
Setelah beberapa saat lamanya mereka terdiam, akhirnya Lily angkat bicara.
"Mas, aku mau bicara sesuatu." lirih Lily, Bima yang sedang makan sambil memainkan hpnya terdiam lalu menyimpan hpnya di atas meja.
"Kenapa?"
"Aku...umm... Aku mau membatalkan perjanjian kita." ucap Lily, membuat Bima menatap Lily dengan tajam. Lily hanya tertunduk takut. Bima menghentikan makannya dan menyandarkan dirinya di sandaran kursi, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa?"
"Aku..umm.. tidak apa-apa. Aku cuma merasa salah karena ada dalam kehidupan kalian. Mbak Dena terlalu baik buat aku."
Bima menghela nafas.
***
__ADS_1
Bima Satria
"Aku...umm... Aku mau membatalkan perjanjian kita."
Aku terdiam mendengar Lily berbicara. Rasanya sangat aneh sekali. Di satu sisi aku merasa ini yang aku harapkan dari dulu. tapi di sisi lain aku juga bimbang karena Dena. Aku takut tidak akan pernah melihat Dena tersenyum dan tertawa seperti akhir-akhir ini. Kehadiran Lily membuat Dena merasa menjadi dirinya lagi seperti dulu. Dena yang periang dan cerewet.
"Aku..umm.. tidak apa-apa. Aku cuma merasa salah karena ada dalam kehidupan kalian. Mbak Dena terlalu baik buat aku."
Lily menunduk, kedua tangannya berada di bawah meja, bisa ku lihat dia duduk dengan gelisah. Tangannya bergerak-gerak, mungkin sedang saling meremas karena gugup.
"Oke. Aku akan coba bicara sama Dena." ucap ku. Aku sendiri tidak tahu bagaimana reaksi Dena jika Lily meminta pisah dariku. Sedangkan dengan jelas Dena sangat antusias kepada Lily.
Lily juga masih diam. Sepertinya dia juga bingung. Gugup, atau apalah. Entahlah. Yang pasti aku bisa lihat kalau dia juga sudah enggan untuk mengambil sendoknya dan kembali untuk makan, padahal dia juga baru makan tiga suapan, kalau tidak salah.
Aku mendekatkan kursiku lalu mengambil mangkuk yang ada di depannya. Dia hanya melongo melihat aku menyodorkan sesendok bubur di depan mulutnya.
__ADS_1
"Aku bisa makan sendiri mas." tolaknya, aku menjauhkan tanganku dari tangannya yang sudah akan mengambil sendok dari ku.
"Sudah, makan saja. Bukannya kalau lagi sakit enaknya di suapin?" ucap ku sambil tersenyum padanya. Anggaplah ini sebagai rasa terimakasihku karena dia sudah membuat Dena tertawa dan tersenyum belakangan ini.
Lily membuka mulutnya dengan ragu, lalu mulai menikmati makanan yang aku berikan. Hingga bubur di tanganku tandas, kami tidak saling bicara. Aku sibuk memikirkan bagaimana akan mengatakannya pada Dena, dan Lily, entah apa yang ada di fikirannya.
Kami selesai makan. Aku duduk di ruang tv setelah memastikan Lily meminum obatnya, memainkan ponselku yang aku sendiri bingung entah melihat apa, hanya menatap gambar dan tulisan tanpa minat. Sedangkan Lily sedang berada di kamarku. Ku lihat Lily berjalan ke luar, menuju ke arah tangga.
"Kemana?" tanyaku. Lily menoleh, kakinya baru saja akan naik pada undakan pertama anak tangga.
"Tidur." jawabnya lalu melanjutkan kaki satunya kembali menaiki anak tangga selanjutnya.
"Tidur di kamarku saja." titahku.
"Enggak ah. Mas juga butuh istirahat." ucapnya lalu kembali naik.
__ADS_1
"Kalau kamu naik ke kamar kamu, aku juga akan tidur di atas!" ucap ku membuat langkahnya terhenti. Raut mukanya bingung.
"Dena suruh aku jagain kamu malam ini. Kalau kamu tidur di atas aku pasti akan satu ranjang sama kamu. Aku gak mau tidur di bawah dan bolak-balik untuk cek keadaan kamu!"