Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 59


__ADS_3

Suara telfon berdering, Lily segera meraih hpnya di atas nakas. Yeni. Panjang umur nih anak, baru di fikirin dah telfon aja!


"Iya say?"


'Kamu kenapa gak masuk, Ly?'


"Kaki aku kena air panas."


'Kok bisa?'seru Yeni dari seberang sana. Khawatir.


"Hehe, semalam aku bikin mie instan aku kaget, lalu jatuh deh mangkoknya." kekeh Lily.


'Dasar! Ceroboh banget sih! Emang kaget kenapa? Hantu?' mulai penasaran dia!


"Bukan hantu tapi, pak..." Lily terdiam, hampir keceplosan!


'Pak?' semakin penasaran!!!


"....kecoak! Bapaknya kecoak. Iya maksud aku Pak Kecoak! Hehe...! Gede banget Yen!"


Hampir aja. dasar nih mulut! batin Lily sambil memukul mulutnya sendiri.


'Makanya beres-beres dong. Dasar jorok!' ucap Yeni dengan nada kesal. Lily hanya terkekeh.

__ADS_1


Ya ampun menikah dengan seorang Bima Satria membuat Lily menjadi pembohong yang hampir ulung! Bagi dua dosa kebohongan ini dengan Bima ya Tuhan. batin Lily lagi.


'Ya udah deh Ly, aku mau lanjut kerja lagi. Bye!' pamit Yeni setelah hampir sepuluh menit mereka berbicara, lalu menutup telfonnya.


Lily kembali membuka laptopnya, pekerjaan baru yang di kirim Bima. Bekerja dari rumah rasanya tidak semangat seperti di kantor!


Lily merasa lapar, dia mencoba turun ke bawah. Ah tidak terlalu sakit juga. Perlahan dia turun melewati undakan tangga satu persatu. Laptopnya ia bawa sekalian sambil makan akan ia kerjakan lagi tugasnya di dapur.


Beruntung Lily juga tidak berkewajiban membuatkan makan untuk satpam. Karena Bima sudah memberikan gaji beserta uang jatah makan selama satu bulan. Paling hanya menyediakan kopi atau gula beserta teh untuk menemani jaga pak Dani. Terkadang Lily juga memberikan cemilan jika kebetulan Lily ke supermarket, atau minimart.


Lily membuka kulkasnya. Ada udang yang belum sempat ia masak. Beberapa saus ia keluarkan dari dalam sana beserta bumbu yang ia perlukan. Sepertinya masak udang saus padang boleh juga, fikirnya. Walaupun dengan langkah yang tertatih Lily berusaha memasak.


Tidak sampai setengah jam Lily telah selesai memasak. Udang saus padang. Tumis kangkung campur tempe, dan tahu goreng. Sedangkan sambal, Lily memilih sambal kemasan saja. Ia ambil dalam botol kaca di kulkas. Agak dingin sih tapi sudahlah. Lily sudah terlalu lapar sekarang.


"Mas kok pulang? Bukannya ada meeting ya?" tanya Lily bukannya menjawab pertanyaan Bima malah memberi pertanyaan pada Bima.


Bima duduk wajahnya terdongak tepat di atas udang saus padang. Wanginya membuat dia merasa lapar seketika. Dia tidak menghiraukan makanan yang di bawanya. Dia simpan di meja di sampingnya lalu dengan tidak sabaran mengambil piring milik Lily dan mulai menyendok nasi, lalu udang, tumis kangkung, dan tahu, juga sambal. Lily hanya melongo melihat Bima makan dengan lahap.


Satu kata. Enak!


Lily mengambil piring yang lain dengan susah payah lalu kembali duduk. Ia menatap kantong plastik yang di bawa Bima.


Ya ampun seafood dari resto Sunday! Restoran favorit Lily. Enak tapi sayang, mahal! Lily hanya tiga kali pergi kesana itupun kalau Lily dapat bonus karena lembur!

__ADS_1


"Aku beli makanan buat kamu, sekalian lewat. Kata Dena kamu suka masakan kepiting dan lobster disana kan?" Bima tanpa menghentikan kunyahannya.


"Aku suka. Makasih." jawabnya sambil membuka salah satu kotak yang ada. Masih ada satu kotak lagi.


"Tapi satu saja cukup mas!"


"Tadinya aku juga mau makan itu. Aku gak tahu kalau kamu udah bisa masak!"


Dengan cepat Bima menyelesaikan makannya bahkan Lily baru saja akan memulai.


"Kamu mau makan semua ini?" tunjuk Bima pada makanan di depan Lily. Lily hanya bergedik.


"Kamu mau bikin aku gendut mas?" Lily melotot, sedangkan Bima terkekeh.


"Gendut gak ada salahnya juga."


"Gak mau! Nanti takut gak laku kalau aku udah pisah dari mas Bima!" protes Lily.


Bima terdiam lalu tersenyum kecut. Ekspresi wajahnya berubah seketika.


"Jadi kalau gak di makan kasih pak Dani saja ya?" Lily mengangguk, Bima menelfon satpam dari hpnya, dan tak lama satpam itu masuk dari pintu belakang.


"Buat Pak Dani saja." ucap Bima. Pak Dani menerimanya dengan senang hati pasalnya ia memang belum makan siang, karena dia biasa makan pada jam dua siang.

__ADS_1


Satpam itu kembali ke tempatnya setelah mengucapkan terimakasih.


__ADS_2