
Lily memejamkan matanya saat Bima semakin mendekat kan wajahnya.
Tapi dua detik kemudian Lily membuka matanya saat merasakan kasurnya bergerak dan cengkeraman di tangannya terlepas.
Lily bangun untuk duduk di tepian kasur, dan sekilas melihat punggung Bima yang kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Jujur Lily kecewa!
***
Bima Satria.
Air mengucur dari shower melewati tubuhku. Ku biarkan rambutku basah. Satu menit. Dua menit. Entah sudah berapa lama aku membiarkan air itu menguasai kepalaku. Kenapa dengan sikapku ini? Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini pada Lily.
Ah bodoh!!!
Lihat sorot matanya tadi. Hangat. Dan dia menatapku dengan penuh minat.
__ADS_1
Tidak!
Jangan sampai Lily jatuh cinta sama aku!
Aku merutuki sikapku yang akhir-akhir ini ku perlihatkan pada Lily, seperti perhatian, tapi sebenarnya... ya. Sepertinya aku sudah melewati batas untuk tidak memperhatikan dia. Membawakan makanan, dan lainnya. Bukankah itu termasuk memberi nya perhatian? Oh sial!! Kalau sampai Lily jatuh cinta sama aku, aku yang harus di salahkan karena sikapku ini!
Lily sudah tidak ada di kamar, mungkin dia kembali ke kamarnya. Sudahlah!
Hari ini aku hanya harus bersiap untuk pergi ke kantor. Dengan beberapa pekerjaan aku pasti akan sibuk dan tidak memikirkan Lily. Eh? Kenapa juga harus memikirkan Lily?!
"Mas sarapan dulu." Panggilnya saat melihat aku sudah keluar dari kamar.
"Aku harus segera ke kantor. Meeting nanti jam delapan. Kamu harus sudah siap dengan berkas kamu!" ucapku dengan nada yang ku buat dingin. Terlihat raut kecewa di wajahnya lalu sedetik kemudian tersenyum.
"Iya. Kalau mas mau berangkat sekarang. Hati-hati kalau begitu!" ucapnya lalu menutup kembali tudung saji di depan kami.
Eh. Dia gak maksa aku buat makan gitu? Atau paling tidak meminta menunggunya buat berangkat barengan?
__ADS_1
"Ya sudah. Katanya mau berangkat?!" serunya. "Lily mau mandi dulu. Hati-hati di jalan kalau begitu." katanya, lalu mendekat ke arahku. Dia sedikit berjinjit. Eh. Mau apa dia?!
"Mas, gimana sih. Mau meeting tapi dasinya kok gak rapih gini?!" ucapnya seraya merapikan dasiku yang tidak sempurna. Bisa kurasakan beberapa helai rambutnya yang menempel di ujung hidungku karena dia menunduk. Aku terkejut saat merasakan tarikan pada dasiku hingga badanku menunduk ke arahnya. Mataku terarah pada pucuk kepalanya.
"Aku cape jinjit mas." ucapnya sambil tersenyum. "Sudah!" serunya lalu menepuk bahuku beberapa kali seperti mnegusir debu dari sana dan merapikan penampilanku. Lalu mengangkat kedua jempol tangannya dan tersenyum bangga. "Sip!" Aku menegakan kembali badanku.
"Ya sudah, kalau mas gak mau sarapan di rumah. Sana berangkat."
Aku di usir?!
Sedikit kesal sebenarnya karena di usir dari rumahku sendiri. Tapi, ya sudahlah, tidak baik juga di rumah berlama-lama. Rasanya akan terjadi bahaya jika aku terus berada disini. Eh 🤔?
Aku mengeluarkan mobilku, dan melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan tidak terlalu padat karena baru jam enam lewat dua puluh menit. Yang berarti aku akan sampai di kantor kurang dari jam tujuh.
Dan benar saja. Kantor masih sepi. Hanya ada beberapa satpam dan OB yang sudah memulai pekerjaan mereka.
Mereka menunduk hormat saat aku berlalu, dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka lagi.
__ADS_1
Aku menghempaskan diriku di kursi kebesaran milikku. Rasanya aneh sekali.