
"Maaf ya mas Adit. Lily gak pake baju itu." ucap Lily saat mereka sudah berada di dalam mobil. Mobil mereka tengah melaju dengan kecepatan sedang. Adit menatap Lily dan tersenyum.
"Gak pa-pa. Kamu pakai baju apa aja tetep cantik kok!" ucap Adit satu tangannya memegang tangan Lily, sedangkan tangan satu lagi tetap pada kemudi. Lily tetap merasa tidak enak hati.
Tak berapa lama mereka sampai di tempat yang di tuju. Restoran terkenal yang sangat mewah. Lily keluar dari mobil setelah Adit membukakan pintu untuknya.
"Makan disini?" tanya Lily setelah Adit menutup pintunya. Adit mengangguk lalu mengulurkan tangannya. Lily tetap diam tidak menyambut tangan Adit. Dia memperhatikan ke sekeliling. Hampir semua orang masuk ke dalam sana memakai gaun yang indah dan mahal pastinya, mengingat restoran ini adalah restoran mewah nan elit tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam sini.
"Kenapa?" tanya Adit yang sepertinya tahu pemikiran Lily.
"Pulang aja deh. Lily malu." Lirih Lily.
"Baju kamu?" Lily mengangguk.
"Lily takut mas Adit malu. kayaknya ini bukan tempat yang tepat dengan baju ini."
"Tapi kamu tetep cantik kok." ucap Adit menghibur Lily. "Ayo!" Lily menunduk dan menggelengkan kepalanya. Adit menghela nafas kasar. Lily semakin menunduk, sepertinya Adit kecewa.
"Oke. Ayo deh!" Adit membuka kembali pintu mobilnya.
"Mas Adit marah?" Lily mencoba bertanya karena Adit hanya diam. Adit yang tersadar karena sedari tadi hanya diam akhirnya tersenyum.
"Gak marah kok."
__ADS_1
"Trus kenapa diem? Mas Adit kecewa ya Lily gak mau masuk ke sana. Maaf ya." ucap Lily semakin merasa bersalah.
Mereka pun terdiam.
Sebenarnya Adit gak marah, dia hanya berfikir keras akan mengajak Lily pergi kemana setelah gagalnya makan malam romantis mereka. 'Dasar Bima sialan! Bikin acara gue gagal!' cecar Adit dalam hati.
Akhirnya mobil berhenti di suatu tempat. Lily belum sadar karena sedari tadi terus melamun.
"Keluar yuk!" Ajak Adit.
"Eh, udah sampai di rumah ya?" tanya Lily. Adit menggeleng.
"Bukan di rumah. Tuh!" tunjuk Adit. Lily mengikuti arah pandang Adit. Matanya membelalak saat melihat keluar. Lily menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya, tak percaya.
Di luar suasana sangat ramai dengan banyaknya orang yang berlalu lalang. Mereka sedang mengantri untuk masuk ke dalam. Di dalam banyak wahana permainan dengan lampu kelap kelip yang menghiasi. Lily tidak percaya Adit membawanya ke pasar malam.
"Suka kok. Suka banget. Ayo mas!" tanpa menunggu Adit Lily keluar dari mobil dan segera menyelinap di ramainya kerumunan orang. Adit hanya tersenyum dan bersyukur karena Lily tidak lagi bersedih.
"Mas Adit ayo!" teriak Lily pada Adit yang baru saja menutup pintu mobilnya. Adit setengah berlari ke arah Lily yang sudah tidak sabar menunggu.
Adit dan Lily menaiki berbagai wahana walaupun pada akhirnya Adit sempat limbung karena terlalu pusing saat turun dari wahana 'ombak banyu'. Permainan tradisoinal dengan cara di putar kencang itu membuat perut Adit terasa di kocok hebat. Rasa mual dan pusing menderanya hingga mengharuskan Adit menyingkir ke tempat sepi.
Setelah puas dengan beberapa wahana, akhirnya mereka duduk di sebuah bangku yang di sediakan dengan masing-masing memegang makanan di tangannya.
"Lily laper?" Lily mengangguk, tanpa menjawab pertanyaan Adit dia terus memasukan baso bakar ke dalam mulutnya. Begitu juga Adit yang sudah tidak canggung lagi dengan makanan rakyat yang di pegangnya. Nyatanya sama-sama enak tidak kalah dengan yang ada di restoran.
__ADS_1
"Ly, sebagai hadiah ulang tahun kamu bebas minta apa aja sama mas Adit!" ucap Adit. Lily hanya menggeleng.
"Cukup mas. Lily udah cukup seneng kok mas Adit bawa Lily kesini. Makasih banget. Maaf ya mas Adit jadi pusing Lily ajak naik ombak banyu." ucap Lily menampilkan senyuman manisnya. Adit terpana melihat senyum Lily yang terasa hangat di antara dinginnya malam ini. Dan perutnya sudah merasa enakan sekarang.
"Please Ly. Tapi mas Adit pengen Lily dapet hadiah ulang tahun dari mas Adit." Lily tetap menggeleng. Adit merasa kesal bagaimana ada wanita yang gak matre kayak Lily sih, padahal ini kan biasanya yang perempuan suka saat di tawari apapun kan? Memang Adit selalu royal dengan setiap pacarnya membelikan ini itu, tapi dengan Lily ia pusing sendiri karena Lily selalu menolak.
"Ikut yuk!" Adit menarik tangan Lily yang hendak menyuapkan kembali baso bakar hingga baso itu jatuh dan menggelinding di tanah.
"Ih mas Adit, jadi jatuh kan basonya. Mau kemana sih?!" Adit tidak menjawab masih menarik satu tangan Lily yang bebas.
Mereka berhenti di sebuah stand yang menjual boneka dari ukuran besar hingga ukuran terkecil.
"Mas Adit beliin boneka ya?" tanya Adit lalu mulai memilih boneka di hadapannya. "Kalau yang ini gak boleh nolak. Cuma boneka juga!" tegas Adit tidak mau di bantah. Lily hanya terdiam melihat Adit yang sedang memilih.
Lily menatap stand yang tak jauh dari sana.
"Mas." Adit menoleh saat Lily menggoyangkan tangannya.
"Ya?" Adit mengikuti arah yang di tunjuk Lily. Sebuah stand dengan permainan bebek.
"Itu aja." Lily menarik tangan Adit kesana, Adit menurut. mereka berhenti di depan stand yang di jaga seorang pria paruh baya. "Lily mau boneka ini, gak mau yang disana. Mas Adit harus bisa menangin ya!" tunjuk Lily pada boneka singa yang ada di sampingnya.
"Kan sama aja disana juga Ly?!" seru Adit tidak mengerti. Bahkan boneka disana sama persis dan juga lebih besar, tentunya tidak perlu susah untuk di dapatkan. Sedangkan disini harus memenangkan permainan dulu untuk bisa mendapatkan boneka itu.
"Ya udah kalau mas Adit gak mau! Lily gak mau hadiah apa-apa dari mas Adit." wajah Lily memberengut membuat Adit tidak suka.
__ADS_1
"Oke deh, apa salahnya coba sebentar." Adit mencoba permainan itu. Melemparkan gelang besar pada patung bebek yang terus berjalan tidak mau diam. Butuh waktu dan kerja keras, dan juga bukan sebentar hingga akhirnya Adit bisa menyelesaikan dan memenangkan permainan itu, walaupun dia harus berulang kali membayar untuk mengulang permainan. Lily senang mendapatkan boneka singa coklat dengan bulu lembut yang ia gosokan di pipinya.