
"Jadi bikin kue enggak?" tanya Lily. Dia tertawa kecil saat melihat wajah Bima yang kesal bercampur malu.
"Jadi!" ketus Bima. Lalu menunduk untuk mengambil mentega yang terjatuh tadi dan kemudian melenggang pergi meninggalkan Lily yang masih tertawa geli.
Bima dan Lily membuat adonan kue bersama. Lily terus menggoda Bima yang sedari tadi manyun. Bibirnya mengerucut lucu.
"Tolong ambilin coklat di kulkas!" Bima mengambilnya tanpa berbicara.
"Gulanya dong!" lagi tanpa bicara Bima menyerahkan gula putih pada Lily.
"Coklatnya panasin dulu ya!" Bima mengambil coklat itu lalu memanaskannya pada wadah lain yang ia masukan ke wadah yang sudah berisi air. Menunggunya hingga leleh sempurna. Lalu kembali ke meja dapur dengan coklat panas di tangannya.
"Marah?" tanya Lily kesal.
Bima tidak merespon. Masih sok sibuk menunggui mixer yang sedari tadi menyala. Setelah dirasa dingin Lily memasukan lelehan coklat tadi ke dalam mixer.
Lily mencolek adonan basah berwarna coklat pekat dari ujung mangkuk mixer lalu mengoleskannya pada pipi Bima. Bima melotot tidak suka ke arah Lily. Lily menjulurkan lidahnya.
"Weee, jelek tau manyun mulu! Persis kayak ikan buntal yang embbb." Lily mempraktekan ikan buntal dengan menggembungkan kedua pipinya.
Bima meradang lalu segera mengejar Lily yang sudah duluan berlari memutari meja.
"Lily!!!"
"Awas kamu!!"
"Aaaaa..!!!" Lily berteriak sambil tertawa, terus melarikan dirinya dari kejaran Bima. Berlari hanya di area dapur yang lumayan besar ukurannya yang kini sudah seperti kapal pecah. Lily membuang apapun untuk menghindari kejaran Bima. Bima terus berteriak memanggil nama Lily. Lily semakin gencar menghindarinya.
Nafas Lily terengah-engah, laju larinya melambat karena lelah. Salahnya tidak pernah mau olahraga.
Bima tersenyum miring, kesempatan itu tidak ia sia-siakan. Bima berhasil menarik tangan Lily dan menangkap tubuh Lily. Lalu mengangkatnya seperti karung beras di pundak Bima.
Lily meronta, menggerakkan kakinya. Tangannya memukul-mukul punggung Bima minta di lepaskan.
"Lepas Bim!"
"Enggak! Dasar pembuat onar! Beraninya kamu!"
"Salah kamu juga, kenapa cemberut terus!"
__ADS_1
"Kenapa juga tadi kamu bikin ulah? hah? berani-beraninya godain aku, dasar tukang PHP!!"
"Bima lepasin ih!! Nanti ada yang lihat!"
"Gak bakal ada!"
"Jangan-jangan ini ulah kamu ya, semua orang di rumah pergi!"
"Jangan cuma salahkan aku. Salahkan juga mama dan papa!"
"Aaahh!!" jerit Lily kaget, Bima melempar Lily ke atas sofa empuk di ruang tengah tak jauh dari dapur. Lily hendak bangun tapi terlambat Bima mengunci pergerakan Lily. Kedua tangan Lily ditahan oleh Bima. Bima tepat di atas Lily.
Lily mencoba berontak tapi tidak bisa. Nyatanya tenaga Bima lebih besar darinya.
"Lepasin Bima!"
"Enggak! Kamu harus di kasih hukuman karena udah PHP-in aku!"
"Ih enggak mau!"
"Harus!"
"Dasar penggoda!"
"Uuhh kamu dah berani panggil aku penggoda ya!" ucap Lily dengan nada di ayunkan, dia sengaja tersenyum miring dan mengedipkan sebelah matanya. Terlanjur di sebut seperti itu kan?! Lily membangunkan macan yang sedang tidur! Membuat Bima jadi... errr!
Bima jelas tergoda tanpa Lily seperti itu pun!
"Emang iya kamu penggoda, tadi itu apa? Kamu sengaja berbalik kan?" ucap Bima tepat di depan wajah Lily yang terus bergerak gelisah.
"Enggak! Aku cuma kaget tadi! salah kamu kenapa tiba-tiba di belakang aku!"
"Trus barusan tadi apa? Kedip-kedip mata, huhh!! Kamu sengaja goda aku sekarang?"
"Enggak. Aku gak lagi goda kamu. Kamu gak inget, kamu yang lagi paksa aku sekarang!"
"Itu karena salah kamu!"
Wajah Lily sudah memerah sedari tadi, pasalnya posisi mereka sangat intim dengan Bima yang menindih tubuhnya. Apalagi rambut Bima yang sedikit basah karena berkeringat, seksi! Dan jangan lupakan sesuatu yang menempel di paha Lily, terasa sudah mengeras. Lily sangat tahu apa yang ada di sana!
__ADS_1
Bima sudah tidak tahan, bibir Lily terlalu menggoda dan sayang untuk di lewatkan. Bima semakin menekan tangannya ke sofa, membuat Lily semakin sulit melepaskan diri.
Bima mendekatkan dirinya. Kali ini tidak boleh gagal!
Lily terdiam, merasakan sentuhan hangat nafas Bima di hidungnya. Bohong jika Lily tidak menginginkan Bima. Meskipun Lily tidak mengingat masa lalunya, tapi kehadiran Bima sudah menyita perhatiannya, terlepas dari Bima adalah ayah Yumna tentunya! Lily sudah jatuh cinta lagi!
Lily menutup kedua matanya, Bima tersenyum tidak ada lagi penolakan dari Lily. Dia terus memajukan wajahnya. Deru nafas Lily yang tak beraturan semakin terasa di kulit wajahnya.
"BIMA! LILY!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriakan seseorang membuyarkan fokus mereka berdua.
Bima segera beringsut duduk, dan Lily juga ikut duduk, dan langsung merapikan diri masing-masing, rambut dan pakaian mereka berantakan. Wajah keduanya memerah, malu sudah pasti!
"Ehh, mama... udah pulang??" Bima dengan cengirannya, malu karena terpergok sang mama yang menggendong Yumna. Wajah Ratih terlihat merah padam.
"Kalian ini, kalau mau berbuat tidak senonoh jangan disini! Ada anak kecil! Lagian kalian juga belum SAH!" Ratih menekan kata SAH dengan keras.
Bima dan Lily hanya terdiam menunduk sangat malu.
"Itu di dapur suara apa?!" tanya Ratih lagi.
Bima dan Lily seketika berdiri dan berlari bersamaan ke arah dapur, mereka lupa mematikan mixer tadi. Sementara Ratih membawa Yumna ke kamar atas.
Lily selesai memasukan adonan kue ke dalam oven dan kembali ke sisi Bima.
"Yah, gagal lagi!" ucap Bima lesu. Lily hanya tersenyum sambil mengelus lengan Bima.
Bima menyenggol lengan Lily. Lily mengangkat dagunya untuk menatap Bima dari samping. Bima tersenyum dan kembali mendekatkan wajahnya. Lily tidak menolak.
"Ekhemmm!!!"
Bima dan Lily sontak menjauhkan wajahnya lagi.
"Tunggu kalian SAH!!!" Adi dengan botol minum di tangannya, sedangkan satu tangan lagi mengacungkan jari telunjuknya.
"Ingat, belum SAH!!" ucapnya sebelum beranjak pergi dari sana. Lalu tidak lama Adi kembali lagi.
"Jangan lupa bereskan kekacauan yang kalian buat!" Masih setia dengan telunjuk di depan wajahnya kini menunjuk Bima dan Lily bergantian.
Bima dan Lily mengedarkan pandangannya ke penjuru dapur, lalu tertawa bersama.
__ADS_1