Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 88


__ADS_3

"Kalau ayah ku tahu apa yang kamu lakukan, kamu pasti tidak akan selamat!" ancamnya.


"Aku gak takut!" Dia melotot, aisshh rasanya aku jijik melihat matanya yang terus melotot. Apa harus aku congkel dengan ranting yang ada di dekat kakiku?


"Harusnya yang takut itu kamu!" Aku mengeluarkan hpku dari dalam jaket yang ku pakai.


"Bagaimana kalau foto dan video yang ku ambil tadi beredar di internet?" ucapku dengan santai. "Aku hanya perlu menekan beberapa tombol, dan..." sengaja ku gantungkan kalimatku. Wajahnya berubah panik. "...pastinya akan membuat kamu yang akan di hukum bukan?"


Dia mencoba meraih hpku dengan tangannya yang bebas. Tidak semudah itu! Aku menghempaskan tubuhnya hingga tersungkur ke trotoar.


Dia tidak juga mau menyerah, mencoba untuk menyerangku dengan tinjuannya. Dia fikir hebat apa? Tidak semudah itu aku akan kalah.


Dia kembali tersungkur ke jalanan yang basah, sudut bibirnya berdarah karena tinjuanku yang tepat mengenai rahangnya. Dia meringis. Sekali lagi mencoba menyerangku membabi buta. Tapi dengan kemampuan bertarungku bukan hal yang sulit untuk mengalahkan anak bau kencur ini. Aku menguncinya dengan punggungnya yang ada di bawah kakiku. Tangannya aku putar ke belakang, membuatnya tidak bisa bergerak. Sedangkan satu tangannya lagi menepuk-nepuk trotoar, tanda menyerah, biasanya.


Aku membungkukan tubuhku, menatap wajahnya yang melantai di atas trotoar kotor.


"Aku akan maafkan kali ini. Tapi kalau lain kali aku lihat kamu dekat dengan dia lagi, akan aku pastikan hidup kalian akan hancur. Bahkan semua perusahaan milik keluarga Frederick akan dengan mudah aku ambil alih!"

__ADS_1


"Ka-kamu siapa?!"


"Hanya orang yang tidak pernah kalian anggap!" ucapku lalu mengangkat kakiku dari punggungnya, hingga tercetak dengan jelas bekas alas sepatuku yang tergambar indah disana.


Dia bangkit lalu mengambil tas punggungnya dan segera pergi dengan motor sport miliknya. Sedangkan gadis berponi itu menatapku tidak percaya.


Suara tepuk tangan membuatku menolehkan pandanganku.


"Bravo." ucapnya dengan senyuman. "Good job!" ucapnya lagi.


Aku dan gadis itu duduk di belakang, sedangkan Joe sementara ku jadikan sopir.


"Kamu pulang kemana?" tanyaku sambil mengobati lukanya dengan alkohol. Aku selalu sedia kotak p3k di dalam mobilku. Lututnya berdarah, lengannya lecet, dan ku lihat di pahanya juga memar kebiruan yang besar. Pipinya juga memar.


Dia tidak menjawab, hanya isakan yang ku dengar. Aku terdiam tidak ingin bertanya lagi. Tepatnya menunggu saat dia ingin bercerita.


"Hei, kita akan kemana?" tanya Joe saat kami sudah sepuluh menit berkendara.

__ADS_1


Aku menatap gadis ini, tidak ada jawaban.


"Ke apartemen ku saja." ucapku. Joe setengah berteriak protes.


"Lalu kita kemana? Tidak mungkin ke tempat elo kan yang isinya kucing garong semua!" ucapku kesal. Joe menggerutu sambil tetap mengemudi.


Kami sampai di apartemen. Aku menggendong gadis ini ke unit milikku. Sedangkan Joe masih menggerutu sambil membawakan tas miliknya.


Aku membawa dia ke sofa, mendudukannya di sana. Joe duduk di depannya sambil terus mengamati gadis berponi itu.


"Hei. Hei! Stop lihatin dia Joe!" titah ku saat melihat gadis itu dengan penuh minat. Joe tersadar dan salah tingkah.


Kami duduk bertiga di sofa. Hampir setengah jam dan tidak ada yang mau berbicara.


"Siapa dia?"


Gadis itu menoleh ke arahku.

__ADS_1


__ADS_2