
Lily menyambut tangan yang semakin kecil itu, seperti tulang yang hanya di balut kulit.
Dia, orang yang tadi Lily lihat menyingkir dari sana dan memberikan ruang untuk dua wanita ini saling berbicara. Dia memilih pergi keluar, tidak mau mengganggu.
"Lily." ucapnya lalu menarik Lily untuk duduk di sampingnya di atas ranjang. Lily masih tidak percaya dengan yang dia lihat, dia hanya menurut duduk disana. Matanya tak henti mengeluarkan air mata.
"Mbak..." lirih Lily akhirnya.
"Jadi, apa ini alasan mbak nikahin mas Bima sama aku?" Dena tersenyum lalu menegakan tubuhnya dan menghapus air mata Lily dari wajah gadis itu.
"Ini gak bener kan mbak?" Lily menggelengkan kepalanya berharap yang ia lihat sekarang adalah suatu kebohongan. Dena menggeleng. Bibirnya menyunggingkan senyum yang tidak pernah berubah sedari dulu.
"Mbak?!" Tanya Lily karena Dena tidak juga menjawab. Lily meremas tangan Dena yang ada di genggamannya lalu menangis tersedu. Dena masih terdiam membiarkan Lily menangis.
"Aku salah. Harusnya aku gak ada dalam kehidupan kalian." isak Lily di antara tangisnya. "Kenapa mbak gak bilang? Mas Bima juga..." Lily terdiam saat Dena kembali menggelengkan kepalanya dan jawaban Dena membuat Lily membelalakan mata.
__ADS_1
"Mas Bima gak tahu. Mbak mohon, mas Bima gak boleh tahu."
"Jadi..." Dena tersenyum, lalu mengambil Lily ke dalam pelukannya.
"Maafkan mbak, Ly. Selama ini mbak bohong sama kamu. Bukan anak yang mbak mau. Ya sebenarnya salah satunya itu sih, tapi mbak gak mau Mas Bima kesepian saat mbak pergi nanti." Dena melepas pelukannya lalu kembali menatap Lily.
"Mbak rasa yang salah disini adalah mbak. Mbak yang egois membuat kamu ada di antara kami. Tapi mbak seneng karena Mas Bima udah sayang sama kamu." senyum Dena tidak pernah pudar.
"Enggak! Yang mas Bima cinta itu mbak Dena!" Ucap Lily menegaskan, tapi Dena menggelengkan kepalanya, dia mengenal sosok suaminya dengan baik. Bagaimana caranya melihat dan memandang Lily. Bima sudah ada rasa meskipun berusaha menolaknya.
"Mbak jangan ngomong gitu. Mbak pasti sembuh. Kalau mas Bima tahu pasti mas Bima akan usahain kesembuhan mbak!"
"Mbak gak akan sembuh Ly." Dena menggeleng tegas. "Semua sudah terlambat. Meskipun di obati hanya akan mengulur waktu mbak untuk menghadap 'Dia'." Lily kembali terisak mendengar Dena yang sudah putus asa.
"Dokter bilang, waktu mbak gak lama. Mbak berfikiran untuk mencarikan Mas Bima sosok yang akan bisa menggantikan mbak. Mbak egois kan' Ly?" mata Dena berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mbak gak pernah minta banyak sama Tuhan, Ly. Mbak hanya mau semua yang terbaik untuk kita. Kamu, adik mbak yang paling mbak sayang. Mbak akan tenang kalau kamu juga ada yang jaga. Dan mas Bima. Mbak gak bisa percayakan mas Bima sama wanita lain. Hanya kamu Ly, mbak sayang kalian berdua."
"Mbak, setidaknya mbak bisa hidup lebih lama bersama kami kan?"
Dena menggeleng pelan.
"Hanya delapan bulan Ly. Kata dokter kalau mbak bisa bertahan sampai satu tahun itu keajaiban." Lily semakin terisak.
"Mbak akan tenang kalau kalian hidup bahagia, semoga saja akan cepat ada kehidupan di dalam sini. Biar mbak tenang jika suatu saat mbak harus pergi." ucapnya sambil mengelus perut rata Lily.
"Mbak. Enggak mbak. Mbak gak boleh pergi. Mbak bisa kan operasi, atau alternatif lain. Pasti ada banyak cara mbak!" Kekeuh Lily, Dena hanya menggeleng.
"Mbak udah tanya ke banyak dokter, tapi hampir semua yang mereka katakan sama. Kecil kemungkinan mbak untuk bertahan Ly. Mereka hanya bisa mengulur sedikit waktu untuk mbak menikmati udara di dunia ini." Tangis Lily kembali pecah.
Dia, Rian, hanya menatap nanar pada dua sosok di dalam ruangan itu dari jendela. Menyandarkan dirinya di dinding dengan air mata yang hampir turun ke pipinya.
__ADS_1