani yang terkejut karena tidak biasanya sang bos berteriak pada sang istri. Pak Dani hanya melongokan kepalanya dari dalam pos jaga lalu memilih kembali ke dalam karena tidak mau ikut campur dalam masalah majikannya. Meskipun merasa kasihan pada Lily tapi apalah daya, siapalah pak Dani untuk mereka?


Lily tidak menghiraukan panggilan Bima. Dadanya terlalu sesak dengan permintaan Bima.


"Lily!" kali ini Lily berhenti melangkah karena Bima menahan tangannya. Mereka sudah berada di dalam rumah. Bik Ela, asisten Lily, yang mendengar keributan keluar dari dapur. Tidak biasanya majikannya bertengkar.


Lily yang menyadari kehadiran Bik Ela segera menepis tangan Bima dan langsung berlari ke atas dengan air mata yang sudah berderai.


"Bik. Lebih baik bibik pulang sekarang." ucap Bima lalu melanjutkan langkahnya.


"Tapi saya masih masak tuan. Belum selesai!" ucap Bik Ela, lalu menunduk saat Bima menyentaknya dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Saya bilang pulang sekarang!" Bik Ela terdiam di tempatnya baru kali ini melihat kemarahan sang tuan majikan.


"Tolong. Pulang saja. Biarkan masakan di dapur." Ucap Bima kemudian dengan nada yang turun dua oktaf dari yang tadi.


"Baik tuan, saya matikan dulu kompornya." Ucap Bik Ela lalu berlari ke arah dapur untuk mematikan kompor dan mengambil tasnya. Dan pergi dari rumah itu. Sedangkan masakan yang hampir matang itu tetap berada di wajan di atas kompor.


"Loh, bik kok udah pulang?" tanya Pak Dani heran melihat bik Ela keluar dengan tas kecilnya.


"Wong saya di usir! Serem juga ya kalau tuan Bima lagi marah! Udah ah, saya pulang dulu. Ada baiknya juga pulang siang, bisa nyuci baju di rumah." ucapnya lalu berpamitan pada Pak Dani yang masih melongo di tempatnya.


"Lily! keluar! Kita harus bicara!" teriak Bima dari luar, sedangkan Lily membaringkan dirinya menelungkup di atas kasur dengan wajah yang basah karena air mata.


Pintu terus di ketuk Bima, tapi Lily sepertinya tidak ada niat untuk membukanya. Beberapa kali Bima mencoba membuka pintu, padahal dia tahu kalau pintu itu terkunci dari dalam.

__ADS_1


Bima menyugar rambutnya frustasi, lalu turun ke bawah. Masuk ke dalam mobil lalu melajukannya ke tengah jalanan dengan kasar.


"Aargght!" teriak Bima tangannya yang sedari tadi terkepal di atas kemudi kini memukul kemudi itu berulang kali, ia tidak menghiraukan suara klakson dari pengendara lain yang kesal karena cara mengemudinya yang ugal-ugalan.


"Kenapa Lily meminta pisah dariku? Apa mungkin karena dia dan Adit sudah punya hubungan? Sejauh apa hubungan mereka? Apa mereka akan menikah?" terus itu yang ada di dalam fikiran Bima hingga hampir satu jam dan mobil Bima terparkir sempurna di garasi mobil. Bima masih berada di dalam mobilnya, rasanya enggan keluar. Fikirannya terlalu rumit untuk di jelaskan sekarang.


tok. tok.


Pintu kaca mobil di ketuk seseorang dari luar. Dena. Dengan senyuman yang menenangkan. Bima mengusap wajahnya lalu merapikan dirinya yang sedikit berantakan sebelum keluar menemui sang istri.


***


Hampir seminggu Bima dan Lily tidak bertegur sapa meskipun sudah dua malam ini Bima menginap disana. Rasanya aneh. Seperti ada yang hilang dari dirinya. Meskipun di kantor mereka tetap berkomunikasi, tapi hanya sebatas pekerjaan, di luar dari itu Lily memilih menghindar.

__ADS_1


Bima menatap layar laptopnya yang menyala, tapi fikirannya melanglang entah kemana. Seminggu ini, tidak bertegur sapa dengan Lily membuatnya terasa kacau. Hatinya hampa. Tidak ada lagi senyuman yang memperlihatkan lesung pipi yang lucu. Tidak ada lagi canda tawa yang terdengar indah di rumah ini. Hanya kesunyian.


Berkali-kali Bima menoleh ke arah tangga berharap Lily turun untuk sekedar ke dapur, biasanya pada jam sembilan Lily mengambil air minum. Tapi tidak ada. Tidak ada seseorang disana dengan senyuman khasnya. Tidak ada kopi atau coklat panas yang terhidang saat dirinya sedang bekerja.


__ADS_2