Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 44


__ADS_3

Aku memicingkan satu mataku. Pak Bima sudah tidak ada disana, hanya terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Aku membungkus diriku kembali dengan selimut, masih tidak mengerti apa yang terjadi.


Seingatku...


Kemarin aku masih bekerja.


Telfon dari Pak Wayan.


Pak Bima sedang rebahan di sofa.


Pak Bima tidur.


Aku mengerjakan tugasku di kantor Pak Bima.


Dan...


Sepertinya aku ketiduran.


Tapi seharusnya aku terbangun, karena selama ini aku tidak pernah tidur senyenyak ini sampai-sampai aku tidak sadar sudah berpindah tempat. Tapi dimana ini?

__ADS_1


Pertanyaan demi pertanyaan terus mengelilingi kepalaku, hingga rasanya sedikit pening.


Pintu kamar mandi terbuka, ku lihat Pak Bima keluar dari dalam sana dengan menggunakan handuk kecil melilit pinggangnya. Aku semakin menundukan kepalaku, dadaku berdebar dengan kencangnya. Apa semalam terjadi sesuatu?


Dia berjalan melewati ku. Membuka lemari kecil yang ada tak jauh dari sana, lalu mulai memakai bajunya satu persatu. Aku masih menundukan pandanganku, tapi dari sudut mataku masih terlihat dengan jelas saat dia memakainya satu persatu. Fikiran liarku seketika hinggap di otak cantik ku.


"Kamu gak mau mandi?" tanyanya.


"Eh?" aku memberanikan diri menatapnya. Aaah wajahnya semakin tampan, apalagi wangi aroma stroberi dan coklat menguar ketika ia melewati ku. Dia sudah siap dengan baju kerjanya. Sweet! Melting deh!


"Hei, cepat mandi ini sudah siang!" ucapnya sambil duduk di seberang tempat tidur.


"Eh iya." Aku menghalau selimut tebal dari tubuhku, dan tersadar saat ku lihat kancing bajuku masih terbuka.


"Apa?!" tanyanya, tapi pandangannya masih tertuju pada benda kotak pipih miliknya.


"Semalam...kita...aku dan...bapak...anu..." ih susah sekali sih bilangnya. Padahal kan hanya satu kalimat, "Apa semalam kita melakukannya?" gitu aja koq susah!


"Kita cuma tidur semalam!" ucapnya, masih fokus pada layar hpnya dan mengetikan sesuatu disana. Lega rasanya mendengar itu dari Pak Bima.

__ADS_1


"Emang kamu pikir ngapain?"


"eh, enggak. Hehe."


"Aku cuma buka kancing baju dan rok kamu karena kayaknya gak nyaman tidur pakai baju kerja." upss sepertinya Pak Bima tahu apa yang aku fikirkan.


"Cepat mandi! Bukannya pagi ini ada meeting!" Pak Bima berjalan melewati ku. Aku segera berlari ke kamar mandi.


Di depan cermin aku mematut diriku. Memperhatikan semua yang ada disana. Benar. Tidak terjadi apa-apa. Tiba-tiba aku kecewa. Kenapa tidak terjadi apa-apa semalam. Apa tubuhku kurang menggoda di matanya? Apa bibirku kurang seksi?


Mikirin apa sih?!


Aku segera mandi, menggunakan sabun dan sampo yang ada disana. Wangi aroma coklat dan stroberi. Enak sekali. Ah lain kali aku juga harus beli yang seperti ini. Tapi lucu juga pak Bima dengan wajah cool-nya memakai sabun yang beraroma lembut seperti ini.


Aku keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang hanya menutupi dada dan padaku, sangat pendek sekali handuk ini, bahkan kalau aku membungkuk pasti bagian belakang akan terlihat sangat jelas. Aku menurunkan handuk ku sedikit ke bawah, tapi setengah dadaku terlihat. Biarlah, gak ada orang lain koq di kamar ini. Dan sepertinya Pak Bima juga tadi sudah keluar.


Ya ampun. Bajuku. Aku mematung melihat baju kerjaku yang kusut di atas kasur, mana pagi ini ada pertemuan lagi. Aah bagaimana ini! Ku bentangkan baju itu di atas kasur dan mengusapnya, berharap baju itu tidak terlalu kusut. Tapi tetap saja aku butuh setrikaan supaya baju itu rapih dan layak untuk di pakai.


"Pakai baju Dena saja, ada di lemari." suara Pak Bima dari belakangku membuatku terkaget dan refleks memegang handuk yang hampir melorot.

__ADS_1


Malu sekali aku!


Pak Bima keluar lagi. Aku bisa bernafas lega sekarang. Segera ku buka lemari kecil disana. Deretan baju pria dan wanita. Pastinya milik Pak Bima dan Mbak Dena. Aku tidak biasa memakai baju orang lain, tapi pertemuan ini penting dan aku tidak mau membuat malu bos ku.


__ADS_2