Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 158


__ADS_3

Lily menatap rumah yang dulu di tinggalinya bersama dengan kedua orangtuanya. Suasananya tidak jauh berbeda, hanya saja sekarang lebih terawat dan indah dengan banyaknya bunga-bunga yang tumbuh disana.


Rumah satu lantai bercat putih sederhana dengan kaca besar dan pintu dari kayu jati yang masih kokoh sedari dulu.


Lily tersenyum.


"Mbak, mau masuk ke dalam?" Tanya Mentari setelah hampir lima belas menit mereka berdiri di luar.


Lily menggelengkan kepalanya.


"Kita pulang aja."


Bukan tanpa alasan mengapa Lily tidak mau masuk ke dalam sana. Lily takut dirinya akan kembali bersedih karena kehilangan kedua orangtuanya dengan cara yang mengenaskan.


Bayangan-bayangan kelam masa lalu nya membuat Lily selalu bermimpi buruk. Teriakan yang menggema dan darah yang berceceran dari tubuh keduanya sangat jelas dalam penglihatan Lily kecil saat itu.


Lily tidak habis fikir kenapa para perampok itu menyambangi mereka, keluarga yang tidak berpunya. Padahal jika di fikirkan rumah di sebelah Lily tentunya lebih besar dari rumah kecil miliknya. Halamannya juga lebih luas dari halaman sempit miliknya. Rumahnya lebih megah daripada rumah sederhana miliknya. Kendaraannya juga lebih banyak, dua mobil dan beberapa sepeda motor, sedangkan ayah Lily hanya mempunyai sepeda motor tua yang masih untung masih bisa di pakai pada saat itu.

__ADS_1


Lily kecil keluar dari tempat persembunyiannya dari dalam lemari gudang setelah ia yakin tidak mendengar lagi suara orang-orang asing itu. Perlahan ia membuka lemari pakaiannya, menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu dengan perlahan dan berjingkat ia keluar dari sana.


"Ibu...bapak...!" lirih Lily. Lily kecil masih terus berjalan sambil terus menghindari pecahan kaca dan vas bunga yang berceceran di lantai. Barang-barang sudah berserakan dimana-mana. Kursi yang sudah jungkir balik. Meja yang patah. Lukisan robek yang sudah tidak cantik lagi. Mata Lily membulat saat melihat kaki yang besar di balik pintu ruang tamu. Ruang tamu sama tak kalah berantakannya.


Lily berjalan cepat hampir berlari menghampiri kaki besar yang ia yakini adalah kaki sang ayah.


"Bapak!!" Lily mengguncang tubuh besar sang ayah yang tertelungkup. Di punggungnya menancap pisau dapur milik ibunya yang selalu di pakainya untuk memasak. Darah segar masih mengalir disana. Lily masih mengguncang tubuh sang ayah, berharap masih sang ayah masih merespon, tapi nihil.


"Bapak!! Hiks..bapak. Bangun pak."


"Pak!" tapi tidak ada jawaban. Mata ayahnya telah terpejam. Lily kecil kemudian berlari saat mengingat sang ibu. Dia berharap ibunya tidak terluka seperti dirinya. Dan ia berharap sang calon adiknya juga akan selamat. Tapi dugaan Lily salah. Setelah Lily berlari mengelilingi rumah dan membuka semua pintu yang ada Lily tidak menemukan ibunya. Lily berlari keluar untuk mencari pertolongan, tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok yang ia cari telah menggantung di dahan pohon dengan seutas tali tambang yang melingkari lehernya. Darah mengalir melalui kaki ibunya membasahi tanah di bawahnya. Kalau saja sang ibu ikut masuk ke dalam lemari di gudang bersama dengan dirinya tentu sang ibu masih bisa selamat.


Sejak saat itu Lily di asuh oleh pakdhe Yudha dan budhe Nani. Dan sejak saat itu pula rumah Lily kosong, setelah di bersihkan pakdhe Yudha memutuskan untuk menyewakan rumah tersebut, hingga Lily besar dan bisa memutuskan untuk tetap mempertahankan rumah itu atau melepasnya.


"Mbak, ayuh pulang, ibu dan bapak pasti udah nunggu." Mentari menarik tangan Lily. Lily terbangun dari bayangan masa lalunya dan mengangguk lalu mengikuti Mentari dan Bulan untuk pulang ke rumah pakdhe Yudha dengan berjalan kaki.


Tiga hari sudah berlalu. Lily sedang berada di dalam kamarnya, Mentari dan Bulan masih belum pulang sekolah. Suara telfon yang sedari kemarin berdering ia abaikan. Yeni dengan puluhan panggilan dan pesannya, Lily hanya membacanya dan tak sekalipun ia balas. 'Maaf Yen. Kalau hati Lily sudah tenang, Lily akan hubungi Yeni lagi.'

__ADS_1


Lima hari Lily di kediaman pakdhe Yudha. Budhe Nani merasakan ada hal yang aneh pada diri Lily, wajahnya seringkali murung, tapi tetap di paksakan tersenyum.


"Kenapa telfonnya gak di angkat toh, nduk?" tanya budhe Nani yang tiba-tiba datang ke kamar. Lily tersentak kaget. Lalu mematikan telfonnya yang sedari kemarin terus menyala.


"Ngelamun ya? Budhe udah ketuk pintu tapi kamu gak nyaut! Kenapa, toh?" Lily beringsut ke samping membiarkan wanita paruh baya itu duduk di sampingnya.


"Gak pa-pa kok budhe." ucap Lily sambil melesakan kepalanya di ceruk leher budhe Nani, tangannya ia lingkarkan di pinggang budhe Nani yang lebar, namun terasa nyaman saat di peluk. Budhe Nani mengelus kepala Lily dengan sayang.


"Kamu punya masalah sama suamimu?" Lily terdiam, bagaimanapun juga wanita ini tidak mudah untuk di bohongi, beliau sudah merasakan pahit, manis, asam nya kehidupan di setengah abad usianya.


"Kalau punya masalah mbok yo bicarain lagi sama suamimu. Gak baik loh marahan lama-lama."


'Seandainya budhe tahu kalau aku sudah mendapat talak.'batin Lily.


"Iya budhe." ucap Lily. "Ah ya budhe belum masak kan ya? Tari sama Bulan juga belum pulang kan? Ayo masak budhe. Una bantuin!" Lily berdiri menarik tangan budhe Nani. Budhe hanya menggeleng melihat kelakuan Lily yang sedari dulu tidak berubah. Berusaha mengalihkan pembicaraan.


Malam harinya Lily terbangun, sengaja sedari tadi siang hp ia matikan. Entah berapa ratus panggilan sekarang ia lihat dari beberapa nomor. Yeni, Bima, Adit, kedua mertuanya, dan juga ada beberapa yang lainnya. Pesan juga sangat banyak, berderet meminta untuk di baca dan di balas. Lily hanya membaca pesan dari Yeni degan linangan air mata dan dalam hati ia hanya bisa mengucapkan 'maaf'. Sedangkan pesan dari yang lainnya ia abaikan.

__ADS_1


Sudah seminggu Lily menginap di rumah pakdhe Yudha. Hari ini rencananya Lily akan pulang. Bukan. Lily akan pergi. Ada satu tempat yang akan menjadi tujuannya.


"Mbak, gak bisa gitu tinggal lama disini?" Tari bergelayut manja pada lengan Lily sedangkan Bulan menahan koper Lily, tanpa berbicara, Bulan lebih menunjukan sikap protesnya dengan sikap yang nyata daripada mengeluarkan suaranya, dia juga tidak mau di tinggal oleh sosok yang menyenangkan seperti Lily, tidak seperti Mentari yang selalu jahil padanya, meskipun usia mereka terpaut sepuluh tahun.


__ADS_2