
Lampu-lampu kota terlihat semakin indah saat bianglala yang mereka naiki semakin menuju ke puncaknya.
Bulan yang terlihat separuh hanya di temani beberapa bintang yang berkelip di antara awan yang hitam. Angin yang dingin mulai berhembus kencang, beruntung Yumna memakai jaket sedari rumah tadi sore. Sedangkan Lily hanya bisa memeluk dirinya sendiri dengan menyilangkan kedua lengannya di sisi tubuhnya.
"Dingin ya?" tanya Bima.
"He-em." jawab Lily.
"Maaf, harusnya tadi pulang aja." sesal Bima tidak enak.
"Gak pa-pa lagian dari tadi yang naik permainan kan aku sama Yumna. Kamu belum." ucap Lily dengan senyuman, membuat Bima terkesima. Apalagi wajah Lily yang tersorot sinar bulan yang temaram membuat aura di wajah Lily terasa berbeda. Lily cantik luar biasa!
Dada Bima berdebar, jantungnya berpacu dengan cepat kala pandangan mereka saling beradu.
Angin kembali bersemilir, membuat keadaan mereka yang berada di puncak sana semakin kedinginan.
Bima yang melihat itu segera melingkarkan satu tangannya yang bebas ke pinggang Lily dan menarik tubuh Lily semakin dekat dengannya. Yumna yang berada di dalam pangkuan Bima hanya menggeliat pelan, mengubah posisi kepalanya, lalu lanjut tidur lagi.
Lily yang merasa tidak lagi kedinginan hanya tersenyum senang. Sama seperti Bima dadanya juga berdetak dengan kencang.
"Harusnya dulu aku sering bawa kamu main ke tempat seperti ini. Kita gak punya kenangan manis apapun selama pernikahan kita." sesal Bima.
"Gak pa-pa. Kamu menyesal, hem?" Bima mengangguki pertanyaan Lily.
__ADS_1
"Sangat." ucapnya singkat. Bima mencium puncak kepala Lily, membuat Lily menegang. Pipi Lily terasa panas. Jangan sampai Bima melihat dan meledeknya jika pipinya memerah.
Sampai di kediaman mama Ratih. Bima menidurkan Yumna di kamar Lily. Lalu membuka sepatu gadis ciliknya itu dengan hati-hati. Mencium kening Yumna dengan lamat.
"Aku ke kamar dulu ya." pamit Bima pada Lily yang di balas anggukan kepala dari Lily. Lily membukakan pintu untuk Bima, ia kira Bima akan langsung keluar tapi Bima malah mengambilnya ke dalam pelukannya.
Mata Lily membulat, bisa Lily rasakan detakan cepat di jantung Bima.
"Aku sayang sama kamu Na. Please jangan pernah pergi dari aku lagi." Pelukan Bima erat, dan hangat. Membuat senyuman mengembang di bibir Lily.
*
Bima Satria
"Bim, lepas. Aku sesek!" Segera ku lepaskan pelukanku, dan Lily mengambil nafas banyak-banyak. Aku tersenyum malu, bisa-bisa nya malah aku membuat Lily sesak nafas padahal belum aku cium!
Otakku mulai berjalan tidak normal!
"Maaf." Aku jadi canggung. Entah kenapa senyuman Lily dan pipi merona Lily membuat aku jadi merasa kikuk. Ingin aku mengecup bibir manis itu, dan pipi merah seperti tomat itu...ughhh gemasnya...
"Aku ke kamar dulu." ucapku akhirnya. Tidak rela sebenarnya aku meninggalkan Lily. Inginnya sih terus deket, tapi belum muhrim, dan akan muhrim sebentar lagi!
"Ya udah katanya mau ke kamar?!" seru Lily, saat aku belum beranjak dari sana.
__ADS_1
"Kamu usir aku?"
"Iya lah. Aku mau tidur. Capek!"
"Oh, Oke. Selamat malam. Mimpiin aku ya." aku menutup mulutku kenapa jadi seperti abg labil sih? Inget umur Bim!
Lily hanya tertawa renyah melihat tingkah ku. fix. Aku mempermalukan diriku sendiri.
Lily hanya mengangguk, lalu setelah itu mendorongku keluar dari kamarnya, dan menutup pintu.
Sedikit kecewa karena aku belum mendapatkan bagianku, maksudku minimal ciuman selamat malam di pipi gitu!
Aku berjalan riang ke kamarku di bawah, kamar tamu sebenarnya. Karena kamar milikku di pakai Lily dan Yumna. Lagi pula aku selama ini tinggal di rumahku sendiri. Sesekali menginap di rumah mama. Hanya saja semenjak ada Lily aku lebih sering tidur disini.
Efek dari pelukan tadi membuat ku tidak bisa tidur, hanya bisa berjling ke kanan dan ke kiri. Ah ya ampun. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Bahkan aku sama Dena dulu tidak pernah seperti ini.
Rasanya aneh, tapi juga menyenangkan. Terasa hatiku ada yang bolong saat Lily tidak ada di sisiku, tapi saat Lily ada di dekatku, rasanya seperti secangkir kopi yang meluber saat di beri es batu.
Ish, kenapa juga menyamakan Lily dengan kopi. Dasar!
Harusnya aku menyamakan dia dengan emas yang berubah jadi berlian bukan? Ah, aku harus banyak nonton film romantis ini!
Bima pov end.
__ADS_1