
Kedua orangtua Bima sangat terenyuh melihat nasib sang putra satu-satunya. Kurus dan tidak lagi sesegar dulu saat masih ada Dena ataupun Lily. Mereka juga mengutuk Bima, tapi juga kasihan setelah tahu semua tentang kisah mereka, tentang pernikahan mereka yang di dasari dengan perjanjian.
"Bimbim, sayang." panggil Ratih mengelus kepala Bima dengan sayang. Bima sedang meringkuk di atas tempat tidurnya.
"Bima gak suka mama panggil Bima pake nama itu." ucap Bima tanpa menoleh pada sang mama. Ia malah berbalik sambil mengeratkan selimut pada dirinya. Ya ampun sikap Bima seperti anak keci yang merajuk minta di belikan permen.
"Hei, udah dong. Kita turun yuk. Papa mau bicara sama kamu."
"Soal apa?"
"Gak tahu. Ayo mendingan kita turun lalu dengarkan papa."
Bima pun menurut meskipun dengan enggan karena dirinya sangat lelah sekarang. Tiga bulan pencarian Lily dan belum membuahkan hasil. Lelah sudah pasti. Merasa bersalah dan merutuki dirinya sendiri selalu di lakukannya setiap hari.
Tiga orang itu duduk di ruang keluarga. Adi menatap wajah sang anak yang berubah drastis. Kemana anak ganteng yang selama ini ia banggakan?
"Papa minta kamu besok ke Jogja untuk memantau restoran yang baru saja papa kelola."
"Ya ampun pa. Hanya restoran mah kan manager nya juga bisa!" tolak Bima. Bima hanya ingin kembali mencari Lily di sela waktunya mengurus kantor.
__ADS_1
"Lebih baik kamu yang pantau perkembangan disana, Bima! Besok papa harus kembali ke luar negeri untuk mengurus bisnis papa yang sudah papa abaikan karena masalah kamu!" Bima hanya menunduk sadar akan kesalahannya. Semua kacau karena dirinya.
***
Bima Satria.
Sudah lama aku tidak datang ke kota kenangan ini. Terakhir saat beberapa bulan yang lalu sebelum Dena meninggal untuk mencari Una.
Jauh sebelum itu. Pertama kalinya aku mencari Una saat aku masih kuliah. Harusnya waktu itu aku datang tepat waktu, tapi sayang sekali dia sudah pergi sangat lama. Paman bilang waktu akan masuk SMP dia di bawa oleh kakak dari ayahnya ke Bandung.
Ya ampun. Una, si gadis kecil yang tidak pernah pergi dari bayanganku. Hingga membuat aku hampir gila.
Aku kembali ke rumah ini, masih sama seperti beberapa bulan yang lalu saat aku mencarinya. Aku menyadari perasaanku sejak dulu. Aku hanya berusaha menyangkalnya dan ingin kehidupan normal seperti yang lainnya, tidak dengan bayang-bayang gadis kecil yang mungkin entah dia masih ingat aku atau tidak.
"Mas cari siapa?" seorang gadis muda menghampiri aku yang sedang berdiri di luar pagar. gadis yang sama seperti beberapa bulan yang lalu. Aku menggeleng.
"Tidak mbak." Aku menganggukan kepalaku dan berlalu dari hadapannya, masuk ke dalam mobil yang aku sewa. Seperti de javu dengan beberapa bulan yang lalu. Begitulah setiap kali aku kesini. Menyambangi rumah Una lalu menatap bekas rumahku dari kejauhan.
Aku kembali mengendarai mobilku. Ku putuskan untuk pergi ke suatu tempat.
__ADS_1
Angin laut bersemilir pelan. Bau amis dari beberapa ikan asin yang terhampar di atas anyaman bambu menyeruak ke dalam indera penciumanku.
Mataku berkaca-kaca saat melihat garis pantai yang bertemu dengan ombak. Ombak berlarian saling berkejaran dengan sangat besar di bulan-bulan tertentu, hingga para nelayan tidak berani berangkat melaut seperti sekarang ini, tapi bukan itu yang membuat aku sedih.
Angin laut bertiup sangat kencang membuat rambutku tidak pernah bisa diam di tempatnya. Hamparan pasir hitam yang lembut memijat kakiku yang tanpa alas kaki dengan sangat nyaman. Perlahan bayangan-bayangan itu muncul lalu tenggelam dan muncul lagi seiring dengan berkedipnya kedua mataku.
Aku sangat merindukan Una-ku, setelah selama ini berusaha menyangkal kehadirannya dalam hidupku karena aku berusaha fokus pada orang yang mencintaiku. Tapi setelah kepergian Dena bayangan Una semakin menggila dalam otak ku.
'Na, tidak tahukah kamu sepeninggal kamu aku tersiksa disini? Bayangan itu terus muncul dan gak pernah mau pergi. Aku harus bagaimana? Biasanya kamu selalu peluk aku saat aku terpuruk, tapi saat ini aku bingung. Siapa yang akan menenangkan aku? Lily?Dia sudah pergi Na. Karena kesalahanku. Maaf. Aku gak bisa seperti yang kamu harapkan.'
'Aku bukan suami yang baik, Na. Aku jahat karena sudah melukai hati kamu dan juga Lily! Kalian adalah dua wanita yang sama-sama mencintai pria bodoh seperti aku, yang tidak bisa terlepas dari masa lalu. Aku bodoh, Na. Aku jahat! Maafkan aku Lily!
"Mas! Eling mas! eling!" suara seorang pria paruh baya terdengar lirih, semakin lama semakin terdengar jelas mengalahkan debur ombak. Aku menatapnya. Dia sudah menarik tanganku dengan wajah panik. Pakaianku sudah basah setinggi pinggang, dia berusaha menarikku dan kini kami sudah berjalan kembali ke bibir pantai.
"Mbok yo kalau punya masalah di bicarakan toh mas. jangan berfikir pendek. Bahaya!" ujarnya sambil terus menarikku ke tepian.
"Lebih baik mas pulang. Tidak baik disini. Kasihan istri pasti lagi nungguin di rumah! Di bicarakan lagi yo?!" serunya lalu pergi dari hadapanku. Aku masih terdiam mematung merasakan air yang terus mengucur melewati kakiku.
Kenapa aku ini? Aku tidak sadar kalau aku berjalan perlahan ke dalam ombak.
__ADS_1