Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 108


__ADS_3

Bima Satria.


"Mas." suara seseorang membangunkanku, tangannya menggoyangkan bahuku lembut. Eh, apa barusan aku tertidur?


Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan, lalu duduk. Dena tersenyum dengan senyuman manisnya, menularkannya padaku hingga aku juga tersenyum.


"Masih ngantuk?" tanya nya, dia mengusap rambutku yang basah dengan handuk kecil di tangannya.


"Enggak, tapi kenapa aku bisa ketiduran ya?" tanyaku pada diri sendiri sebenarnya. Dena terkikik. Aku melihat wajahnya yang ayu.


"Mungkin karena semalam kamu tidur jam tiga. Aku kan udah bilang mas tidur duluan, apalagi mas mau ke Bali kan nanti?" ucapnya. Benar. Kami baru tidur jam tiga, karena aku menemani Dena menyelesaikan gambar sketsa gaun pengantin pesanan salah satu temannya. Tapi bukannya selesai dengan cepat, malah aku yang mengganggunya dengan terus menggoda dan mencumbu istriku. Padahal dia sudah bilang harus segera menyelesaikannya. Aku selalu tidak tahan jika di dekat istriku ini.


"Gara-gara kamu, aku jadi belum selesai, mas!" Kali ini aku yang terkikik melihat wajah kesal yang di tunjukan Dena. Bibirnya mengerucut lucu.

__ADS_1


"Hei, ayo ke Bali!" ucapku tiba-tiba, ku lingkarkan kedua tanganku di pinggang rampingnya. Dena menghentikan laju tangannya di atas kepalaku, lalu mengangkat handuk yang lembab dari sana.


"Kita bulan madu lagi!" Dena terdiam, lalu jawabannya membuat aku merasa kesal. Dengan ringannya dia berkata.


"Yang harusnya bulan madu itu kamu sama Lily. Kita kan udah sering bulan madu, mas. Lihat. Itu foto kita waktu bulan madu ke Paris. Itu. Kamu bawa aku ke Marina Bay. Dan itu waktu kita di Jepang." tunjuk Dena ke arah dinding dengan foto kami di berbagai tempat. Masih banyak lagi sebenarnya tapi kami simpan di dalam album besar yang kini tersimpan rapi di lemari.


"Tapi itu kan udah lama banget Na. Hampir satu tahun lalu kan? Tahun ini kita belum pergi kemana-mana karena aku sibuk." ucapku. Dena tersenyum.


"Aku juga sibuk." ucapnya seraya mengelus pipiku lalu melepas rengkuhan tanganku dan berjalan ke kamar mandi.


"Jangan sedih. Mas ke Bali saja sama Lily, sekalian meninjau proyek dan bulan madu juga disana. Seminggu atau dua minggu mungkin?" Dena mengatakannya sambil berlalu di depanku.


"Kalian berdua belum pernah bulan madu kan?" ucapnya lagi, lalu duduk di meja rias mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Suara hairdryer terdengar nyaring mengeluarkan angin hangat dari dalam sana membuat rambut Dena berterbangan.

__ADS_1


Ya, aku dan Lily memang pernah ke Bali, tapi bukan untuk bulan madu. Dan apa itu bisa di bilang bulan madu?


Dena sudah selesai dengan rambutnya, membubuhkan bedak tipis dan liptint ke bibirnya, lalu mengganti baju dengan dress coklat setinggi lutut.


"Mas bisa siapin baju sendiri kan? Atau aku telfon Lily untuk siapin baju mas disana? Sekalian kalian bulan madu? Aku harus ketemu mbak Yana pagi ini." senyumnya mematahkan hatiku.


"Aku bisa siapin sendiri." ucapku lemas. "Aku juga gak lama kok disana. Lusa juga udah pulang." lirihku. Dena mendekat dan mengambil kepalaku dan menempelkannya di dadanya. Dia mememeluk ku erat. Rasanya pelukan Dena ini sangat berarti buatku. Selalu.


"Gak bulan madu sekalian?" Aku mendongak melihat wajah Dena dari bawah dagunya, lalu menggeleng pelan.


"Lain kali aja, lagian banyak meeting minggu ini." Dena mengecup keningku dengan sayang. Lama.


"Mas sarapan sendiri, gak pa-pa ya. Aku gak bisa nemenin sarapan. Sesudah ketemu mbak Yana, aku langsung ke butik." Aku mengangguk. Akhir-akhir ini pesanan gaun pengantin ada banyak membuat Dena sedikit kewalahan dalam membuat desain maupun gaun itu sendiri dengan tangannya, dan di bantu oleh lima tukang jahit profesional dan dua asisten pribadi khusus untuk membantu memasangkan detail pada gaun. Aku sudah meminta Dena untuk berhenti, tapi itu cita-cita Dena sedari dulu. Ingin karyanya menjadi bagian sejarah kebahagiaan untuk orang lain.

__ADS_1


"Aku akan antarkan makan siang buat mas nanti." ucapnya lagi sebelum melepas kedua tangannya di bahuku.


"Gak usah. Aku makan di luar saja." Dena mengangguk mengerti. Aku juga harus mengerti kan kesibukan Dena, dan aku juga tidak mau membuat Dena semakin sibuk karena mengurusku.


__ADS_2