
Lily dan Nila pulang bersama. Rencananya hari ini Lily ingin membeli keperluan untuk persiapan lahiran nanti. Beberapa stel baju, dan topi, kaus kaki, sepatu, semua yang di butuhkan. Nila sangat antusias menemani Lily kali ini.
Lily terus berputar-putar di dalam toko, memilih baju bayi yang ia sendiri masih bingung apakah anaknya laki-laki atau perempuan. Sedangkan Nila entah dia dimana, lebih semangat dari sang empunya niat. Tiba-tiba saja Lily teringat dengan Yeni, saat ia dulu menemani Yeni berbelanja keperluan bayi. 'Apa kabarnya Yeni sekarang?'
Lily menggenggam beberapa baju yang di sampirkan di tangannya, lalu kembali mencari yang lainnya. Sesaat dia terdiam melihat pemandangan di depannya. Dadanya terasa sesak. Matanya berembun. Bukan sakit hati, melainkan merasa miris dengan dirinya sendiri.
Lihatlah wanita dengan perut buncit yang tak jauh berdiri di depan Lily, dengan senyum mengembang ia terlihat bahagia. Di sampingnya berdiri sang suami yang setia menemani. Sesekali berkomentar dengan apa yang di pilih sang istri. Sang istri yang kadang protes saat sang suami mendebatnya, terlihat manja, mencebikan bibirnya marah dan pura-pura berpaling, tapi Lily tahu itu hanyalah sebuah trik untuk menarik perhatian bukan?
Dan benar saja, sang suami mengalah, mencubit hidung istrinya dengan gemas, lalu beralih pada perut buncit wanita yang di cintainya, menunduk lalu menciumnya dengan sayang.
"Hei. Ly?" Nila menarik tangan Lily menjauh dari sana. Melihat pemandangan di depannya pasti membuat Lily merasa sedih, terbukti dengan mata Lily yang sudah merah.
"Sudah selesai belum? Ikut yuk, ada yang lucu loh disana. Ayok!" seru Nila. Jika bertanya 'kenapa' pun pasti Lily tidak akan menjawab dengan jujur. Nila cukup tahu dengan apa yang di lihatnya tadi.
"Lihat ini, bagus enggak?" Nila mengangkat sebuah jaket kecil dengan penutup kepala berbentuk kelinci dengan telinga yang menjuntai panjang.
__ADS_1
"Ih mbak Nila, ini kan buat anak perempuan!" seru Lily.
"Emang buat anak perempuan."
"Anak Lily kan belum tentu juga perempuan, mbak!" protes Lily bibirnya memberengut kesal karena setiap hari Nila selalu bilang kalau anak Lily nanti perempuan.
"Mbak yakin, kok. Lihat bentuk perut kamu melelebar ke samping, mbak yakin baby nya cewek." ucap Nila santai.
"Ih, kata siapa kalo lebar ke samping anaknya cewek? Dokter gak akan laku kalau cuma tahu dari yang kayak gituan."
"Gak mau ah. Biar jadi kejutan aja." ucap Lily lalu pergi dari sana, kembali memilih baju bayi yang baru beberapa ia dapatkan. Beruntung wanita tadi dan suaminya sudah tidak ada disana.
'Pemikiran dari mana tuh kalo lebar ke samping anaknya cewek.'batin Lily. Lalu tersenyum geli, sepertinya Nila masih punya pemikiran kuno.
*
__ADS_1
Lily dan Nila memutuskan untuk makan dulu sebelum pulang, waktu baru menunjukan jam tujuh malam.
Mereka menikmati makanan malam dengan saling berceloteh ria. Bukan di restoran atau kafe, hanya di rumah makan padang yang ada di samping baby shop tempat mereka berbelanja tadi. Kalau mencari restoran atau tempat lain pasti akan terlalu malam. Lagi pula Lily juga terlihat menikmati makanan kali ini.
Lily menyeruput teh hangatnya dengan perlahan, menikmati setiap kehangatan yang mengalir melewati tenggorokannya.
"Ly, kamu gak mau kasih tahu mantan kamu gitu soal anak ini? Bapaknya kan juga berhak tahu kalau dia punya anak." Lily hanya terdiam. Memang benar kata Nila, Bima berhak tahu, tapi apakah Bima akan menerima anaknya?
"Gak tahu mbak, gimana nanti aja. Lily belum siap kalau ketemu dia lagi." Nila menghela nafas berat.
"Hidup sendiri gak gampang, Ly. Apalagi punya anak, selain dari segi biaya juga anak perlu perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya kan? Coba deh kamu fikirin lagi. Kamu bilang dia cari kamu selama ini kan? Dia mungkin udah berubah." Lily menggelengkan kepalanya.
"Lily akan berusaha kasih yang terbaik buat anak ini mbak. Ada atau gak ada ayahnya, Lily akan pastikan dia bahagia." Sorot mata Lily berubah menjadi gelap, aura kesedihan terpancar jelas disana. Tapi Nila yakin Lily pun juga merindukan sosok suaminya. Nila menggenggam tangan Lily.
"Maaf Ly, aku hanya ingin kamu bahagia." ucap Nila. Lily hanya tersenyum, sorot matanya kembali seperti semula. "Ayo, pulang sekarang?" Lily mengangguk. Mereka pun meninggalkan rumah makan padang itu menuju mobil milik Nila.
__ADS_1
Seseorang yang tepat duduk di belakang mereka mengepalkan tangannya dengan gigi yang saling beradu.