
"Seharusnya sebelum kamu menerima pernikahan ini kamu sudah memikirkan semuanya!" Ucap Bima dingin, lalu mengembalikan kunci mobil ke tangan Lily.
Rasanya sakit sekali saat Bima mengatakan itu semua. Bukanya pernikahan ini adalah permintaan Dena? Dan kenapa juga Bima tidak menolaknya? Dan kenapa juga dirinya tidak bisa menolak permintaan Dena? Jadi ini salah siapa?
Ingin sekali Lily protes, tapi Bima sudah melenggang menjauh dan masuk ke dalam mobilnya.
Sudahlah. Berdebat dengan Bima pun percuma karena semua sudah terjadi. Hanya satu tahun. Lily hanya harus bersabar selama satu tahun, tapi kenapa Bima selalu berubah-ubah? Kadang baik, kadang dingin, kadang ketus, kadang romantis. Ya ampun. Lily harus bagaimana?
Lily memandang kepergian Bima dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ah udahlah. Lebih baik aku mandi." ucak Lily kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Seperti malam-malam sebelumnya, Lily selalu makan sendirian. Di rumah yang sekarang terbilang cukup besar untuk dirinya. Sendirian. Menatap ruangan-ruangan kosong yang ada di depannya.
Lily telah selesai makan malam dan mencuci piringnya lalu bergegas ke kamar. Membaringkan tubuhnya dengan nyaman disana. Meskipun jam masih menunjuk angka delapan, tapi Lily merasa bingung sendiri, tidak ada teman untuk mengobrol. Biasanya sewaktu masih di kontrakan lamanya Lily bisa mengobrol dengan para tetangga yang masih duduk di luar pada jam seperti ini.
"Jadi kangen kontrakan yang dulu, kecil tapi ramai. Disini rumah besar tapi cuma sendirian. Cuma ada satpam di luar sana." batin Lily.
Ia pun mengambil hpnya dan melakukan vidio call dengan Yeni.
__ADS_1
Seketika layar hp Lily penuh dengan wajah Yeni yang sedang mengunyah makanan.
"Ada apa Ly?"
" Gak ada. Cuma bosen aja. Gak ada temen ngobrol." jawab Lily.
"Ah biasanya juga ngegosip sama ibu-ibu kontrakan sebelah!"
"Hehe, lagi pada gak ada. Gak tau kemana."
"Eh Ly, aku punya kabar heboh loh soal bos kita!"
"Kabar apa?" tanya Lily penasaran.
Deg. Jantung Lily berdebar kencang mendengar sahabatnya yang sedang bercerita dengan nada yang kesal.
"Mungkin bos punya alasannya kenapa dia bisa menikah lagi." ucap Lily dengan suara bergetar.
"Iya tapi kurang apa lagi coba, istri bos kan sempurna gitu. Kayaknya tuh perempuan pake guna-guna deh sampe si bos mau nikahin dia. Apa lagi coba kalau bukan karena si bos ganteng dan kaya? Tadi pagi aja aku lihat istri si bos ke kantor, pas keluar dari kantor mukanya di tekuk gitu kayak yang lagi mikirin sesuatu gitu. Sedih lihatnya. Emang dasar tuh ya pelakor, gak ada akhlak. Jadi jijik gue sama namanya pelakor! Rusak kebahagiaan orang!"
__ADS_1
Rasanya Lily ingin menangis. Niatnya hanya ingin menghibur hati yang kesepian malah soal dirinya yang menjadi bahan pembicaraan. Kalau saja Yeni tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Bima, apakah Yeni tetap akan menyebutnya pelakor?
"Woyy Ly? kenapa ngelamun?"
"Eh, enggak!" Lily tersadar dari lamunannya.
"Yee nih anak ya, di ajakin ngobrol malah diem aja."
Lily meringis tersenyum.
"Hehe, aku baru inget kalau lagi nunggu tukang bakso lewat." bohong Lily.
"Yee kirain kesambet."
"Udah dulu ya takut si abangnya udah keburu lewat."
"Emang kamu belum makan?"
"Udah sih, tapi kepengen bakso!"
__ADS_1
"Dasar, awas badan melar makan bakso terus!" Yeni memperingati. Lily hanya terkekeh.
"Gak pa-pa, biar kita sebelas dua belas!" ucapnya lalu mematikan telfon sebelum Yeni mulai nyerocos karena sindiran Lily.