
Bulan, Yumna dan Syifa baru saja pulang dari sawah. Setelah mereka sampai tadi, Syifa merengek ingin melihat persawahan. Akhirnya Bulan menemani keduanya untuk bermain sebentar dan duduk di gubuk. Melihat hamparan padi yang hampir menguning.
Bulan sudah menjelma menjadi gadis yang anggun sekarang. Sedangkan Mentari sudah berkeluarga, rumah mereka tidak jauh dari sana. Nanti saat malam Mentari akan datang bersama suami dan putranya.
Setelah semuanya membersihkan diri. Mereka duduk lesehan di ruang tamu. Kursi-kursi di singkirkan ke tepi dinding, dan menggelarkan karpet besar. Suasana menjadi sangat ramai. Mereka bercerita sambil menunggu maghrib.
Syifa bercerita tentang banyak hal yang ia temui di sawah, dari mulai para petani yang sedang bekerja, ada juga sapi yang sedang membajak sawah. Dan juga menangkap belalang.
"Tadi Syifa naik sapi!" celotehnya.
"Bohong!" ujar Azkhan.
"Syifa kan penakut!" Arkhan menambahkan.
"Enggak! Syifa beneran naik sapi. Iya kan kak Yumna. Tante Bulan?" Syifa meminta dukungan dan di benarkan oleh keduanya.
"Ih, kenapa gak ajak-ajak!" protes Arkhan. "Aku juga mau naik sapi!"
"Aku juga!" Azkhan tidak mau ketinggalan.
"Kasihan deh besok sapinya juga udah gak ada. Wleekkkk!" Syifa menjulurkan lidahnya. Arkhan dan Azkhan merasa kesal keduanya cemberut. Syifa senang melihat wajah kesal kedua adiknya.
"Mama, aku mau naik sapi!" teriak Azkhan menarik tangan Lily.
"Aku juga mau, pa!" Arkhan pada papanya.
__ADS_1
"Papa kan gak punya sapi. Mau naik sapi siapa?" tanya Bima bingung dengan keinginan kedua putranya.
"Tapi aku mau naik!" seru keduanya bersamaan dengan serempak. Dasar kembar!
Pakdhe Yudha yang sedari tadi diam memperhatikan angkat bicara.
"Kalau kalian mau naik sapi besok ikut mas Umar ke lapangan." ucap pakdhe menyebut salah seorang pekerjanya.
"Yeee beneran Kung?" tanya Azkhan dan Arkhan bersamaan. Pakde Yudha mengangguk dengan senyuman.
"Asiiikkk!" seru mereka berdua sambil melonjak senang.
"Syifa juga mau ikut!" cicit Syifa.
"Iya semua juga boleh ikut!" ucap Budhe Nani. Semua bersorak gembira.
Mereka pun saling berpelukan melepas rindu dan menanyakan kabar masing-masing. Suasana rumah itu semakin ramai.
Pakdhe dan Budhe sedang berada di dapur menyiapkan makan malam. Pakdhe tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.
"Ngopo toh pak?" budhe Nani menyenggol lengan suaminya.
"Enggak Bu. Cuma seneng aja. Lihat semua pada kumpul. Tinggal Bulan yang belum nemu jodohnya." ujar pakdhe Yudha.
"Lha wong Bulannya juga belum mau nikah pak! Masih belum lulus kuliah!" kata sang istri yang di angguki pakde Yudha.
__ADS_1
"Semoga saja bapak panjang umur dan bisa lihat Bulan nikah!" Budhe Nani menatap suaminya.
"Wes toh pak. Ojo ngelantur nek ngomong iki. Dungakno ae semuanya panjang umur dan sehat, Bulan di cedekne karo jodone! Wes kae di panggil sing liane, kita makan dulu!"
Pakdhe Yudha segera berlalu memanggil yang lainnya. Akhirnya mereka menggelar tikar besar di dapur dan makan dengan lesehan. Banyak hidangan yang sudah di masak budhe Nani tadi. Mulai dari ikan, ayam, tahu, tempe, sambal, lalapan, dan yang lainnya. Mereka pun makan dengan lahap. Dan seperti biasa Bima dan Lily merasa pusing akibat ulah si kembar yang tidak mau tenang saat makan.
Malam semakin larut. Yumna dan Syifa tidur bersama Bulan, sedangkan Lily dan Bima tidur bersama si kembar. Mentari bersama keluarga kecilnya sudah pulang sebelum jam sembilan tadi.
Sebenarnya ada satu kamar lagi yang kosong, tapi terkadang Azkhan terbangun tengah malam dan agak rewel jika di tempat asing dan mencari sang ibu. Maka dari itu Lily memutuskan untuk menggelar kasur di bawah dekat ranjang mereka.
Si kembar sudah tertidur dengan lelap. Sedangkan yang di bawah...
Mana bisa tidur kalau mencet tombol terus!
Liky kesal karena pasalnya Bima bilang tadi capek dan ingin tidur, tapi nyatanya setelah mereka berbaring bukannya tidur malah tangannya menjelajah bukit dan lembah. Lily mencoba menahan suaranya.
Bima tersenyum senang karena melihat sang istri yang tersiksa penuh kenikmatan. Tangannya tidak mau diam menikmati benda kenyal itu kanan dan kiri. Sedangkan satu tangannya menjelajah goa yang lembab, dan mencari titik inti, puncak segala kenikmatan dari sang istri.
"Mass.."
"kenapa?" lirih Bima. "Tidak tahan?" Bima menyeringai lalu menaikan baju daster istrinya, menurunkan sedikit kain segitiga milik Lily.
Dan akhirnya dengan susah payah menahan suaranya mereka pun berhasil meraih kenikmatan mereka.
"Dasar. Katanya capek!" dengus Lily kesal.
__ADS_1
"Kalau yang gini sih gak ada capeknya!" Ucap Bima sambil bermain-main di dada Lily.
Bima yang tahu kelemahan istrinya sengaja memainkan tangannya berlama-lama disana. Menggodanya lagi, dan lagi. Ngarep lagi maksudnya!