Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 172


__ADS_3

Setelah saat itu Azka jadi sering mengantar jemput Lily, alasannya karena rumah mereka searah jadi apa salahnya jika berangkat sama-sama, tapi iti cuma alasan, padahal kenyataannya rumah mereka berlainan arah! Lagipula kasihan dengan Lily yang sedang hamil besar kalau naik angkutan umum atau ojek. Lily tidak bisa menolak karena sang bos memaksa dengan alasan bayi dalam kandungannya.


"Jadi yang dulu anterin kamu itu kakak sepupu?" tanya Azka, lega karena dia kira Lily kembali rujuk dengan suaminya, waktu itu saat Azka diam-diam melihat Lily di antar Adit. Lily mengangguk sambil memperhatikan jalanan di depannya. Pagi ini jalanan macet parah mungkin karena hujan semalam membuat para pengendara lebih hati-hati menjalankan kendaraannya.


Hening beberapa saat lamanya.


"Pak, nanti Lily izin pulang agak siang ya. Lily mau ke dokter."


"Kenapa? Kamu sakit? Kenapa berangkat tadi? Kalu begitu kita pulang lagi." Azka khawatir.


"Bukan, Lily gak sakit cuma mau periksa kandungan." ucap Lily tidak enak karena melihat sang bos jadi panik. "Dokternya praktek pagi, jadi gak bisa nunggu sampe pulang kerja." sesal Lily.


"Ooh, saya kira kamu sakit tadi. Oke." Lily tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


*


Saat jam makan siang Lily keluar dari area kantor dengan menenteng tas tangannya. Dia menunggu taksi yang lewat.


Tin. Tin.


Lily menoleh, mobil hitam berhenti di depannya, Azka sudah membukakan pintu tanpa turun dari kursi pengemudinya.


"Ayo saya antar!"


"Gak usah pak. Lily sendiri aja, gak enak." Ucap Lily.


Dan dengan sedikit paksaan akhirnya Lily menurut juga, membuat Azka tersenyum hampir tidak terlihat.


"Umm pak, jangan sering anter jemput Lily. Lily gak enak sama yang lain."


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Lily gak mau jadi bahan gosip di kantor." jujur Lily akhirnya. Azka menarik nafas berat. "Apa lagi sekarang, bapak anterin Lily ke dokter."


"Oke. Ah ya kemana tujuan kita?" Lily menyebutkan nama jalan dan Azka segera meluncurkan mobilnya kesana di temani dengan diam hingga tempat tujuan mereka.


Azka dan Lily masuk ke dalam klinik, lumayan ramai hari ini dengan beberapa ibu hamil, dengan suami tentunya.


Lily menatap nanar pada semua yang ada disana dan menghela nafas berat. Miris, karena setiap datang untuk periksa kandungan dia hanya sendirian, terkadang di temani mama Puspa.


Azka yang mengerti arah pandang Lily, dia mengambil tangan Lily dan melingkarkannya ke lengannya. Lily terkejut atas tindakan bos nya.


"Anggap kita adalah pasangan seperti mereka. Oke?!"


"Tapi pak..."


"Saya tahu kamu juga ingin seperti mereka kan? Anggap saja saya adalah dia!" ucap Azka lagi. Mata Lily berkaca-kaca menatap sang bos dengan haru, lalu mengangguk. Azka tersenyum, senang atau sedih ia tidak tahu.


Selama pemeriksaan Azka juga ikut ke dalam ruangan.


Dokter Dian mulai melakukan pemeriksaan.


"Permisi ya bu Lily." ucapnya lalu menyingkapkan baju Lily hingga terlihat perut buncitnya, wajah Lily merah karena malu Azka ada disana. Sedangkan Azka menundukan kepalanya, takut kalau Lily merasa tak nyaman.


Dokter Dian mengusapkan jel dingin di atas perut Lily, dan mulai menggeserkan sebuah alat. Terdengar suara detak jantung sang jabang bayi. Indah sekali.


"Bapak, kesini sebentar. Kita lihat perkembangan putranya." Ajak dokter Dian. Azka mendekat tapi tidak berani melihat Lily.


"Ini, usia janin sudah masuk delapan bulan ya pak, posisinya bagus. Ketubannya juga bagus. Tidak ada masalah." Mata Azka berbinar saat melihat bayi tampan di layar usg tiga dimensi bergerak seperti sedang mengusap matanya, lalu membuka mulut seperti menguap.


Kembali ke kursinya, dokter Dian kembali menjelaskan tentang apa yang boleh dimakan dan tidak di usia kandungan Lily yang sekarang.


"Pastikan ibu Lily meminum vitamin dan penambah darah, karena ibu Lily tekanan darahnya rendah."

__ADS_1


"Apa itu bahaya dokter?" dokter menjelaskan kembali. Azka mendengarkan dengan sangat baik.


*


Selesai pemeriksaan, Azka mengajak Lily untuk makan siang meski Lily menolak.


"Ayo makan, saya janji setelah makan, saya akan antar kamu pulang. Ini sudah lewat dari jam makan siang loh. Ingat kata dokter kamu harus jaga pola makan sehat." Azka membuka seatbelt nya lalu membantu Lily juga.


"Tapi, Lily gak suka cium bau keju, bikin mual." ucap Lily menatap pada restoran Itali di depannya.


"Oke, kita makan dimana?"


"Lily udah hampir seminggu gak makan bakso, boleh?" tanya Lily. Azka menggelengkan kepala dan mengangkat jari telunjuknya seakan mengatakan 'ingat pesan dokter!'. "Please."


"Tidak."


"Ya udah, Lily gak mau makan!" Lily merajuk dengan melipatkan kedua tangannya di depan dada.


"Iya-iya oke!" tapi ingat, gak boleh pedes, gak boleh pake cuka, saos juga gak boleh banyak-banyak." Lily kemudian menoleh dan tersenyum senang. Menularkan senyuman juga pada Azka.


Mobil berhenti di lampu merah. Tujuh detik lagi akan berubah menjadi kuning lalu hijau. Lily terkesiap melihat seorang anak dengan dagangan di tangannya. Permen kapas. Tiba-tiba saja Lily merasa ingin benda itu, kelembutannya sudah sangat terasa bahkan hanya melihatnya saja.


Azka memperhatikan Lily, mulut Lily terbuka dengan lidah yang menyapu ujung bibirnya, pandangan Lily tak lepas dari seorang anak penjaja permen kapas di depan. Tangannya mengelus lembut perutnya.


Lampu sudah berubah hijau mobil dan motor serempak kembali berjalan. Lily merasa kecewa.


Azka menghentikan mobilnya setelah melewati lampu merah, meminta Lily menunggu sebentar. Lily hanya mengangguk. Tak lama Azka kembali lagi sedikit terengah.


"Ini." Azka memberikan dua bungkus permen kapas untuk Lily. Mata Lily berbinar. "Kamu mau kan?"


Tanpa Lily sadar dia sudah merebut permen kapas itu dari tangan Azka, dan langsung membukanya. Menikmatinya dengan rakus.

__ADS_1


"Trimakasih, pak." Azka hanya tersenyum melihat Lily yang bahagia. Lelah karena tadi berlari hilang seketika.


__ADS_2