
Acara mandi yang biasanya tiga puluh menit menjadi satu jam lebih karena Bima menarik paksa Dena untuk memandikannya. Ya acara mandi dan yang "lain" dengan beberapa gaya kesukaan Bima tentunya. Membuat Dena kelelahan tapi bahagia karena Bima selalu bisa membuatnya terpuaskan.
"Aku cuma masak ini mas. Gak pa-pa kan?" tanya Dena saat menunjuk lauk pauk yang ada di atas meja makan. Bima tersenyum dan menganggukan kepalanya. Di lehernya masih tersampir handuk yang sedikit basah karena dari rambutnya masih menetes air bekas mandi barusan.
"Mas kebiasaan deh! Kalau habis mandi itu keringin dulu rambutnya. Nanti masuk angin loh!" Dena memperingatkan. Bima hanya terseyum bak anak kecil yang sedang bahagia saat di marahi ibunya.
"Kebiasaan!" ucap Dena lalu beralih ke belakang Bima dan mulai mengeringkan rambut suaminya dengan handuk.
Bima tersenyum senang mendapatkan perhatian dari Dena. Usia Dena tiga tahun di bawahnya, tapi sikap Dena yang keibuan membuat dia lebih dewasa dari Bima. Bima suka itu.
__ADS_1
"Gimana kerjanya mas. Lancar?" tanya Dena setelah selesai mengeringkan rambut Bima, lalu duduk di samping sang suami.
"Lancar, tadi ada meeting penting, dan semua lancar seperti biasanya."
"Syukurlah. Bagaimana keadaan Lily, apa dia sudah hamil?" Bima yang baru saja memasukan makanan ke dalam mulutnya terkejut dan tersedak. Dia menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Dena segera menyodorkan air minum untuk Bima.
"Maaf mas!" sesal Dena saat melihat sang suami sedang mengelus lehernya yang pasti terasa perih.
Dena tersenyum kecut. Mendengar Lily belum membuahkan hasil, dan Bima juga sangat perhatian karena tahu Lily sedang haid.
__ADS_1
"Padahal aku harap Lily cepat hamil. Aku gak sabar pengen gendong anak mas!" Seru Dena sambil tersenyum.
"Kenapa gak adopsi anak saja sih, Na?! Kamu bisa langsung gendong itu sekarang dan gak perlu menunggu waktu buat anak itu lahir kan?"
Raut wajah Dena berubah tidak suka. "Mas Na udah bilang kan, kalau Na gak mau adopsi anak! Kenapa mas Bima gak ngerti juga sih?! Na itu maunya anak dari mas Bima!" ucap Dena sedikit tinggi. Bima tahu jika Dena sudah menggunakan namanya sendiri dalam kalimatnya berarti dia sedang marah. Kemarahan seorang wanita membuat Bima selalu bingung untuk meredakannya.
Terkadang Bima berfikir kalau saja Dena matrealistis tentu akan sangat mudah, hanya memberikan kartu no limitnya, pastilah kemarahan istrinya akan mudah mereda. Seperti istri Yoga, Wanda, dia akan cepat kembali tersenyum saat Yoga membebaskannya memakai kartu no limitnya selama satu hari. Huhh....!
"Iya aku ngerti. Tapi kan tidak semudah itu, Na." Akhirnya Bima bersuara. "Tidak segampang itu seorang anak akan tumbuh dalam perut wanita. Jika Tuhan berkehendak pastilah tujuan kita akan mudahkan? Bahkan aku juga percaya kalau kamu masih bisa hamil dan melahirkan anakku." ucap Bima menatap istrinya dengan pandangan lembut.
__ADS_1
Dena tertunduk, memang benar apa yang di katakan Bima, tumbuhnya seorang anak di dalam rahim memang tidak bisa di prediksi. Hanya tuhan yang tahu kapan itu akan terjadi. Dena tidak bisa berbuat apa-apa. Dan tentunya tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri. Semua butuh proses.