Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 184


__ADS_3

Adit berlari di lorong rumah sakit. Setelah mendengar kabar tentang kecelakaan Lily. Adit yang baru saja turun dari taksinya, kembali menaiki taksi yang sama lalu meluncur ke arah rumah sakit.


Setelah satu jam dokter berjuang untuk menyelamatkan Lily, akhirnya dokter keluar. Semua yang menunggu disana langsung memburu sang dokter. Mama Puspa, Adit dan Nila. Sedangkan mama dan papa Azka berada di depan ruangan operasi. Luka serius pada Azka membuatnya harus segera masuk ke ruang operasi. Yumna, untuk sementara di titipkan pada tetangga mama Puspa yang biasanya Yumna main disana.


Semua meneteskan air mata sedih. Baru saja Lily mendapatkan kebahagiaannya dan sekarang mereka mendapatkan musibah. Hidup memang tidak ada yang tahu.


Adit dan mama Puspa setia menjaga Lily bergantian. Salah satu dari mereka juga harus menjaga Yumna di rumah. Yumna tidak di beri tahu jika sang mama sedang terbaring tak berdaya.


Sudah dua hari ini Lily terbaring disini, dengan alat yang menempel pada tubuhnya. Akibat benturan keras di kepalanya, menyebabkan cedera otak dan harus di operasi untuk mengatasi pendarahan yang terjadi. Sedangkan Azka di ruangan lain, pasca operasi Azka masih belum tidak sadarkan diri.


"Dokter, apa ada perkembangan?" Adit memburu dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu. Pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama juga. Dokter hanya menggeleng, tidak ada perkembangan. Lily masih dalam keadaan shock meski dalam tidurnya, berkali-kali harus mendapatkan penanganan serius dari dokter.


Pintu terbuka. "Dokter! Pasien kembali kejang!" suster berteriak saat baru melongokan kepalanya, lalu dokter mengikuti suster ke dalam, setelah menutup pintu. Adit menatap ke dalam ruangan dari jendela kaca.


Matanya berkaca-kaca melihat Lily dan Dokter sedang berjuang dengan hidupnya di dalam. Dalam hatinya Adit merapalkan doa semoga saja sang adik bisa selamat dan melewati masa kritisnya. Adit sungguh merasa khawatir!


***


Kertas yang di pegang Bima tiba-tiba terjatuh, entah kenapa rasanya tangan Bima seperti lemas, dadanya juga terasa seperti ada yang mencubit. Bima menatap Surat permohonan cerai dari Lily yang ia dapat dua tahun yang lalu. Tapi sepertinya bukan karena surat yang ada di tangannya itu Bima merasa aneh dan sakit pada dirinya.

__ADS_1


Bima tersenyum miris saat mengambilnya kembali. Surabaya. Dan saat itu Bima kembali fokus mencari Lily di kota itu dengan beberapa bantuan, tapi Surabaya sangat luas, hingga puluhan orang yang ia kirim untuk mencari Lily tetap tidak bisa menemukannya. Bahkan Bima sudah turun tangan sendiri hingga sang papa sudah tidak tahan dengan sikap Bima yang abai dengan perusahaannya, hingga mengakibatkan hampir bangkrut!


Sialnya pihak pengadilan tidak memberikan informasi alamat pemohon.


"Bagaimanapun juga Una sudah menggugat cerai aku, aku sudah bukan bagian dari kehidupan dia lagi, tapi aku mohon pada-Mu Tuhan, pertemukan aku dengan Una agar aku bisa memohon ampun dan maaf padanya."


"Sayang!" Celia masuk ke dalam kantor Bima lalu memeluk Bima dari belakang. Bima hanya terdiam. "Sayang, kita ke percetakan yuk. Kita pilih undangan hari ini." Tanpa menunggu jawaban dari Bima Celia menarik tangan Bima keluar dari kantornya.


***


Kembali ke Surabaya.


Adit berada di dalam kamar perawatan Lily, menatap nanar pada sosok yang pernah mencuri hatinya ini. Dokter bilang masa kritis sudah di lewati tapi Lily belum juga sadar. Koma.


"Ly, bangun. Apa kamu gak mau ketemu Yumna? Dia kangen kamu!" ucap Adit, air matanya membasahi punggung tangan Lily. Lily tidak merespon.


"Hei, katanya mau bulan madu kan? Nanti tiketnya keburu gak bisa di pakai loh, cepat bangun, disana indah banget. Kamu suka pemandangan sunset kan? Kamu bisa mainan ombak juga, jangan takut tenggelam sekarang. Ada yang jagain kamu kan?"


Adit terus meracau, selama satu jam Adit terus berbicara tanpa ada balasan dari Lily.

__ADS_1


"Hei, kamu mau sampai kapan jadi putri tidur sih? Nunggu pangeran yang datang, hem?"


Adit merasakan pergerakan jari tangan Lily. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat, lalu selanjutnya Adit menekan mobil di sisi ranjang Lily saat pergerakan tangan itu semakin nyata.


Adit menyingkir keluar saat dokter dan perawat mengambil alih, rasa bahagia tergambar jelas di raut wajahnya. Berharap semoga Lily cepat sadar.


"Pasien sadar dan memanggil anda." ucap perawat lalu pergi. Adit segera masuk ke dalam dan menemui dokter yang sedang tersenyum ke arah Adit.


Mata Lily terbuka, jelas menatap Adit. Adit segera menghampiri Lily dengan haru. Memegang tangan Lily dan menciuminya sayang. Sayang kakak pada adiknya tentu sama.


"Mas..." lirih Lily.


"Iya, apa sayang?" (panggilan sayang pada adiknya ya.😅)


"Yumna..."


"Kamu mau Yumna? mas akan telfon mama." Lily menggelengkan kepala.


"Jangan... sampai... mas Bima...tahu...Yumna. Mas.. Janji, ya." lirih Lily. Sebelum Adit menjawab Lily kembali kejang, dokter kembali meminta Adit keluar dari ruangan. Adit hanya bisa menatap Lily yang sedang di berikan tindakan CPR oleh dokter. Adit menyandar pada dinding, lututnya sudah lemas dan tidak bisa menopang berat tubuhnya lagi, hingga dia merosot ke lantai. Menangis!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mohon maafkan kalau mungkin ada yang salah dalam perihal surat cerai di atas ya, soalnya thor gak banyak tahu juga cuma dari sekedar baca beberapa artikel di internet. Ya namanya juga dunia halu, tolong di bikin mudah aja deh 😅😅😅. Dan soal di Rumah sakit juga itu pure halunya thor aja. trimakasih pengertiannya. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


__ADS_2