Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 82


__ADS_3

Bodoh. Aku takut karena pemikiranku sendiri. Mana ada hantu di jaman sekarang kan?!


"BOOM!!!"


"Aaaa!!!" Suara ku kembali dan menggelegar memenuhi ruangan.


Aku terjengkang terkejut melihat wajah mengagetkan di depanku dengan pakaian putih kebesaran menjuntai ke lantai. Hpku jatuh ke bawah. Dan aku juga terjatuh karena terbelit selimutku saat akan melarikan diri.


"Hahaha." suara seseorang tertawa membuat aku membalikan badanku. Tidak mungkin kan hantu tertawa seperti itu. Tawa hantu seharusnya terkikik menakutkan. Bukannya terkikik hingga terbatuk-batuk.


"Aduh. Haha. Uhukk-uhukk!!"


Aku membebaskan kakiku dari selimut lalu dengan cepat mengarahkan lampu hias yang ada di atas meja di samping sofa ke arah tawa itu.

__ADS_1


Lily!!!


Oh My God!! Aku merasa bodoh sekarang. Tadi dia mengusirku sekarang menertawakan aku?!!!


Lily sedang tertawa di atas sofa sambil memegangi perutnya dengan kedua tangan, selimut putih yang ia pakai tergeletak begitu saja di lantai. Sesekali ia memukul-mukul sofa lalu mengusap air matanya yang keluar karena banyak tertawa.


Awas saja anak itu. Berani-beraninya dia membuat aku takut!


Lily bangkit dan berlari saat aku mulai mengejarnya. Dia menghamburkan apapun yang ada disekitarnya hingga berserakan di lantai. Dia lalu berlari ke arah kamar yang terbuka sedikit. Tapi aku lebih cepat darinya hingga dia terlambat menutup pintu kamar dan aku sudah berhasil masuk ke sana.


"Beraninya kamu?!!" seruku.


"Maaf. Maaf." ucapnya masih dengan tawa yang tidak bisa dia hentikan. Aku mengambur ke arahnya meraih tubuhnya dan membantingkan tubuhnya di atas kasur lalu menggelitikinya di ketiak di pinggang dan perutnya.

__ADS_1


"Ampun, mas. Ampun." teriaknya meminta ampun. Tapi aku terlanjur kesal padanya. Aku masih terus menggelitiki Lily hingga dia mengeluarkan air mata karena banyak tertawa.


Aku mengunci pergerakan tangan Lily di samping tubuhnya. Wajahnya tepat berada di bawah wajahku, sangat dekat. Nafas kami saling menderu karena lelah. Lily lelah tertawa, dan aku lelah karena membuat dia tertawa. Aku menatap wajahnya yang masih memerah. Nafasnya mulai teratur, dadanya naik turun, menempel dengan dadaku. Bibirnya melengkung ke atas. Seksi. Manis. Hangat. Nafasnya terasa jelas di kulit pipiku.


Aku menjauhkan diriku. Melepas cengkeraman tanganku darinya. Lily membuka mata dan terlihat kecewa. Aku mengusap sudut bibirku yang basah karena salivanya lalu berdiri. Lily masih di tempatnya, nafasnya masih terengah. Ku lihat dia duduk dan memandangku sebelum aku pergi meninggalkannya dan keluar dari kamar itu.


Ku pandang langit-langit kamar berwarna putih di atasku. Wangi aroma mawar jelas tercium di sekitarku. Dinding bercat soft pink menghiasi ruangan ini dengan beberapa foto yang menempel di sana. Langit di luar masih sangat gelap. Pandangan mataku kosong, fikiranku melayang jauh entah kemana. Tapi satu yang aku fikirkan kenapa aku bisa menciumnya seperti itu? Memang bukan kali pertama, tapi rasanya aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku bodoh! Aku seperti terhipnotis olehnya. Aku melakukannya lagi! Sekali waktu di Bali. Ingat?


Oh My....! Ada apa denganku!!!Kenapa aku?


Aku harus ingat bahwa ada Dena yang mungkin menunggu ku disana. Hidup berpoligami dan aku jelas-jelas tidak bisa adil pada keduanya! Eh. Lily kan hanya sementara. Dan dia akan bebas saat perjanjian ini berakhir. Atau kalau aku bisa meyakinkan Dena untuk berpisah dengan Lily.


Ya. Aku harus mencari alasan agar Dena tidak marah saat itu nanti! Bagaimanapun juga aku harus mencari alasan yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2