
Lily dan keluarga kecilnya sedang berada di mobil mereka akan pulang ke rumah. Yumna sempat merengek karena tidak mau pulang tanpa baby.
Yumna sedari tadi melipat kedua tangannya di depan dada. Bibirnya mengerucut lucu. Santi yang duduk di sampingnya juga tidak bisa membujuk Yumna. Lily tidak tahan jika melihat Yumna yang seperti itu.
"Yumna, sayang..." panggil Lily.
"Hemm?" jawab Yumna, seperti itulah kalau dia sedang marah. Persis Bima!
"Yumna marah?" tanya Lily.
"Gak! Yuma cuma ngambek!!"
ketiga orang dewasa yang ada disana menahan tawanya.
"Kenapa ngambek?" tanya Lily pura-pura tidak tahu.
"Yuma, gak boleh ajak dedek Al pulang!"
"Dedek Al?"
"Iya, dedek Al! Kata mami, Yuma di surrlluh panggil dedek Al!"
"Oh, namanya dedek Al!" ucap Lily sambil menganggukan kepalanya.
"Ih, mama! Masa gak tahu!" Yumna semakin kesal. Lily dan Bima saling berpandangan.
"Mau es krim?" seketika wajah Yumna berbinar. "Kalau gak mau gak apa-apa juga sih!" ucap Lily.
__ADS_1
"Mau!!" Seru Yumna.
"Oke, kita beli ya. Tapi Yumna jangan marah lagi."
"Oke ma." ucap Yumna.
Bima tersenyum memandang Lily, kemudian kembali fokus ke jalanan.
Mobil berhenti di sebuah mini market. Santi dan Yumna turun untuk membeli eskrim, sedangkan Bima dan Lily tetap tinggal di mobil.
Lily mendekatkan dirinya pada Bima dan menyandarkan kepalanya di bahu Bima. Mereka berdua menatap tubuh kecil Yumna yang baru saja masuk ke dalam mini market.
"Anak kita, mas!"
"Iya, dia udah besar ya?"
"Aku juga gak sabar pengen baby ini lahir. Perempuan atau laki-laki ya?" tanya Bima penasaran.
"Gak tahu! Kalau perempuan lagi gimana mas?" tanya Lily. Mereka memang belum tau jenis kelamin anak kedua mereka. Tidak ingin tahu katanya, biar penasaran.
"Ya memang kenapa kalau perempuan lagi? Berarti masih harus lebih giat olahraganya dong biar dapet jagoan kayak Adit! Kalau perlu kita banyakin bulan madu." Senyum Bima. Lily menarik kepalanya dan menatap Bima.
"Ah itu mah maunya kamu!" Bima terkekeh. Lily kembali menyimpan kepalanya di pundak Bima. Bima tak henti mengelus perut Lily.
"Mas.."
"Hemm?"
__ADS_1
"Aku... mau..." Lily menggigit bibir bawahnya.
"Apa?" tanya Bima penasaran. Lily terlalu malu untuk bicara, wajahnya bersemu merah. Bima kembali mencium kepala Lily.
"Kamu mau apa, hem?" Bima menarik dagu istrinya dan mengecupnya singkat.
"Nanti aja di rumah!"
"Kamu mau rujak?" tunjuk Bima pada gerobak di dekat mobil mereka. Lily menggeleng. Bima kembali meyebutkan apapun.
"Aku gak mau apa-apa mas. Aku mau kamu."
"Aku?"
"Aku mau suamiku!" Bima terkejut pasalnya tidak biasanya Lily bicara seperti ini. Sudah beberapa bulan Bima menahan hasrat karena Lily tidak mau di sentuh. Efek baby sangat terlalu!
"Tapi ini masih disini sayang." ucap Bima bingung.
"Lagian siapa juga yang mau main disini mas. Kamu mau bikin orang lain heboh karena ada mobil bergoyang siang-siang gitu?" Lily mendelik.
"Hehe, ya kirain udah gak sabar gitu!"
Lily menengadah dan menarik tengkuk Bima melanjutkan l*m*t*n bibir mereka lagi beberapa saat lamanya. Bima segera menjauhkan wajahnya. Lily memberengut.
"Udah, nanti lagi lanjut di rumah. Takut!"
"Takut?"
__ADS_1
"He-em. Takut bikin heboh karena ada mobil goyang siang-siang."