
Lily Aruna.
Terhitung sudah satu bulan lebih saat kami melakukannya, tapi Mas Bima belum juga pulang kesini. Kami bertemu setiap hari di kantor, kecuali hari sabtu dan minggu karena memang waktunya libur.
Sebenarnya perasaan mas Bima sama aku itu bagaimana? Dia terus berusaha menghindar saat aku ingin bicara. Menurut surat perjanjian satu tahun yang lalu kami akan berpisah tepat di saat ulang tahun pernikahan kami yang pertama, dan sekarang sudah lewat seminggu dari tanggal itu. Lalu bagaimana nasibku setelah ini? Dalam perjanjian tidak akan ada ****, tapi malam itu kami benar-benar melakukannya dengan sadar, bukan? Setidaknya aku mendengar dia menyebutkan namaku, bukan nama mbak Dena, atau nama orang lain!
Ku tatap foto yang menggantung di dinding kamar. Foto mas Bima dengan senyum yang mengembang, di sebelahnya ada mbak Dena yang melingkarkan tangannya di lengan Mas Bima dengan sama bahagianya. Baru aku ingat, selain foto pernikahan aku tidak pernah berfoto berdua dengan Mas Bima.
Aku tersenyum kecut, betapa bodohnya aku selama ini. Memikirkan kebahagiaan orang lain sedangkan aku bahagia hanya menjadi bayangannya saja. Jika di masa depan aku di lahirkan lagi untuk kedua kalinya aku akan meminta tuhan untuk memberikan sedikit rasa egois pada diriku. Supaya aku bisa memikirkan diriku sendiri, dan tidak akan terjebak dalam permainan yang sama.
Pintu terbuka, aku terhenyak karena tiba-tiba mas Bima masuk ke dalam kamar. Matanya merah, basah. Apa dia menangis lagi?
Mas Bima memeluk ku erat sekali hingga kakiku berjinjit karena ia meraih pinggangku. Rahangnya mengeras, terdengar suara bergemeletuk dari giginya yang bergesekan. Tidak ada suara yang keluar dari dalam mulutnya, hanya isakan yang tertahan disana.
Apa dia melihat sesuatu lagi? Sebenarnya ada apa dengan suamiku ini? Kenapa aku tidak pernah tahu tentang apa yang menjadi kesakitan suamiku sendiri? Mama dan papa juga menolak bercerita. Mereka ingin Mas Bima sendiri yang menceritakannya padaku. Apa mungkin itu sesuatu yang memalukan?
Aku terdiam, kali ini mas Bima sedikit melonggarkan pelukannya, tapi tetap tidak mau melepaskanku. Aku melingkarkan tanganku di punggung dan mengelus punggung lebar itu dengan perlahan.
Sama seperti malam itu. Kami melakukannya lagi!
Deruan nafas yang tidak beraturan mengakhiri pergumulan panas kami. Rasanya masih sakit, meskipun tidak sesakit saat pertama kali 'milik'nya berhasil memasukiku.
__ADS_1
Aku juga tidak menangis kali ini, karena yang ku rasakan sekarang sedikit kesakitan lalu selanjutnya adalah kenikmatan duniawi yang harusnya sudah ku rasakan sejak lama.
Rasanya sia-sia satu tahun menjadi seorang istri dan melewatkan hal menyenangkan seperti ini. Harusnya sejak dulu saja aku menggodanya. Haha..!
Mas Bima sudah terlelap, dada bidangnya sangat seksi. Meskipun bukan kali ini aku melihatnya untuk pertama kali, tapi ini pertama kalinya aku bisa mengelusnya dengan tanganku sendiri.
Pagi ini aku yang duluan terbangun. Mas Bima sangat lelah kelihatannya. Sisa-sisa air mata semalam membuat kulit di bawah matanya sedikit bengkak.
"Pagi!" sapa ku saat ku lihat matanya baru terbuka. Ku simpan susu hangat kesukaannya di atas nakas. Dia mengerjapkan mata. Lucu sekali. Sampai kemudian terlonjak bangun saat melihat dirinya sendiri. Melihat ke dalam selimut lalu berlalu ke kamar mandi dengan mulut yang terus menggerutu dan mengumpat tidak jelas. Tak lupa selimut juga ia bawa ke dalam kamar mandi untuk membungkus dirinya.
Aku menunggu mas Bima keluar dari kamar mandi sambil merapikan seprai yang berantakan akibat ulah panas kami semalam. Tersenyum sendiri seperti orang stress, tapi kemudian bingung saat melihat raut wajah kaget mas Bima tadi.
"Kita sarapan, mas. Lily udah siapin sarapan."ucapku, Mas Bima sudah selesai memakai pakaiannya. Baju kaos berwarna hitam dan celana jeans pendek sebatas lutut.
"Maaf, Ly. Aku harus pergi." Aku merasa kecewa, entah kenapa.
"Lily!" ucapnya lagi seraya mendekat ke arah ku, aku terkesiap dengan Mas Bima yang sudah ada di hadapanku. Apa mas Bima akan menciumku?
Dia mengulurkan tangannya menyentuh pipiku. Sorot matanya tersirat akan sesuatu tapi entah apa.
Oh tidak! Jantungku...
__ADS_1
"Lily, maaf kan aku. Harusnya kita tidak melakukan ini. Ini semua salah!"
Salah? Yang mana?
"Maaf, karena aku sudah melakukan ini, Lily. Maaf. Aku akan urus surat perceraian kita secepatnya. Dan aku juga akan memberi konpensasi untuk kamu atas kekhilafanku!"
Duarrr!!!
Seperti tersambar petir aku hanya berdiri mematung mencoba mencerna kembali apa yang baru saja di ucapkan oleh lelaki di depanku ini. Lidahku kelu meski aku berusaha ingin berucap.
Lalu sebuah batu besar yang menggelinding dari atas bukit terjal lalu menindih tubuhku. Aku harap seperti itulah keadaanku sekarang. Aku ingin mati saja. Hatiku rasanya sakit. Sangat!
Belum sempat aku bertanya Mas Bima sudah berlalu pergi dengan sorot mata yang entah apa. Marah, kecewa. Entahlah! Lalu bisa ku dengar suara mobil yang kemudian pergi menjauh.
Aku merosot ke lantai. Menangisi nasibku. Salahku karena berfikir kalau mas Bima sudah berubah dan mencintaiku. Nyatanya bercinta tidak membuat dia bisa mencintai ku bukan? Ingat, bercinta hanya sebuah kebutuhan biologis, meski tanpa cinta manusia bisa melakukannya bukan? Yang penting hasrat mereka terpenuhi.
Hahh dan apa itu tadi? Konpensasi dia bilang? Aku melakukan ini dengan ikhlas, sedari awal aku hanya ingin membalas budi pada Mbak Dena, tapi sekarang apa dia menghinaku?
Apakah dia fikir aku sama dengan j*l*ng di luar sana setelah mendapatkan apa yang dia mau lalu dia pergi. Bedanya aku dan mereka, mereka mendapatkan bayaran sebelum di tinggal pergi sedangkan aku, dia meninggalkan luka yang sangat dalam disini. Di hatiku!
Dan semua itu salahku! Jika saja aku bisa memilih dari awal aku hanya akan mencintai Bimbim ku saja. Aku menyesal mencintai mu BIMA SATRIA!!
__ADS_1