
Pagi menjelang. Bima masih dengan sikap yang sama cueknya seperti semalam, membuat Lily bingung sendiri.
'Apa mas Bima gak suka ya Lily semalam pergi sama mas Adit?' tanya Lily dalam hati, mereka sedang duduk bersama di meja makan untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor.
Dari sejak malam itu sikap Bima menjadi cuek. Lily bingung sendiri karena saat di tanya pun Bima seperti enggan menjawab. Dan di kantor mereka seperti biasa layaknya bos dan sekretaris.
***
Lily berjalan mondar mandir di depan sebuah ruangan bercat putih. Berkali-kali menoleh ke arah pintu tapi tidak ada seorangpun yang membuka pintu itu. Fikirannya kacau. Dalam hatinya khawatir. Orang-orang yang berlalu lalang sama sekali tidak di hiraukannya. Satu, dua orang bahkan sempat di tubruknya tadi saat dia berjalan bolak-balik di depan ruangan itu karena saking khawatirnya.
Yeni mendapat kecelakaan saat istirahat. Mereka berdua rencananya akan makan ditempat bakso pak Slamet yang waktu itu mereka makan bersama Adit. Saat turun dari angkot dan akan menyebrang tiba-tiba sebuah motor lewat dari arah sebelah kiri jalan, padahal mereka yakin kalau lampu sudah merah saat itu. Yani tersenggol stang motor dan jatuh dengan keras membuat dia meringis memegangi perut buncitnya. Dan sekarang disinilah mereka, di rumah sakit.
"Ly?" Lily menoleh. Seorang wanita yang ia kenal sedang berjalan ke arahnya.
"Mbak Dena?!"
"Kamu ngapain disini?" tanya Dena. Lalu matanya membelalak lantaran Lily berdiri di depan ruangan dokter kandungan. "Kamu... Hamil?" seru Dena.
Lily terkejut dengan penuturan Dena.
__ADS_1
"Eh, bukan mbak." sanggah Lily. "Itu temen Lily kecelakaan barusan, dia lagi hamil jadi Lily bawa kesini." seketika raut wajah Dena berubah drastis.
"Mbak lagi apa disini? mbak sakit?" tanya Lily khawatir. Dena yang tersadar lalu menyembunyikan amplop coklat besar ke balik punggungnya.
"Enggak kok. Cuma pemeriksaan rutin aja!" Dena tersenyum canggung.
Tidak berapa lama seorang pria jangkung kurus mendekat ke arah mereka. Wajahnya panik dengan rambut acak-acakan.
"Yeni di dalam, A'." ucap Lily tanpa menunggu suami Yeni itu bertanya. Yayan mendekat ke arah jendela dan melihat sang istri yang masih di tangani oleh dokter. Dia menunggu dengan perasaan cemas. Sama cemasnya dengan Lily, Yayan tidak bisa tenang duduk di ruang tunggu, yang di lakukannya adalah persis seperti Lily berjalan mondar mandir dengan perasaan cemas, takut terjadi sesuatu dengan calon anak pertama mereka.
Tak lama dokter keluar dari dalam ruangan dan bertemu dengan mereka bertiga. Ketiga orang itu mendengar penjelasan dokter dengan seksama. Lalu menghela nafas lega setelah mendengar pendarahan yang Yeni alami sudah bisa di hentikan, dan janin dalam kandungan Yeni baik-baik saja. Yeni harus istirahat selama dua minggu untuk pemulihan.
'Jangan sampai dokter bilang yang aku fikirkan!" harap Lily cemas hingga berkeringat di dalam ruangan ber-AC.
Lily bisa bernafas lega saat sudah keluar dari dalam ruangan dokter tadi, detak jantungnya kembali berangsur dengan normal, sedangkan Dena merasa kecewa karena yang di harapkannya belum juga terwujud.
"Kita mau kemana, mbak?" tanya Lily saat Dena ternyata membawanya lebih jauh.
"Makan siang."
__ADS_1
Sementara itu di kantor, Bima merasa khawatir karena satu jam setelah istirahat Lily belum juga kembali ke mejanya. Tidak biasanya! Dia menelfon Lily tapi hanya suara operator yang terdengar bahwa nomer yang di tuju tidak aktif. Bima masuk ke dalam ruangan, tapi setiap lima sampai sepuluh menit dia kembali keluar melihat apakah Lily sudah kembali ke mejanya.
"Kamu lihat Lily?" tanya Bima pada salah seorang OB yang membersihkan lantai.
"Tadi sih kalau gak salah mbak Lily naik angkot waktu istirahat sama temannya, pak!" jawab sang OB lalu kembali pada pekerjaan setelah Bima kembali ke dalam ruangan kerjanya.
Bima tidak bisa tenang, kenapa Lily harus naik angkot saat istirahat? Bukankah di kantor ini sudah ada kantin! Atau kafe dan restoran juga dekat bisa hanya jalan kaki kalau Lily tidak mau makan di kantin. Apa mungkin...
Bima menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan segala bayangan yang terlintas di otaknya.
Dena dan Lily makan siang di sebuah restoran seafood.
"Mas Bima udah kamu telfon?" tanya Dena. Lily menepuk jidatnya sendiri.
Lupa, mbak!" ucap Lily, lalu mengeluarkan benda pipih miliknya. Mati. "Batre hapenya mati mbak!" seru Lily saat mencoba menyalakan tetap tidak bisa. "Lily lupa gak charge semalam."
"Mbak yang telfon deh!" tawar Dena di angguki Lily sebagai jawaban.
Dena melakukan panggilan pada suaminya lalu tak berapa lama Dena memberikannya pada Lily. Kening Lily berkerut bingung tapi tetap menerima benda pipih yang di sodorkan Dena. Lily menempelkannya ke telinga, lalu sedetik kemudian menjauhkannya, karena suara teriakan keras dari sana yang membuat telinganya berdengung.
__ADS_1