Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 168


__ADS_3

Lily aruna


Memang benar apa kata mbak Nila, seorang anak akan lebih baik jika hidupnya di antara kedua ayah dan ibunya. Akupun dulu sama menderitanya, kehilangan sosok kedua orangtua di saat aku sedang butuh perhatian mereka.


Hampa rasanya setelah sebelas tahun dalam hidupku, aku mengenal kedua orangtuaku lalu mereka pergi dengan cara seperti itu. Sumpah, aku mengutuk orang-orang yang begitu tega mengambil mereka dariku. Bapak, ibu, dan calon adikku!


Tapi, aku masih tidak ingin memberi tahu mas Bima soal anak ini. Bagaimana kalau dia menolaknya? bahkan dia belum lahir. Atau bagaimana kalau dia ingin memisahkan aku dari anakku? Oh tidak! aku tidak akan membiarkan anakku pergi.


Sudah cukup kesedihan yang ia perbuat dulu! Sudah cukup kebodohanku di masa lalu yang terus memikirkan orang lain. Sekarang saatnya aku memikirkan diriku. Dan anak ku!


*


"Ma, aku pulang!" tidak ada sahutan dari dalam, apa mama di dapur? Ah sudahlah aku benar-benar lelah sekarang. Pekerjaan hari ini sangat menguras tenagaku.


Aku lelah dan sedikit pusing, mungkin karena tadi siang hanya makan sedikit. Gado-gado benar-benar membuat ku tidak ingin makan, terpaksa di telan karena mbak Nila terus melotot padaku dan terus mengingatkan kesehatan bayiku, ini, itu, bla-bla-bla. Masih untung tidak muntah tadi.


Tok. Tok.


Baru saja aku ingin membaringkan diriku, pintu di ketuk dari luar. Ya ampun, biasanya mama akan membiarkan ku untuk beristirahat minimal tiga puluh menit setelah pulang kerja.

__ADS_1


Tok. tok.


Lagi, terdengar ketukan. Apa ada yang penting?


"Iya, ma. Sebentar." setengah berteriak aku kembali menuruni kasur. Agak membungkuk untuk melihat sandal di bawah kakiku karena pandangan lurus ke bawah sudah tidak memungkinkan akibat perut yang semakin membesar.


Aku membuka pintu, "Ada ap...," tapi sedetik kemudian aku menutupnya lagi. Menyandarkan diriku di daun pintu dengan memegangi dada yang berdetak cepat. Kok bisa? Tidak habis fikir, orang itu ada disini. Dia tahu aku disini dari mana? Gak mungkin, karena aku tidak pernah memberitahu siapapun aku disini. Bahkan aku juga tidak menghubungi Yeni!


Menunggu beberapa saat, berharap tadi yang aku lihat hanyalah halusinasi. Tapi sepertinya bukan! Suara ketukan kakinya terdengar sangat jelas beradu dengan lantai. Lalu kemudian ketukan di pintu terdengar lagi.


"Keluar! Aku yakin itu kamu!" suaranya jelas dengan nada memerintah.


"Mas...!"


Lily pov end.


***


Special Adit!

__ADS_1


"Keluar! Aku yakin itu kamu!"


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya dia membuka pintu. Dasar pembuat onar! Dia hanya memasang muka imut tanpa bersalah setelah sekian lamanya membuat kami kelimpungan karena mencari dirinya. Awas kamu Lily!


"Mas...!" senyumannya gak akan berpengaruh padaku. Aku marah! Aku mengetukan kakiku semakin cepat.


"Ayo kita bicara." ucapnya sambil mendorongku ke arah sofa. Ya memang harus!


Aku menunggu, kami duduk berhadapan. Lily masih enggan berbicara sepertinya. Dia hanya memilin ujung bajunya untuk di mainkan. Aku sedikit terkejut dengan penampilannya tadi. Lily hamil?


"Lily!" panggilku, dia semakin menunduk.


"Aku bisa jelaskan, mas." ucapnya parau. Nada suaranya bergetar. Aku yakin sebentar lagi dia akan menangis!


"Gak perlu jelasin. Bima udah cerita semuanya! Tapi kenapa kamu gak telfon aku, setidaknya kalau kamu minta aku untuk merahasiakannya, aku bisa!" ucapku sedikit emosional. Benarkan dia terisak sekarang, dasar cengeng!


Aku mendekat ke arah Lily, memeluk tubuhnya dari samping. Dia tidak menolak. Malah semakin erat memegangi lenganku.


"Aku gak kuat mas...hiks..." ucapnya kali ini dia menangis hebat. Ku elus rambutnya dengan wangi yang berbeda, tidak seperti dulu.

__ADS_1


"Udah, dong jangan nangis. Mas Adit cuma khawatir... Aww." kepalaku sakit, aku menoleh ke belakang, dan mendapati seseorang yang sedang mengacungkan sandal karet di samping kepalanya dengan mata melotot. Siap akan menimpuk ku untuk yang kedua kali. Bukan. Bahkan sepertinya akan membunuhku kali ini!


__ADS_2