Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 250


__ADS_3

Lily sedang berjalan-jalan di pelataran rumah sakit. Dari semalam dia merasakan kontraksi. Bima gelisah, tidak hentinya dia menemani Lily berjalan-jalan. Di belakang mereka dengan setia Santi selalu mengikuti dengan mendorong kursi roda. Berjaga-jaga jika tiba-tiba Lily tidak tahan.


Yumna di titipkan di rumah Adit. Sedangkan Ratih dan Adi baru saja terbang dari Singapura setelah Bima menelfon, begitu juga dengan Melati dan Hadi. Beruntung mama Puspa masih ada di rumah Adit.


"Sayang, kamu pakai kursi roda ya. Kamu pasti capek!" usul Bima. Pasalnya Lily sudah berjalan semenjak dari jam empat pagi tadi dan sekarang sudah hampir jam delapan pagi.


"Enggak mas, dokter bilang berjalan-jalan bagus buat lahir nanti. Dulu waktu lahiran Yumna juga aku gak lama." terang Lily dengan senyuman, tapi Bima tetap saja khawatir.


"Tapi ini kan masih kurang seminggu dari perkiraan kan?" tanya Bima bingung. Lily mengangguk. "Apa karena semalam aku terlalu keras?" Lily menoleh ke arah belakang. Santi terlihat menahan tawanya.


"Kalu ngomong jangan keras-keras! Di dengar Santi kan?!" geram Lily. Bima hanya menyengir kuda, menyadari kesalahannya.


Mereka melanjutkan acara berjalan-jalan ringan, sesekali Lily berhenti saat merasakan sensasi linu di bawah 'sana'. Lily meringis sambil memegangi perutnya.


"Apa sudah saat nya?" tanya Bima. khawatir.


"Belum. Ini masih sepuluh menit kan? Masih lama mungkin."


"Ayo ke dokter. Santi bawa sini kursi rodanya." Santi segera menghampiri.


"Aku kira belum mas." Tapi Bima memaksa Lily untuk duduk di atas kursi roda dan mendorongnya dengan cepat ke ruangan Lily dimana sudah di pesan oleh Bima. Bima segera memanggil dokter.

__ADS_1


Lily pasrah, sudah berulang kali memanggil Bima dan menjelaskan, tapi Bima yang panik tidak mau mendengar.


"Dokter. Dokter!! Istri saya mau melahirkan, tolong!!" seru Bima saat berpapasan dengan dokter yang menangani Lily di lorong barusan. Bima terus mendorong kursi roda dan membawa Lily ke kamar kemudian memindahkan Lily ke ranjangnya.


Dokter segera menghampiri Lily dan menyelimutinya. Lalu meminta Lily untuk melipat dan membuka kedua kakinya lebar-lebar. Dokter itu menggunakan sarung tangannya dan memasukan satu jari ke dalam 'sana'. Lily meringis merasakan rasa linu.


"Ini masih pembukaan ke empat. Masih lama sampai pembukaan terakhir pak." dokter menerangkan setelah selesai memeriksa.


"Tidak bisa biar lebih cepat melahirkannya dokter?" tanya Bima tidak sabar.


Dokter tersenyum geli melihat tingkah Bima.


"Minimal satu pembukaan satu jam, pak. Mungkin bisa lebih cepat atau lebih lambat dari itu. Dan kalau mau lebih cepat lagi sekarang juga bisa, tapi harus masuk meja operasi."


Dokter pamit untuk memeriksa pasien yang lain. Lily berusaha bangun di bantu oleh Bima. Kali ini Lily berjalan di dekat ruangannya.


"Setelah anak ini lahir, kamu gak usah hamil lagi ya." ucap Bima. Lily menatap Bima yang kini memapahnya.


"Katanya mau anak lima!" goda Lily.


"Enggak! Kamu kesakitan gitu. Aku gak tega!" ucap Bima lagi.

__ADS_1


Beberapa jam berlalu. Bima memaksa Lily untuk makan lebih dulu. Bima menyuapinya dengan telaten. Mata Bima basah melihat Lily kembali merasakan nyeri.


"Kenapa mas?" tanya Lily menyusut ujung mata Bima. Bima hanya menggeleng.


"Aku kasihan sama kamu. Andai saja kalau bisa rasa sakit itu pindah ke aku." ucap Bima.


Lily tertawa pelan. "Mana bisa!" ucapnya smbil memukul lengan Bima.


Santi yang melihat majikannya dari kejauhan tersenyum senang. Mereka terlihat sangat romantis, walaupun terkadang tidak tahu tempat untuk merealisasikannya. Yang jatuh cinta mah serasa dunia milik berdua, yang lain mah ngontrak aja! Dalam hati dia juga ingin memiliki pasangan hidup seperti Bima. Setia dan penyayang.


Suara derap langkah kaki terdengar bersamaan mendekat ke arah mereka. Ratih dan Adi. Mereka dari bandara langsung menuju ke rumah sakit.


"Sayang." panggil Ratih. Lily menoleh mendapati Ratih yang terengah.


"Mama, kapan datang? Bukannya mama baru saja ke Singapura kemarin?" tanya Lily heran.


"Aku yang telfon." ucap Bima.


"Kamu ini mas! Kenapa telfon mama. Kan mama sama papa mungkin sibuk!" protes Lily.


"Kamu bicara apa sih? Gak ada yang lebih penting dari kalian. Kalian itu kebahagiaan mama! Mana mungkin mama melewatkan kelahiran cucu mama lagi!" ucap Ratih dengan nada sedikit tinggi.

__ADS_1


Lili menunduk. Sadar dengan ucapan mama Ratih barusan. Pastilah maksud Ratih waktu kelahiran Yumna dulu.


__ADS_2