Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 237


__ADS_3

Akhir-akhir ini Bima selalu pulang larut. Perusahaannya mulai berkembang lagi, dia di sibukkan dengan segudang pekerjaan. Bahkan tidak jarang dia membawa pekerjaannya pulang ke rumah, sudah tiga hari ini kepalanya pusing akibat pekerjaan yang menumpuk.


Bima sedang berada di ruang kerjanya. Lily masuk ke dalam sana dengan secangkir kopi hitam di atas nampan.


"Mas apa gak sebaiknya kamu istirahat dulu. Ini udah malam loh." Ucap Lily lalu menyimpan cangkir kopi di atas meja.


Bima mendongak melihat wajah sang istri. Di peluknya Lily yang berdiri di sampingnya. Bima menempelkan kepalanya di perut rata Lily.


"Aku masih banyak kerjaan. Kalau kamu ngantuk tidur duluan, sana!" titah Bima. Lily mengelus rambut Bima. Bima menggesekkan hidungnya di perut Lily. Lily terkikik karena geli.


"Tidur yuk. Aku gak bisa tidur.. kalau...umm..kalau gak ada kamu." ucap Lily lirih hampir tak terdengar. Bima tersenyum lalu menarik Lily lebih dekat lagi. Sekarang Lily duduk di atas pangkuan Bima dengan kedua kaki terbuka.


"Kamu manja sekarang hem?"


"Emang Kenapa? Gak boleh?" tanya Lily sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Bima.


"Boleh. Malah, aku suka!" senyum Bima nakal.


Lily mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya di bibir Bima. Bima tersenyum senang tidak biasanya Lily memulai lebih dulu.


Tangan Bima bergerilya dari luar baju tidur satin milik Lily, memainkan sesuatu yang membuat Lily mengeluarkan suara seksinya.


Lily melepaskan ciumannya dan menahan tangan Bima. Bima terlihat kecewa.


"Tidur yuk."


"Olahraga dulu?" mohon Bima. Lily mengangguk. Bima berdiri sambil mengangkat tubuh istrinya. Lily mengeratkan lingkaran kakinya ke pinggang Bima dan kedua tangannya di leher Bima. Mereka berjalan melewati pintu yang terhubung antara ruang kerja Bima dan kamar tidur mereka sambil mencecap rasa bibir masing-masing.


Bima merebahkan Lily dengan hati-hati di atas kasur. Lalu mulai melucuti satu persatu kain yang menutupi tubuh mereka.


Pagi menjelang. Lily sudah lebih dulu bangun dan selesai menyiapkan sarapan. Sedang Bima masih tertidur dengan pulas.


Lily berjalan masuk ke dalam kamar, seperti biasa dia sudah membuat kopi cappuchino untuk Bima. Bima terbangun dari tidurnya saat merasakan bau pada hidungnya.


Bima membuka mata. Kepalanya terasa berdenyut.

__ADS_1


"Pagi mas." sapa Lily.


"Pagi sayang!" Bima membuka kedua tangannya lebar-lebar. Lily yang mengerti langsung mendekat. Ciuman wajib di awal pagi pun membuat mood Bima membaik seketika. Hanya saja pusing yang menderanya semakin menjadi.


"Kamu sakit mas?" Tanya Lily saat Bima terlihat pucat wajahnya.


"Cuma pusing!" ucap Bima.


"Ya udah kamu mandi terus kita sarapan, aku siapkan obat!" Tapi bukannya bangun Bima malah menarik tangan Lily hingga terjatuh di atas dadanya.


"Morning s**?" Bima dengan puppy eyes-nya.


"Enggak, aku udah mandi!" Lily menarik tubuhnya tapi sulit. Pelukan Bima terlalu erat tidak bisa di lepaskan.


"Awas aku mau lihat Yumna!"


Bima terpaksa melepaskan istrinya. Tapi bukan Bima namanya kalau tidak bisa membuat Lily patuh. Bima bangun dengan tubuh polosnya dan menarik Lily saat Lily belum sampai di pintu. Menggendongnya seperti karung beras di pundak lalu membawa istrinya ke dalam kamar mandi. Bima menurunkan Lily di dalam bathtub dan dengan cepat menyalakan air hangat hingga baju Lily basah.


"Mas!!" Teriak Lily marah. Bima hanya tersenyum lalu mendudukan dirinya di dalam bathtub bersama istrinya.


Bima, Lily dan Yumna sarapan bersama. Bima hanya terlihat mengaduk makannya.


"Mas makan dulu dong. Terus nanti minum obat." ucap Lily.


"Iya." ucap Bima malas lalu memasukan satu suapan nasi goreng udang ke dalam mulutnya. Mencoba mengunyahnya dan menelannya dengan susah payah meski terasa enggan.


Kepala Bima semakin berdenyut. Perutnya juga terasa mual.


Bima lari ke dalam kamar mandi, lalu memuntahkan isi dalam perutnya di wastafel. Lily datang menghampiri memijit tengkuk Bima.


"Kamu kenapa mas? Pasti masuk angin ini! Kamu sih akhir-akhir ini kerja lembur terus gak inget waktu!" ucap Lily kesal dan khawatir.


"Sudah yang. Kamu sana keluar. Jijik!" ucap Bima lalu membasuh wajahnya.


"Gak pa-pa. Makanya kalau kerja itu jangan kelewat jam malam mas, pasti akhir-akhir ini kamu juga gak bener makan. Udah gitu mandi sering lama-lama lagi!" Bima tersenyum mendengar cerocosan istrinya. Karena siapa juga kan jadi mandi lama-lama!

__ADS_1


Dia kembali memuntahkan isi perut nya tapi tidak ada yang keluar. Lily masih membantu Bima mengusap tengkuknya.


Bima keluar dari kamar mandi di bantu Lily. Badannya lemas. Kepalanya pusing.


"Papa kenapa ma?" tanya Yumna.


"Papa sakit sayang!" ucap Lily.


Yumna mendekat dan naik ke atas pangkuan Bima. Menempelkan punggung tangan mungilnya di kening sang papa.


"Papa gak panas!" ucap Yumna.


"Mungkin papa masuk angin!"


"Masuk angin?!" Kening Yumna mengerut lucu. "Kok bisa angin masuk?" tanya Yumna polos.


"Papa cuma kecapekan aja." jawab Bima sambil mencubit hidung Yumna gemas.


"Kamu jaga kesehatan dong mas. Jangan keseringan lembur!" protes Lily sambil menyesuaikan obat pada Bima.


"Iya mama!" Bima mengambil obat sakit kepala lalu menenggaknya.


Acara sarapan selesai. Lily dan Yumna mengantar Bima ke mobilnya. Bima mengecup kening Yumna, lalu berganti dengan istrinya. Yumna berlari terlebih dahulu ke dalam rumah untuk melihat film kartun kesukaannya.


"Inget, jangan lembur nanti. Pulang tepat waktu!" ucap Lily.


"Aku belum berangkat kamu udah nyuruh aku pulang aja. Kamu udah kangen aku, hem?" Bima meraih pinggang istrinya, dan hendak mencium Lily. Lily menahan dada Bima dengan kedua tangannya.


"Udah siang! sana berangkat!"


"Iya. Kiss dulu dong!"


Cup.


Bima tersenyum mendapat suntikan energi. Lalu melepas pelukannya pada Lily dan masuk ke dalam mobil. Lily melambaikan tangannya pada Bima.

__ADS_1


__ADS_2