Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 130


__ADS_3

Selesai makan aku mencoba membantu Lily untuk mencuci piring, kali ini lebih hati-hati tidak mau melakukan kesalahan yang sama seperti tempo malam.


"Ya ampun mas. Kamu pakai sabun cuci piring sebanyak apa?" seru Lily saat melihat banyak busa sabun di tanganku. Di dalam wastafel, piring dan gelas bekas kami pakai tadi tidak terlihat karena busa dari sabun cuci piring yang melimpah. Lily hanya menepuk jidatnya dengan satu tangan berada di pinggang. Dan aku hanya nyengir persis seperti cengiran kuda.


Bima pov end.


***


Pagi ini Lily bangun dari tidurnya. Rasanya sangat malas sekali apalagi semalam Lily tidur hampir menjelang dini hari, guratan hitam persis mata panda kini menghiasi wajahnya.


Kembali terbayang dengan mimpi-mimpi Lily selama ini, apalagi semalam. Bisa-bisanya Lily bahagia karena Bima membalas perasaannya, lalu bayangan lain muncul dan Bima pergi menjauh meninggalkan dirinya.


"Aku harus ketemu mbak Dena!" ucap Lily dengan membulatkan tekadnya. Walaupun tanpa ijin dari Bima, Lily akan bicara soal perceraian dengan Bima. Bima tidak bisa diharapkan malah semakin membuat semua menjadi rumit. Biarlah jika Dena berfikir Lily yang buruk karena perpisahan ini, itu lebih baik kan.


Sebelum jam istirahat Lily menelfon Dena dan meminta untuk bertemu siang ini. Mereka akan bertemu di restoran yang tidak jauh dari lokasi perusahaan Bima.


Dena menyanggupi, membuat Lily tersenyum senang, tapi sedetik kemudian Lily juga merasa tidak karuan. Pastinya hal ini akan membuat Dena bersedih. Tapi Lily merasa tidak kuat lagi menahan perasaannya yang memang sudah terlambat dengan banyaknya bunga yang sudah terlanjur bermekaran di dalam sana. Di dalam hati Lily. Sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Bima tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya. Miris.

__ADS_1


Lily membulatkan tekadnya. Tangannya saling meremas kuat di bawah meja, sesekali menggigit bibir bawahnya. Gugup. Sedangkan Dena dengan penuh senyuman yang mengembang di bibir indahnya.


Haruskah aku bilang?


Harus!!


Harus!! tekad Lily.


"Mbak, sebenernya... Lily ...mau pi... pisah sama mas Bima." ucap Lily terbata. Dadanya berdentum keras saat Lily bisa mengeluarkan kata-kata yang ia rangkai dari semalam. Lily Menundukan wajahnya, tangannya semakin kencang meremas satu sama lain, bahkan sekarang sudah basah karena berkeringat.


"Lily, mau pulang kampung sebentar, Na! Iya pisah buat pulang ke kampung." suara seseorang membuat Lily dan Dena terkejut, Lily membulatkan matanya saat melihat siapa yang baru datang, Bima, dan Dena kembali tersenyum.


"Oh. Kamu buat mbak kaget aja Ly!" ucap Dena lalu beralih pada suaminya yang kemudian memilih duduk di samping Lily merangkul bahu Lily dengan sedikit keras. "Mbak kira kalian punya masalah." Senyum Dena semakin lebar saat melihat perlakuan suaminya pada Lily, senang tapi juga menyakitkan untuk dirinya.


"Eh. Em...anu..."


"Lily sudah lama gak pulang. Iya kan Ly?" Bima menoleh dengan senyum yang sama lebarnya seperti Dena, tapi Lily tahu itu senyum palsu yang di buat Bima. Jari-jari Bima terasa erat di pundak Lily bahkan serasa seperti sedang meremasnya. Seperti mengatakan "Ingat dengan perjanjian kita!"

__ADS_1


"Iya. Lily udah lama gak pulang. Itu maksud Lily!"


"Bodoh! Kenapa juga aku jawab kayak gitu. Dasar Lily bodoh. Sampai kapan semua ini akan berakhir?!"


Lily meringis karena pegangan erat di bahunya belum juga terlepas. Lily tidak habis fikir kenapa Bima ada disini dan menggagalkan rencananya.


Lily menunduk dalam. Takut dengan mata tajam yang terlihat geram itu menatapnya dengan tatapan mematikan. Rasanya udara disini semakin tipis karena oksigen yang terbakar. Bima sudah layaknya api yang akan membakar Lily sebentar lagi. Rahangnya mengeras, matanya menatap nyalang.


Ya tuhan. Ijinkan Lily untuk punya sayap dan terbang ke langit saat ini juga, atau berikan Lily kemampuan jurus ninja untuk menghilangkan diri dari hadapan pria menyeramkan ini.


Bima menghela nafas, wajahnya tidak sekaku tadi, tapi tidak juga membuat Lily mengangkat tatapannya dari lantai di bawahnya seakan ada semut yang lebih menarik untuk di lihat di sana daripada pria tampan di depannya ini. Bosnya. Suaminya.


"Aku tahu kamu akan bicara dengan Dena, tapi please. Tunggu waktu yang tepat untuk aku cari alasan." Lily tetap terdiam, matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku gak mau Dena berfikiran buruk tentang kamu jika kita berpisah. Please Ly. Beri aku waktu setidaknya dua bulan lagi saja."


Dua bulan? Bisakah?

__ADS_1


__ADS_2