Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 187


__ADS_3

"Karena kesalahan suaminya, adek gue pergi. Dia gak tahu kalau ternyata dia lagi hamil. Dia benci banget sama suaminya itu sampe saat dia sadar dia masih cinta dan pengen balikan lagi, suaminya udah sama orang lain."


"Wahhh. Laki apaan itu gak bener!" ucap Roman yang tak tahu kalau sebenarnya yang Adit maksud adalah Bima.


"Kalau menurut gue sih gak usah balikan lagi aja. Anaknya aja cantik gini apalagi emaknya, biar dia nikah aja sama yang lain!" Eh, Roman jadi gregetan dengan wajah seperti emak-emak saat nonton sinetron. 😅😅


"Iya, dia nikah lagi bulan yang lalu."


"Syukur deh, bagus itu." Roman masih dengan gregetnya tapi dengan senyuman


Lalu Adit menceritakan detail kecelakaan hingga dia batal pulang saat itu.


"Untungnya saat kecelakaan terjadi, Yumna ada sama neneknya di rumah masih tidur, kalau dia ikut gak tahu deh gimana!"


"Ya ampun kasihan banget dia. Jadi udah lama sepupu elo koma?" Roman dengan wajah prihatinnya. Adit mengangguk. "Kasihan dia baru aja dapet kebahagiaan udah di tinggal lagi."

__ADS_1


"Nasib. Mungkin suaminya yang sekarang memang bukan jodohnya dia." Adit menatap pada Bima yang terus memperhatikan Yumna sedari tadi.


Sebenarnya Adit ingin sekali memberitahu Bima tentang Yumna, tapi melihat undangan pernikahan itu, Adit jadi mengurungkan niatnya. Semua di rasa rumit bagi Adit selain janjinya pada Lily juga ada satu hal yang membuat Adit ternyata tidak sanggup untuk mengungkap semuanya!


***


Sura pintu di ketuk seseorang dari luar. Adit masuk bersama Yumna dalam gendongannya.


"Sorry Bim, gue gak bisa ninggalin Yumna di rumah. Dia rewel!" Adit duduk di sofa lalu mengalihkan Yumna dari gendongannya ke sofa. Yumna duduk diam dengan boneka sapi di tangannya.


"Gak pa-pa." ucap Bima lalu bergerak mendekat dan duduk di depan Adit. Bima membuka lembaran berkas yang di bawanya untuk di tunjukan pada Adit.


Sesekali Yumna berhenti dan menggerakan bola matanya ke atas, seperti berfikir, bibirnya mengerucut lucu, lalu kembali dengan spidol, memenuhi kertas itu dengan tinta berwarna biru kesukaannya. Tak menyangka membuat Bima tersenyum tanpa dia sadari.


"Papi, tangan Yuma. Lihat." ujar Yumna memperlihatkan tangannya yang belepotan dengan spidol biru.

__ADS_1


"Ya ampun, ati-ati Yumna jadi kotor, lihat." Adit mengambil tisu dari atas meja dan mengelap tangan Yumna tapi tinta itu tidak bisa di hilangkan.


"Sini, biar gue bawa dia bersih-bersih. Elu pelajari aja berkas itu." Adit mengangguk lalu kembali fokus sedangkan Bima membujuk Yumna.


"Ayo ikut sama papa sayang!" lalu menggendong Yumna yang tidak menolak. Bima merasa hatinya sangat hangat, apalagi saat dia menyebutkan papa pada dirinya sendiri. Matanya berkaca-kaca entah kenapa.


Bima Membawa Yumna ke wastafel, dia menarik satu kursi untuk Yumna berdiri sementara Bima membubuhkan sabun ke tangan mungil Yumna.


"Gosok, sayang. Nah kayak gini. Gosok, gosok. Pinter." Bima memberi contoh pada Yumna dan memujinya karena Yumna bisa melakukannya dengan baik.


Bima menatap Yumna dari cermin, tiba-tiba ia membayangkan Lily yang ada di depannya.


Kenapa anak ini jadi mengingatkanku pada Una?


"Papa, sudah bersih!" ujar Yumna mengagetkan Bima yang masih melamun.

__ADS_1


Papa? Bima tersenyum. perasaannya hangat saat Yumna memanggilnya papa. Bima tersenyum senang.


Sejak saat itu Bima sering bertemu dengan Yumna. Bahkan di sela kesibukannya Bima masih menyempatkan diri datang ke kantor Adit, untuk bertemu dengan gadis cilik itu. Bima merasa dirinya lebih hidup. Entah kenapa kehadiran Yumna membuat dirinya merasa berbeda.


__ADS_2