Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 122


__ADS_3

"Makasih ya mas udah bawa Lily kesana. Seneng banget deh." ucap Lily sambil memeluk boneka singa lalu menggosokan pipinya ke bulu lembut singa coklat itu. Mereka dalam perjalanan pulang.


"Mas Adit jadi iri deh sama tuh boneka singa!" Wajah Adit memberengut.


"Kenapa?" tanya Lily tidak mengerti.


"Dia kamu peluk, kamu cium. Lah mas Adit? Di anggurin!" Lily terkikik mendengar protes dari pria di sampingnya ini.


"Cewek itu ribet ya." ucap Adit lagi.


"Kok ribet?" gantian Lily yang protes.


"Padahal kan ada yang gampang gitu, tinggal beli gak usah menangin permainan kan."


"Jadi mas Adit nyesel nih!" tanya Lily yang faham maksid Adit.


"Ya enggak. Tapi mas Adit bingung aja."


Lily tertawa pelan hingga memperlihatkan lesung pipi yang selalu Adit suka.

__ADS_1


"Cewek itu paling seneng kalo cowoknya penuh perjuangan. Kalau dapetinnya susah payah kayak tadi kan Lily jadi bangga gitu mas. Kesannya itu loh yang bikin gimanaaa gitu!" ucap Lily membuat Adit tersenyum merasa bangga.


Adit mengantar Lily sampai di depan rumah. Seperti biasa, dia telat membukakan pintu karena Lily sudah lebih dulu membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri.


"Harusnya nunggu mas Adit bukain!" seru Adit sambil menyender di pintu mobil sebelah kiri. "Biar romantis!" kedua alisnya ia gerakkan ke atas dan ke bawah beberapa kali.


Lily hanya tersenyum karena tingkah Adit.


"Lain kali. Oh ya sekali lagi makasih ya mas Adit. Lily seneng, makasih juga hadiahnya." ucap Lily sambil mengangkat boneka miliknya.


Adit mengangguk dan tersenyum senang.


"Gak ah. Udah malem, lagian Bima pasti gak suka kalau mas Adit mampir. Dia udah kayak calon mertua aja sikapnya. Inget gak tadi?" kekeh Adit. Lily hanya menjawab dengan pelototan matanya tapi bibirnya tersenyum menandakan ia pun setuju.


"Ya udah mas Adit pulang ya." Lily mengangguk. "Selamat mimpi indah." ucap Adit seraya mengambil wajah Lily dan mengusap pipi kanannya. Lily terkesima dengan perlakuan manis dari Adit.


Sebenarnya Adit sangat ingin sekali mengecup bibir Lily, tapi tidak sopan kan jika dia mencium Lily tanpa permisi. Dia tidak mau di sebut pria nakal dan mesum, walaupun sebenarnya iya tapi kalau dengan wanita lain. Adit menahan dirinya dengan susah payah.


"Iya. Hati-hati." ucap Lily. Adit pun melepaskan tangannya dari wajah Lily dan segera masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Ya walaupun harus kehilangan kocek yang dalam tapi gak pa-pa lah. Senyum Lily lebih berharga dari itu." gumam Adit sebelum melajukan mobilnya.


Tiga malam sebelumnya sebenarnya Adit sudah mereservasi semua gedung lantai tiga di restoran tersebut. Hanya untuk makan malam romantis bersama Lily. Tapi harus gagal karena ulah Bima yang berujung tidak pedenya Lily dengan baju yang dia pakai. Tapi sudahlah semua sudah terbayar lunas dengan senyuman Lily yang menawan.


Lily masuk ke dalam rumah dan mendapati Bima yang masih duduk di depan tv, tapi matanya terfokus pada layar pipih di tangannya.


"Belum tidur mas?" tanya Lily seraya lewat di belakang Bima.


"Hem." jawab Bima dengan deheman, dia masih sibuk dengan gawainya tapi di ujung matanya tetap memperhatikan Lily yang mulai menaiki tangga dengan membawa sebuah boneka di dalam dekapannya.


Tak lama Lily kembali turun untuk mengambil minum. Bima sudah tidak ada di depan tv. Lily melanjutkan langkahnya ke arah dapur dan mendapati Bima disana. Bima sedang membubuhkan selai coklat ke dalam rotinya.


"Kamu lapar mas?" tanya Lily. Bima masih terdiam membuat Lily heran. 'Kenapa sih?'. Lily mengambil segelas air lalu menenggaknya sedangkan Bima kembali ke ruang tv.


'Ih nyebelin deh di cuekin!'


Bima duduk di depan tv dia mulai memakan roti yang ia bawa dari dapur. Di dalam hatinya merasa kesal karena melihat Lily dengan Adit. Dia terlihat sangat bahagia, sedangkan jika bersama nya Lily tidak pernah tertawa seperti itu. Bima memperhatikan saat Adit mengantar Lily tadi. Dia sempat mengintip dari kaca jendela. Ya ampun, rasanya Bima ingin segera menarik Lily ke dalam rumah. Bima mengenyahkan segala pemikirannya, apa yang di lakukan Adit dan Lily selama mereka makan malam, atau selama dalam perjalanan. 'Apa mereka sudah berciuman?' Bima menggelengkan kepalanya.


'kenapa juga harus di fikirin. Bagus kan kalau dari sekarang Lily dekat dengan Adit. Toh benar, delapan bulan lagi. Aku harus bisa melepaskan Lily.' monolog Bima.

__ADS_1


__ADS_2