
Pas sekali Baju milik mbak Dena ini. Padahal aku kira tubuh mbak Dena lebih kecil dari tubuhku. Setelah ku pakai baju itu, aku mengeringkan rambutku dengan handuk, tidak ada hairdryer, ya ampun. Pasti akan sangat lama untuk rambut panjangku kering sempurna. Atau mungkin pak Bima punya di tasnya? Ah sudahlah.
Aku menyisir rambutku dengan cepat. Lalu memakai sepatuku dan keluar dari kamar ini.
Aku terdiam ketika melihat dua orang sedang duduk di sofa sambil saling menyuapi satu sama lain. Aku baru sadar kalau ternyata ini adalah kantor Pak Bima. Eh. Kantor Pak Bima ada kamarnya? Aku baru tahu!
"Eh ada Lily disini?" Aku tersenyum menganggukan kepalaku, rasanya kikuk sekali karena membuat dua insan ini menoleh ke arahku. Kulihat kening mbak Dena mengkerut, tapi sedetik kemudian kerutan itu hilang berganti dengan senyum indah di bibirnya.
"Silahkan lanjutkan mbak, Lily permisi dulu." ucapku rasanya salah tingkah karena ketahuan keluar dari kamar pribadi milik pak Bima.
"Eh Ly, ayo sarapan sama-sama kebetulan mbak bawa makanan banyak ini!" serunya. Aku menggeleng.
"Trimakasih mbak. Lily mau ke meja kerja saja. Siapin berkas buat meeting sebentar lagi." Aku tersenyum mencoba mengurai ketegangan dan rasa malu yang melingkupi diri ini. Meskipun aku dan suaminya adalah suami istri tapi aku malu karena bukannya minggu ini jatah Pak Bima bersama mbak Dena, tapi bukannya dua malam ini Pak Bima tidak pulang!
__ADS_1
"Wah kalian mau meeting? Kalau begitu ayo sarapan dulu. Kamu juga gak boleh nolak. Kerja kan butuh tenaga." mbak Dena menghampiri ku dan menarik tanganku lalu membawaku duduk di sampingnya. Sedangkan Pak Bima duduk di depan kami, masih tanpa ekspresi seperti biasanya.
Aku pasrah dan menurut. Mbak Dena mengambil wadah lain, dan memindahkan nasi yang tinggal sepiring itu lalu menambahkan sayur dan beberapa potongan daging ke wadah itu dan menyodorkannya padaku.
"Itu kan punya mbak!" ucapku menolak, tapi mbak Dena malah memberengut.
"Mbak lagi males makan nasi. Lagi pengen bubur yang ada di depan kantor."
Beberapa saat kami, tepatnya aku dan Pak Bima makan, sesekali pak Bima menyuapi mbak Dena dengan makanan di sendoknya. Ya ampun romantis sekali.
"Thor kemana sih? Aku mau juga kayak gitu dong disuapin! aku iri, thor! Jiwa jomlo ku menangis melihat ini. huuuu!"
Aku menundukan pandanganku dari adegan romantis di hadapanku. Mbak Dena menolak saat Pak Bima kembali akan menyuapinya, tapi ku kira keduanya sama saja pemaksa dan tidak menerima penolakan. Mbak Dena kembali membuka mulutnya dan makan dari suapan sang suami. Pak Bima berubah menjadi pria yang lembut dan romantis, berbeda dengan sikapnya yang aku tahu selama ini. Dingin dan sulit sekali tersenyum, tapi di dekat mbak Dena mudah sekali Pak Bima melakukan hal itu.
__ADS_1
"Mas Aku pulang ya. Ly, jaga suami kita dengan baik. Jangan sampai ada wanita lain yang menggodanya di luar sana." ucapnya sambil tersenyum.
Aku hanya melongo mendengarnya. "iya. ucapku.
Mbak Dena berdiri, diikuti oleh Pak Bima yang juga berdiri, sebelum keluar Pak Bima mencium kening mbak Dena dengan sayang, wajah mbak Dena berubah malu-malu dan bersemu merah. Lalu dia memukul dada Pak Bima sedikit keras.
"Ada Lily mas." lirih mbak Dena tapi masih bisa aku dengar. Rasanya hati ini sedikit sakit melihat kemesraan mereka.
"Aku antar keluar." ucap pak Bima pada mbak Dena. Mbak Dena mengangguk. "Kamu lanjutkan saja makannya. Dan bersiap untuk meeting sebentar lagi." Aku mengangguk lalu sedetik kemudian tubuhku menegang saat merasakan bibir kenyal pak Bima di kening ku. Seketika aku merasa tubuhku tidak bisa di gerakan.
"Dah Ly!" pamit mbak Dena yang membuat aku tersadar.
"I-iya mbak. Hati-hati." dengan susah payah aku bisa menggerakan tubuhku hingga melihat dua insan itu menghilang di balik pintu. Aku memegang dadaku yang berdebar kencang, hampir saja kotak makan di tanganku terjatuh saat Pak Bima mencium kening ku. Ya ampun, aku gak mimpi kan? Ah sakit, pipiku sakit saat aku cubit! bibirku melengkung ke atas saat mengingat perlakuan Pak Bima tadi.
__ADS_1