Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
Extra part. Yumna


__ADS_3

Seorang gadis tanggung berjalan di antara lorong kelas. Wajahnya berseri, senyum selalu tersungging di bibirnya. Semenjak satu kelas dengan seseorang, dia semakin bersemangat dalam belajar maupun bersekolah.


"Yumnaaa!!" panggil seseorang dari belakang, Yumna pun menoleh. Lalu membalas lambaian tangan sahabatnya itu. Segera sahabat Yumna berlari ke arahnya. Mereka pun mengobrol ringan sambil berjalan ke kelas. Sampai di depan kelas, karena tidak memperhatikan jalannya Yumna bertubrukan dengan Aldy, sampai terjatuh. Ya Aldy putra dari Yoga dan Wanda. Mereka satu sekolahan dan satu kelas.


"Maaf!" ucap Aldy dingin. Lalu mengulurkan tangannya dan membantu Yumna berdiri.


"Kamu gak apa-apa Yumna?" tanya Tia.


"Enggak. Makasih Al!" ucap Yumna.


"Hemm." lalu Aldy pergi keluar kelas.


Kenapa Aldy berbeda? Ayah dan ibunya kalau ngomong berisiknya kayak kereta api, apalagi om Roman. Tapi kenapa Aldy sangat pendiam? batin Yumna, dia terus menatap punggung Aldy hingga menghilang di ujung lorong.


"Masuk yuk." ajak Tia. Yumna dan Tia pun masuk ke dalam kelas.


Tia terus mengoceh, tapi Yumna tidak mengalihkan fikirannya dari Aldy. Yumna menghela nafas berat.


"Masih kepikiran Aldy ya?" tanya Tia.


"Eh enggak!" seru Yumna berkilah.


"Ahhh... udah kelihatan tuh mupeng nya!" Tia menyenggol Yumna sambil tersenyum jahil.


"Ih apaan sih!" Tia tertawa melihat wajah Yumna yang malu.


Yumna memang menyukai Aldy sedari kecil. Tapi Aldy selalu bersikap cuek. Apalagi sekarang Aldy tumbuh menjadi remaja yang tampan. Tingginya melebihi teman seumurannya. Kulit putih bersih, hidung mancung, mata sedikit sipit seperti Wanda.


Rasa suka yang di rasakan Yumna pada Aldy membuat Yumna tidak tertarik dengan pria lain, hingga setiap ada lelaki yang mendekatinya Yumna selalu menolak. Yumna hanya berharap Aldy bisa mengerti dengan perasaannya, tapi Aldy sedikit pun tidak pernah meliriknya.


Ah mungkin memang kami masih kecil! batin Yumna.


Tahun-tahun berlalu Yumna tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Dia sudah lulus dengan predikat terbaik di universitasnya. Yumna memutuskan untuk menjalani pendidikan S2 nya di Singapura.


Yumna sedang membereskan segala keperluannya, memasukkan baju ke dalam dua koper miliknya. Besok siang dia akan terbang ke Singapura dan akan tinggal bersama Ratih dan Adi

__ADS_1


"Yumna!" panggil Lily yang sudah mendekat.


"Iya ma?"


Lily duduk di samping Yumna. Matanya berkaca-kaca karena sedikit tidak rela gadis kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa akan jauh dari pantauannya.


"Udah deh ma, jangan nangis! Lagi pula cuma sebentar kok disana. Yumna juga sama nenek sama kakek. Mama jangan khawatir!" ucap Yumna, mengelus punggung tangan Lily.


"Kamu baik-baik disana oke?! Telfon mama tiap hari." ucap Lily lalu memeluk Yumna dengan sayang.


"Pasti!" ucap Yumna membalas pelukan sang mama.


"Ma aku lapar!" Ucap Yumna setelah beberapa saat lamanya mereka berpelukan.


"Ayok, makan malam sudah mama siapkan!"


Mereka pun turun ke bawah.


"Arkhan, berikan itu punyaku!" teriak Syifa. Arkhan mengangkat sebuah piring di tangannya, di sampingnya Azkhan yang sedang menikmati kue dari piring yang Arkhan angkat di atas kepalanya. Syifa tidak bisa meraih piring miliknya karena tinggi si kembar yang melampaui dirinya.


"Arkhan, Azkhan! Kalian masih saja senang menjahili kakak kalian!" Lily berseru tapi duo rusuh itu tidak mendengarkan.


Yumna yang melewati mereka menjewer telinga keduanya hingga si duo rusuh itu meringis kesakitan. Azkhan menahan tangan Yumna yang menarik telinga kirinya, dan Arkhan yang menahan tangan Yumna di telinga kanannya.


"Aakkhh sakit kak!" seru mereka bersamaan.


Segera Syifa mengambil piring nya dari tangan adiknya yang selalu mengganggunya.


"Rasakan!" ucap Syifa lalu menginjak kaki Arkhan, dan meninju perut Azkhan dengan keras. Lalu setelah itu Syifa pergi menuju arah ruang makan.


"Lepaskan kak sakit!" Azkhan memohon, kupingnya terasa linu karena Yumna menjewernya dengan sedikit tarikan.


"Kalian ini, senang sekali mengganggu Syifa!" geram Yumna marah. "Awas saja kalau kakak gak ada kalian masih mengganggu Syifa, kakak akan minta papa buat masukin kalian ke asrama! Biar kalian tahu rasa!" ucap Yumna dengan wajah yang di buat marah.


"Ampun kak, jangan. Arkhan gak mau masuk asrama!" ucap Arkhan memohon dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Aku juga!" Azkhan.


"Emang kakak mau jadi berangkatnya?" tanya Arkhan.


"Hemm!" ucap Yumna singkat sambil melepaskan tangannya dari telinga si duo rusuh. Si kembar itu mengusap masing-masing telinganya yang sudah memerah.


"Dasar nenek sihir!" gumam Arkhan.


"Mak lampir!" lirih Azkhan, tapi gumaman mereka masih bisa di dengan Yumna.


"Papaaaa....!!! Masukan duo rusuh ini ke asrama besok!!!" teriak Yumna sambil berjalan ke ruang makan.


"Oke!" suara sahutan terdengar dari ruangan itu. Segera si duo rusuh berlari ke arah sang ayah yang sudah ada di meja makan dan mengerubunginya kanan dan kiri. Yumna selalu bisa membuat mereka dapat hukuman oleh ayah mereka.


"Papa, yang gantengnya nomor satu di dunia, dan aku yang kedua. please. Ar gak mau ke asrama." ucap Arkhan membujuk sang papa.


"Az juga. gak mau! Papa cintanya mama!"


Cup.


Keduanya mencium pipi Bima bersamaan.


"Apa sih bawa-bawa nama mama segala?!!" Lily melotot. Azkhan hanya menyengir tanpa dosa. Syifa dan Yumna saling bertos ria.


Yumna



Assyifa



Duo rusuh!!


__ADS_1


__ADS_2