Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 261


__ADS_3

Sore ini Santi membawa Syifa dan si kembar ke taman. Mereka sangat aktif dan cepat bosan, terutama Arkhan dan Azkhan, jika di rumah saja, bisa jadi seluruh rumah seperti habis diguncang gempa. Berantakan akibat ulah duo rusuh itu. Berlarian kesana kemari hingga membuat Santi lelah. Ratna, pengasuh Syifa, sudah berhenti sejak dua tahun yang lalu untuk menikah.


Pernah satu kali Lily mengambil pengasuh dari yayasan, tapi pengasuh itu tidak sabaran hingga tangan Azkhan biru akibat cubitan. Seketika itu juga Lily mengembalikan pengasuh itu ke yayasan. Dan sejak saat itu Lily tidak mau lagi mengambil asisten untuk mengurus putra-putri mereka. Lily jadi tidak percaya lagi dengan orang asing untuk menjaga kedua putranya. Cukup Lily dan Santi yang akan bekerja keras untuk mengasuh tiga anaknya yag masih kecil. Yumna juga terkadang ikut turun tangan menjaga adiknya.


Santi duduk di atas bangku sedangkan Syifa bermain ayunan dan duo rusuh bermain seluncuran. Santi memainkan hpnya sesekali memeriksa keberadaan ketiga anak asuhnya.


Suara telfon berbunyi. Santi mencari tempat yang agak tenang, tapi juga tidak jauh dari sana untuk tetap bisa memantau ketiganya.


Seorang anak laki-laki bertubuh tambun datang ke dekat Syifa. Dia mengganggu Syifa dengan menarik-narik ikatan rambutnya. Syifa menghalau tangan anak laki-laki itu. Seketika dia ketakutan saat tidak melihat Santi di tempatnya.


Syifa yang punya hati lembut, mulai terisak. Dia terlalu takut untuk melawan.


Azkhan menarik tangan kakaknya. Arkhan yang baru saja akan meluncur berhenti dan melihat ke arah yang di tunjuk sang adik. Syifa tengah menangis.


"Dia lagi!" ucap Arkhan kesal. "Ayo!" dia menggerakkan tangannya mengajak Azkhan untuk membantu sang kakak. Arkhan tanpa takut meluncur dengan posisi berdiri di ikuti oleh Azkhan yang berlaku sama. Kedua anak itu berlari menuju Syifa.


"Awas kamu, aku mau main ayunan!" terdengar suara anak tambun itu mengusir Syifa, tangannya tidak berhenti menarik ikatan rambutnya.


"Itu ada yang kosong!" teriak Syifa kesal dengan menunjuk ayunan kosong di sebelahnya.


"Tapi aku mau yang ini!" Anak itu mendorong Syifa hingga terjengkang ke belakang. Punggungnya mendarat ke tanah dengan bebatuan kerikil dengan keras. Syifa lalu duduk dan menangis.


"Hei, kamu kalau berani jangan sama Syifa!" teriak Azkhan.


Bayu, anak bertubuh tambun itu, menoleh pada Azkhan dan Arkhan, lalu tersenyum. Usia Bayu terpaut dua tahun di atas mereka, tapi Arkhan dan Azkhan tidak pernah takut.


"Kamu berani sama aku?" tanya Bayu dengan sombongnya.


"Jangan ada yang gangguin Syifa kecuali kami!" teriak Arkhan.


"Iya, yang boleh gangguin Syifa itu cuma kami. Yang lain gak bo-leh!" ucap Azka menambahkan dengan penuh penekanan di akhir kalimat.


Bayu mendekat dan mendorong Azkhan hingga jatuh tersungkur. Dia hendak melakukan hal yang sama pada Arkhan, tapi Arkhan segera mengelak. Arkhan membantu adiknya bangun.


"Satu." ucap Arkhan. Azkhan yang mengerti lalu melanjutkan.


"Dua!"


"TIGAAA!!!" teriak mereka bersamaan sambil menautkan tangan mereka dan berlari ke arah Bayu, mendorong Bayu hingga jatuh tersungkur ke tanah.


Bayu meringis kesakitan, bangun dan mengelus pantatnya yang sakit. Lalu berlari ke arah pengasuhnya sambil menangis.

__ADS_1


Arkhan dan Azkhan membantu Syifa berdiri, dan menepuk baju Syifa yang kotor dari debu.


Santi yang baru saja kembali usai menutup telfonnya terkejut karena melihat Syifa menangis. Dia segera mendekat ke arah anak asuhnya.


"Kalian ngapain Syifa?" Santi menoleh bergantian pada keduanya.


"Gak ngapa-ngapain. Tadi Syifa di ganggu sama anak itu!" tunjuk Azkhan ke arah Bayu yang kini mendekat bersama sang pengasuh.


"Bener Syifa?" Syifa menggosok matanya, mengangguk. Dia ketakutan saat melihat Bayu mendekat, Syifa sembunyi di balik tubuh Santi yang kini berdiri.


"Mbak, kalau ngasuh anaknya yang bener dong! Ini anak asuh saya di serang sama dua kembar nakal ini!" pengasih Bayu sewot sambil menunjuk Arkhan dan Azkhan bergantian.


"Maaf ya, mbak. Meskipun mereka nakal, tapi mereka juga gak akan sembarangan nyakitin orang lain tanpa sebab!" Bela Santi.


"Tapi mereka udah bikin anak asuh saya lecet, lihat!" tunjuk wanita muda itu pada lengan Bayu yang terdapat sedikit lecet.


"Dia juga dorong Syifa dari ayunan!" Azkhan membuka mulut sambil menunjuk Bayu yang kini melotot. "Kalau gak percaya lihat aja punggung Syifa!" ucap Azkhan lagi.


"Gak mungkin!" kata wanita muda itu emosi. Dia tidak takut atau bicara sopan sedikit saja pada Santi yang jelas lebih tua darinya.


Santi berjongkok mengelus kepala Syifa.


"Ada yang sakit? Bilang sama ibu!" Syifa hanya diam, dia melihat ke arah Bayu, lalu menunduk takut.


Santi membalikan tubuh Syifa lalu membuka sedikit kaosnya. Disana terdapat beberapa lecet dan sedikit berdarah, tapi lebih banyak daripada lecet di tangan Bayu.


"Mbak bisa lihat anak asuh saya lukanya gimana?" Santi menunjuk pada punggung Syifa, tapi wanita muda itu tetap keukeuh dan ngeyel, tetap anak asuhnya tidak mau di salahkan.


"Oke disini ada CCTV, kita bisa minta sama pak security buat lihat apa yang terjadi. Kalau anak asuh mbak yang salah jangan salahkan kami kalau... ya mbak tahu lah! Bukan cuma perusahaan pak Danu yang akan jatuh yang berarti mbak juga akan kehilangan pekerjaan kan? Pak Bima bisa dengan gampang membalikkan perusahaan majikan kamu. Dan tahu apa selanjutnya? Pak Danu bukan orang yang lembut kan? Dan dia akan menyalahkan kamu, atau mungkin akan meminta sesuatu yang berharga untuk ganti rugi karena perusahaannya bangkrut, akibat...?" Santi menjeda ucapannya. Santi terpaksa mengeluarkan ultimatum, menghadapi wanita muda ini tidak akan gampang dia sangat pintar sekali adu mulut.


Pengasuh Bayu itu terkejut tidak bisa lagi berkata apa-apa. Benar, jika sampai mereka memperkarakannya aku bisa gawat! batin wanita itu.


"Ya itu sih terserah. Mau melanjutkan atau minta maaf?" tanya Santi sambil memainkan kuku tangannya yang rapi.


Pengasuh Bayu merasa di rendahkan, tapi juga tidak bisa berkutik lagi. Santi memang tidak bisa di remehkan. Bahkan terlihat sangat jelas perbedaan antara dirinya dan Santi. Santi seperti di anak emaskan oleh majikannya, tanpa seragam pengasuh dan tubuhnya terlihat terawat. Lihat saja meskipun Santi seorang pengasuh tapi penampilannya juga tidak jauh dari Lily. Bahkan perawatan tubuh pun Santi dan asisten yang lain mendapatkannya sebagai bonus bulanan mereka.


Akhirnya tanpa kata maaf pengasuh Bayu menarik anak tambun itu pergi menjauh dengan penuh rasa emosi.


"Yeee ibu Santi, hebat!!" seru duo rusuh melompat senang dengan mengangkat dua jempolnya. Lalu terdiam saat melihat Santi menaruh kedua tangannya di pinggang. Wajahnya di buat marah.


"Dasar, anak nakal!" ucap Santi sambil melotot.

__ADS_1


Mereka pun pulang.


"Kalian bisa lawan si Bayu itu?" Tanya Santi pada duo rusuh yang berjalan di depan.


"Bisa doong, kita kan hebat!" seru Arkhan sombong.


"Iya, kita kan hebat. Kita bisa lawan monster itu karena menyatukan kekuatan kita!" Arkhan dan Azkhan saling tos ria. Lalu mempraktekan saat tadi mereka mengalahkan si Bayu tambun itu!


"Haahh, kalian pasti lihat video smackdown lagi ya?" tanya Santi saat melihat gerakan keduanya. Arkhan dan Azkhan hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi susu mereka.


"Awas ya. Ibu laporin kalian ke mama sama papa kalau kalian masih suka nonton smackdown."


"Ih ibu Santi mah. Kita kan juga lihat video itu buat latihan, lihat kan? Kita bisa jagain Syifa." Ucap Arkhan sedikit kesal.


"Bilang aja, kalau cuma kalian yang bisa gangguin Syifa. Ibu tahu sifat kalian!"


"Hehe." Keduanya hanya menyengir ria, lalu berlari masuk ke dalam gerbang.


Santi membawa Syifa ke kamarnya di lantai atas dan mulai mengobati luka Syifa dengan alkohol.


Syifa hanya sedikit meringis merasakan perih, dengan telaten Santi meniupi luka Syifa.


"Syifa. Kalau ada yang jahat atau gangguin, Syifa boleh kok melawan!" Santi berujar.


"Kalau orang lain marah karena Syifa melawan bagaimana?" tanya Syifa takut.


"Syifa ingat gak, waktu Syifa di gigit semut?" Syifa mengangguk. Lalu menghadap Santi yang telah selesai mengobati Syifa.


"Semut juga gak akan gigit kalau gak ada yang ganggu. Itu sebagai pertahanan diri. Melawan itu gak salah. Terkadang kalau kita cuma diam saja malah orang lain akan jahatin kita terus karena merasa Syifa itu takut buat melawan. Berapa kali Bayu jahilin kamu hem?" tanya Santi.


"Banyak."


"Lain kali kalau ada yang jahat lagi Syifa jangan diam aja, oke? Syifa harus berani seperti Arkhan dan Azkhan!"


"Tapi kan mereka laki-laki."


"Bukan hanya laki-laki saja yang boleh melawan atau berani. Perempuan juga boleh. Ingat yang selalu ibu ceritakan setiap malam?" Syifa mengangguk.


"Ibu mau kamu seperti mereka. Seperti ibu Kartini yang samaratakan perempuan dengan laki-laki. Seperti Cut Nyak Dien yang pemberani. Syifa bisa?" Syifa mengangguk.


Santi mengambil Syifa ke dalam pelukannya dan mencium kepala Syifa dengan sayang.

__ADS_1


__ADS_2