
Bima sudah tidak tahan. Semakin lama rasanya semakin menyiksa. Dia putuskan untuk pergi ke kamar Lily.
Pintu sedikit terbuka membuat Bima urung mengetuk pintu. Dari celah pintu bisa di lihat kalau Lily sedang berbaring.
"Ly?" panggil Bima. Yang di panggil tetap diam. Apa Lily sudah tidur?
Bima membuka pintu sedikit lebar dengan perlahan hingga cukup untuk dirinya masuk ke dalam sana. Ini kedua kalinya Bima masuk ke kamar Lily setelah kejadian Lily menakut-nakutinya dulu.
Lily sudah tertidur dengan posisi meringkuk, di tangannya terdapat sebuah bingkai foto yang terbalik. Wajah tenang Lily terasa damai saat Bima dengan sengaja mengusapnya pelan. Lily menggeliat pelan tapi tidak sampai bangun semakin menindih bingkai foto yang sebenarnya membuat Bima penasaran.
Kenapa kamu minta pisah? Aku sudah terlanjur nyaman sama kamu, Ly. Kamu sudah buat aku bingung.
Pintu kembali di tutup Bima dari luar. Bima merasakan dadanya yang sesak. Seminggu. Dan akan sampai kapan mereka akan saling diam?
***
__ADS_1
Pagi menjelang. Lily membuka mata dengan perasaan yang berbeda. Semalam ia bermimpi Bimbimnya datang menemuinya. Meskipun tidak jelas bagaimana rupanya, tapi dengan jelas Lily bisa melihat tubuhnya yang indah, tidak lagi gempal seperti dulu.
Lily tersenyum, masih dalam pembaringannya dia mengambil foto yang ternyata tertindih oleh tubuhnya. Memandang foto itu dengan senyuman yang lebar.
"Makasih kamu udah hadir dalam mimpi ku." ucap Lily lalu memeluk foto Bimbim yang sudah mulai pudar warnanya. Foto dari delapan belas tahun yang lalu. Yang Lily jaga dan Lily bawa selama ini.
Bima memandang Lily yang sedang menikmati sarapan. Meskipun mereka tidak saling bertegur sapa, tapi Lily tetap melakukan tugasnya untuk menyediakan sarapan atau makan malam untuk Bima.
Lily masih menekuri santapannya dengan diam. Begitu juga dengan Bima. Tidak ada pembicaraan yang mereka bahas, biasanya acara makan adalah acara yang menyenangkan.
"Kita bicara nanti malam. Lily mau ke kantor. Banyak berkas yang harus Lily kerjakan!" ucap Lily dengan nada dingin. Kalimat terpanjang yang Lily ucapkan selama seminggu ini.
Bima segera menghabiskan rotinya, lalu menenggak susu hangatnya dengan cepat. Menyusul Lily yang kini sedang mencuci piring dan gelas kotor yang sudah ia pakai.
Lily tetap diam, fokus pada apa yang di kerjakannya, meskipun sebenarnya dalam hati berontak ingin menatap wajah sang suami yang sudah seminggu ini ia abaikan.
__ADS_1
"Maaf." Hanya itu yang bisa Bima katakan.
Lily menoleh dan tersenyum, senyum yang sudah lama menghilang. Bima senang kembali melihat senyum itu. Beberapa detik, lalu Lily menggelengkan kepalanya tanpa bicara sepatah katapun. Membuat Bima bertanya dalam hati apa arti dari senyum dan gelengan kepala dari Lily.
Waktu terasa begitu lama. Bima terus melihat jam yang ada di tangannya, baru sepuluh menit berlalu, dan kini dia sudah melihat arlojinya lagi.
Sial! Kenapa matahari tidak juga tenggelam! racaunya dalam hati lalu pandangannya beralih pada tumpukan berkas yang ada di hadapannya.
Jam pulang kantor. Bima setengah berlari menuju lift. Dia akan mengajak Lily pulang bersama. Tapi terlambat. Saat sudah sampai di lobi Lily sudah pergi dengan menggunakan mobil hitam yang sangat Bima kenal.
Bima mengetuk-ngetukan tangannya di atas lutut. Dia sedang duduk di depan tv yang tidak menyala. Masih dengan pakaian yang ia kenakan sedari siang.
Satu jam. Dua jam. Sepertinya Lily ingkar janji! Apa dia menghindar lagi? Lily pergi bersama Adit, dan dia lupa dengan janjinya!
Bima berdiri lalu mengacak rambutnya dengan kasar. Berjalan ke kanan dan ke kiri lalu ke depan, begitu sebaliknya beberapa kali hingga terdengar sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah.
__ADS_1
Tangan Bima terkepal saat melihat siapa yang datang. Dari balik kaca jendela Bima memperhatikan kedua orang yang masih ada di luar pagar. Lily tersenyum manis sambil melambaikan tangannya ke arah Adit. Tak lama mobil itu kembali pergi. Perlakuan manis mereka nyatanya membuat hati Bima terasa panas.