
Lily gelisah. Sama seperti dengan pernikahan sebelumnya Lily tidak bisa tidur. Entahlah, meskipun ini bukan yang pertama tapi Lily juga tidak tahu. Dadanya terus berdebar sedari tadi. Bahagia, takut, juga gelisah, entah kenapa.
Lily duduk di atas kasurnya. Mengambil dua buah bingkai foto dari dalam laci nakas. Foto yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
"Bu, pak. Una akan menikah dengan mas Azka besok. Una harap ini akan menjadi kebahagiaan untuk Una dan Yumna. Kata mas Azka, setelah acara selesai kami akan ke Jogja untuk Ziarah. Maaf kalau selama ini Una tidak pernah membawa Yumna berkunjung. Doakan semoga Una bisa mencintai Mas Azka." Lily mencium gambar wajah kedua orangtuanya bergantian. Lalu beralih pada bingkai foto satunya.
"Mas Bimbim. Maaf kalau selama ini Una sempat melupakan kamu. Tujuan awal Una ke Surabaya karena Una ingin mencari Mas Bimbim, tapi saat Una tahu kalau Una mengandung, pemikiran itu perlahan hilang mas. Una cuma mikir, Una gak bisa terus-terusan mencari yang tidak pasti kan? Una harus lebih mementingkan dan memperhatikan anak yang Una kandung." Mata Lily mulai berkaca-kaca hingga tatapannya pada foto Bimbim kecil menjadi kabur.
"Besok Una akan menikah. Kamu berhak marah Karena Una lagi-lagi akan ingkar." Lily tersenyum kecut, mengusap foto di tangannya.
"Mungkin kita memang gak jodoh ya mas. Apa mungkin cuma Una yang nunggu kamu? Cuma Una yang mengharapkan kamu? Apa mas Bimbim cari aku selama ini?" Lily menangis tersedu, memeluk bingkai foto di tangannya.
"Aku masih cinta sama mas Bima, mas!" lirih Lily akhirnya, tidak kuat menahan rasa di hatinya.
"Una udah egois! Una gak bisa tepati janji Una untuk bahagia." Lily menangis tersedu hingga sesak melanda hatinya. Tidak sadar dengan seseorang yang sedari tadi melihatnya dari arah pintu.
Adit melihat Lily dengan iba, semua yang di katakan Lily tadi ia dengar dengan jelas. Betapa Lily juga merasa tersiksa akibat egonya sendiri, dan itu semua sudah terlanjur!
"Lily!" panggil Adit. Lily mengusap air matanya buru-buru. Adit mendekat dan duduk di samping Lily. Melingkarkan tangannya di bahu Lily, menepuknya beberapa kali. Lily memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Percuma, mas Adit juga udah denger yang tadi kamu bilang!" ucap Adit membuat Lily menatapnya.
"Kamu emang adik mas Adit yang paling b*doh!" ucap Adit mengacak rambut Lily gemas. "Udah deh, nikah mau yang kedua kali juga masih aja cengeng!"
Lily terdiam meski bibirnya mengerucut.
"Apa Lily salah mas, terima pernikahan ini?" ucap Lily sambil menundukan kepalanya. "Mas Azka terlalu baik selama ini, dia sayang sama Yumna. Lily jahat ya, serasa jadi penipu buat mas Azka!" Lily tersenyum kecut.
"Udah deh. Apapun keputusan yang kamu ambil sekarang pasti udah kamu fikirin sebelumnya kan? Kamu gak egois kok, tapi kamu lebih mikirin kebahagiaan Yumna." Lily mengangguk.
"Mas Adit udah siapin tempat spesial buat kalian bulan madu, tinggal kalian siapin tanggal keberangkatan!" ucap Adit dengan senyuman.
"Yaa sebenarnya dulu mas Adit pernah ngayal pengen bulan madu sama kamu kesana, tapi salah satu aja dari kita deh yang wujudin!"
"Jangan bilang mas Adit belum bisa move on dari Lily?!" tunjuk Lily tepat di depan hidung Adit.
Adit tersenyum lebar.
"Kan mas Adit bilangnya dulu, cantik!" Adit menyingkirkan tangan Lily ke samping. "Sekarang mah gak cinta lagi, tapi sayang. Malah mas Adit senang dengan keadaan kita sekarang, siapapun gak akan bisa ngalahin rasa sayang mas Adit sama adik sendiri! Gak akan ada yang cemburuin kita kan?" Lily mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Adit.
__ADS_1
"Makasih mas." Mereka terdiam beberapa saat lamanya.
"Mas Adit kapan mau nikah? Lily aja udah mau dua kali. Keburu tua gak laku loh!" Adit tersenyum miris.
"Kalem aja kali, meskipun mas Adit tua mah, gak akan mengurangi pesona mas Adit buat mikat hati cewek. Haha." Adit melirik foto yang ada di tangan Lily, dia sudah tahu perihal masa lalu Lily dengan Bimbim.
***
Lily menatap dirinya di cermin. Gaun pengantin sudah melekat indah di tubuh rampingnya. Leher Lily semakin terlihat indah karena rambutnya yang di sanggul. Tak lupa hiasan rambut yang menempel indah menghiasi rambutnya. Lily terlihat sangat cantik tanpa make up yang berlebihan.
"Kamu cantik sayang." mama Puspa datang sambil meletakan sepatu di atas meja, heels yang akan di pakai untuk Lily.
"Mama." Lily menyambut tangan Mama Puspa. Rasa haru menyelimuti mereka berdua.
"Semoga kamu dan Azka bahagia sayang!" Doa mama puspa. Lily mengangguk sembari mengucapkan terimakasih. Mama Puspa menitikan air mata bahagia melihat putri kesayangannya akan menyambut hari yang baru setelah ini.
***
Bima merasa gelisah, teringat dengan mimpinya semalam. Lily dengan gaun pernikahan, sangat cantik, dan ada seorang gadis kecil di samping Lily. Mereka tersenyum padanya lalu melambaikan tangan. Mimpinya singkat, namun membuat Bima terbangun dan tidak bisa kembali tidur.
"Sayang kenapa melamun sih?" Celia mengelus punggung tangan Bima, mereka ada di sebuah butik sedang memilih gaun untuk foto prewed besok. Bima sudah dengan setelan tuxedo hitamnya. Meski masih terlihat kurus tapi tidak mengurangi pesona Bima yang tampan.
"Gimana gaun ini. Aku cantik gak?" Bima tersenyum. Celia selalu cantik dengan menggunakan apapun, tapi entah kenapa ia tidak pernah merasa tertarik sedikitpun. Bima hanya mengangguk. Celia senang dengan jawaban Bima. Lalu berlalu dari sana untuk mencoba gaun yang lainnya.
Bima menatap dirinya di cermin, lalu tiba-tiba samar bayangan muncul di sampingnya dan lama kelamaan menjadi jelas. Mata Bima berkaca-kaca. sudah lama sekali Bima merindukan sosok ini. Lily, kini dia tersenyum manis dengan tangan yang melingkar pada lengan Bima. Lily dengan balutan gaun pengantin persis seperti mimpinya semalam, dengan membawa buket bunga yang indah.
"Mas." Bima menoleh, suaranya, wajahnya. Lily. Bima segera merengkuh tubuh mungil di sampingnya ini. Dia menangis tersedu hingga beberapa orang disana memperhatikan Bima.
Bima menangis terharu, merasakan kehangatan dari tubuh yang di dekapnya. Bahagia sudah pasti karena dia sangat merindukan sosok ini.
"I love you!"
"I miss you!" lirih Bima, lalu merasakan kepala itu bergerak naik turun.
"I love you too, sayang."
Bima melepaskan pelukannya, sadar jika Lily tidak pernah memanggilnya sayang. Celia! Apa yang Bima fikirkan? Kenapa Bima menyangka kalau Celia itu Lily?
Celia tersenyum bahagia, selama ini sangat sedikit sekali Bima mengucapkan kata cinta itupun seperti terpaksa karena yaa memang Celia yang memaksa Bima mengatakannya.
__ADS_1
"Maaf, Cel." ucap Bima sambil mengusap sudut matanya.
"Kenapa minta maaf? wajar kan kalau kamu bilang cinta sama aku. Aku memang cintanya kamu, haha." ucap Celia lalu memutar tubuhnya, gaun pengantin yang baru saja ia coba. Tapi kali ini lebih sederhana dari yang tadi.
"Aku lebih suka kamu pakai yang ini." ucap Bima. Celia merengut.
"Tapi ini kelihatan sederhana banget!" protes Celia.
"Sederhana bukan berarti kamu gak terlihat cantik, Cel." seketika mata Celia berbinar, sangat sulit baginya mendengar Bima memujinya seperti itu.
"Beneran aku cantik pakai yang ini?" Wajah Celia berbinar ketika Bima menjawab dengan anggukan kepalanya.
***
Surabaya. 11.am.
Suasana siang itu sangat menegangkan untuk Azka dan beberapa orang yang berada di dalam ruangan itu. Penghulu sedang memberikan wejangan tentang seputar rumah tangga, meskipun di selipkan beberapa guyonan tapi keringat dingin tetap membanjiri kening Azka, berkali kali Melati memberikan tisu untuk Azka, dan mencoba menenangkan putranya. Memberinya kekuatan agar lancar dalam pembacaan ijab kabul nanti
"Nak Azka sudah siap?" tanya penghulu yang akan menjadi wali nikah Lily.
"Bismilahirohmanirrohim. Insyaallah siap!" ucap Azka mantap. Penghulu mengulurkan tangannya untuk di sambut Azka. Dia tersenyum karena merasakan tangan Azka yang bergetar dan terasa dingin, lalu mengangguk memberinya semangat.
Azka mendengarkan ucapan penghulu dengan baik. Lalu dalam satu tarikan nafas.
"SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA LILY ARUNA ATMAJA BINTI DERI ATMAJA DENGAN MASKAWINNYA YANG TERSEBUT DIBAYAR TUNAI."
Segera yang lain menyerukan secara serempak "SAH!" meskipun pak penghulu belum menanyakan.
"Alhamdulillah." seru mereka bersamaan. Melati dan suami menangis haru memeluk sang putra.
Sementara itu di ruangan lain, Lily dan mama Puspa juga menangis terharu mendengar seruan kata 'SAH' dari luar. Lily dan mama Puspa segera menghapus air mata mereka sebelum turun bebas ke pipi.
tok.tok.
Pintu di ketuk, Adit datang.
"Ayo. Kita keluar. Suami kamu udah nungguin!" Lily mengangguk, di bantu mama Puspa Lily keluar menuju meja akad dengan hati yang berdebar.
Langkah demi langkah, Lily sudah memantapkan hatinya, bertekad mulai saai ini ia akan berusaha mencintai Azka sebagai suaminya
__ADS_1