
"Jadi itu cewek elo?" Joe sahabatku menepuk pundaku, aku menoleh padanya dan ku lihat dia tersenyum penuh minat.
"Bukan!" jawabku.
"Trus? Bukan cewek lo tapi main sosor aja!" senyumnya menyindir.
"Gak tahu ah gue. Bingung gue sama makhluk yang namanya cewek!" ucapku sambil mengedikan bahu. "Yok ah, gue traktir minum!"
"Kuy!" serunya sambil merangkul bahuku.
Sejak malam itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Bayangan dia selalu datang, saat aku tidur atau bahkan saat mataku terbuka. Bodohnya aku bahkan selama ini aku tidak tahu namanya!
Hingga pada saat itu, aku melihatnya lagi, sebetulnya Joe yang lebih dulu mengenali gadis itu. Dia bersama pria yang dulu memboncengnya di atas motor. Terlihat seperti sedang berdebat.
__ADS_1
"Ian, lihat itu cewek elo kan?" seru Joe yang saat itu duduk di sebelahku. Dia menunjuk ke jalan di sebelah kafe. Kami baru saja pulang dari makan siang.
Aku tidak peduli. Tepatnya tidak mau peduli.
"Eh berhenti deh. Kayaknya dia lagi butuh bantuan." Aku tetap cuek. Setiap manusia punya masalah, dan salah satunya mereka. Joe menatap ku tidak percaya. Dia kesal sendiri.
Aku tetap melajukan mobilku dengan perlahan karena jalanan lumayan ramai. Sesekali melihat dari kaca spion di depanku. Bayangan gadis berponi itu terlihat dengan sangat jelas. Aku mengeratkan pegang tangan ku pada kemudi saat melihat gadis itu jatuh karena di dorong dengan keras ke trotoar jalanan. Lalu satu tendangan mendarat di pahanya, di susul dengan tendangan lain yang ku kira tidak lah pelan. Pria itu menunjuk-nunjuk ke arah gadis yang sudah terduduk tak berdaya.
Aku menghentikan laju mobilku mendadak, membuat Joe tersentak dan hampir saja dahinya mencium dashboard. Para pengendara di belakangku saling berteriak dan suara klakson terdengar nyaring saat laju kendaraan mereka terhenti karena ulahku.
Aku terus berjalan menghampiri gadis yang entah kenapa tidak mau melawan. Apa semua gadis lemah? Padahal waktu itu dia dengan berani naik ke dalam mobil balapku dan mengatakan tidak masalah dengan kematian, tapi kenapa di hadapan manusia yang satu ini dia tidak berdaya? Aisssh akan ku marahi dia saat aku sudah menyingkirkan laki-laki itu!
Dengan cepat aku berjalan ke arahnya, pria itu hampir saja melayangkan tangannya ke arah wajah si gadis berponi kalau saja aku tidak segera kesana. Beberapa orang berada disana tapi kenapa tidak ada salah satu pun orang yang membantu gadis ini. Apa mereka sudah kehilangan hati nuraninya?
__ADS_1
"Siapa lo berani pegang tangan gue?!" serunya dengan tatapan melotot, hampir saja bola mata itu keluar dari tempatnya. Dia meringis saat aku meremas tangannya dengan keras. Ada gunanya juga aku sering fitnes dan berolahraga.
"Mas. Mas rian..!" gadis itu beranjak dari tempatnya lalu menarik-narik lenganku. "Lepasin mas. Lepasin dia!" pintanya seiring dengan air mata yang berderai dia memohon. Aku menatap gadis itu, masih dengan meremas tangannya pria di depanku.
"Lepasin? Oke aku akan lepasin tangan pria ini dari tempatnya." aku tersenyum senang. Gadis itu melotot begitu juga dengan pria di depanku ini yang terkejut dan takut.
"Mas, jangan apa-apain dia mas. please."ucapnya takut.
"Kamu berani sama aku?" ucapnya dengan nada bergetar. Dia tersenyum. "Kamu gak tahu kan siapa ayahku?"
"Siapa?"
"Frederick. Ayah aku Morgan Jonathan Frederick!" ucapnya bangga.
__ADS_1
"Kalau ayah ku tahu apa yang kamu lakukan, kamu pasti tidak akan selamat!" ancamnya.