
'Mangga muda ya? Kayaknya enak tuh.'fikir Lily.
"Mbak Una lama kan disini?" tanya Mentari.
"Lima hari sampai sampai satu minggu. Bolehkan budhe?" tanya Lily pada budhe Nani. "Kamu juga mau wisuda kan?" tanya Lily.
"Boleh dong." jawab Budhe senang. begitu juga dengan sang suami.
"Mbak koq tahu sih?" mata Mentari membulat senang.
"Ya tahu lah. Mbak juga sengaja pengen hadir di wisuda kamu makanya kesini."
"Aaaah makasih mbak." teriak Mentari sambil memeluk Lily dengan sayang.
"Assalamu'alaikum!" suara seorang anak dari depan.
Mereka pun menjawab salam itu serempak. "Waalaikumsalam."
"Bulan, sini nduk." panggil budhe Nani pada seorang anak yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan menenteng sebuah plastik hitam di tangannya.
"Bulan sudah besar ya. Sini duduk dekat mbak, Lan." Bulan pun menurut, duduk di samping Lily namun dengan wajah yang bingung.
"Inget mbak gak?" tanya Lily. Bulan menggelengkan kepalanya. Tentu saja Bulan tidak ingat karena sewaktu Lily bertemu dengan Bulan saat itu Bulan masih sangat kecil.
"Inget yang di foto itu gak nduk.?" kali ini budhe yamg bertanya. "Yang kamu pakai gaun putih di gendong sama mbak Una?" Bulan mengangguk. Lily tersenyum senang kini meraih tubuh kurus Bulan dan memangkunya layaknya anaknya sendiri. Bulan hanya menurut.
"Bulan bawa apa?" tanya Lily. Sebenarnya Lily sudah mencium bau yang menggiurkan sedari Bulan duduk di sampingnya tadi.
"Mangga mentah mbak." lirih Bulan masih malu. Bulan membuka plastik hitam itu dan menunjukan tiga buah mangga muda yang ukurannya lumayan besar, seketika membuat air liur Lily hampir menetes karena membayangkan mangga tersebut dengan bumbu rujak pedas dengan asam jawa.
__ADS_1
"Wah kebetulan sekali. Kayaknya seger tuh budhe, kita bikin rujak yuk!" ajak Lily pada budhe Nani.
"Sama Mentari aja ya nduk. Budhe lagi gak enak perut makan sambel terus dari kemarin!" ucap budhe sambil mengelus perut gendutnya.
"Tapi kamu harus makan dulu, biar gak perih perutnya." pakdhe mengingatkan. "Pakdhe ambilkan lele dulu di kolam ya." Lily mengangguk senang. Pakdhe Yudha dan budhe Nani selalu memanjakannya setiap Lily datang berkunjung.
Lily makan dengan lahap, di temani budhe Nani dan Mentari. Lele goreng dengan sambal pedas cukup membuatnya makan dengan nikmat hari ini. Matanya berkaca-kaca di sela suapannya. Ia menatap makanan yang ada di dalam piringnya, sama persis seperti yang dulu sering dibuatkan ibunya.
"Kenapa nduk?" tanya budhe.
"Ingat ibu sama bapak, budhe." jawab Lily. Budhe Nani mengusap kepala Lily dengan sayang.
"Yo wes, habiskan dulu makannya. nanti sudah makan kita ke kuburan ibu sama bapak mu, ya." Lily mengangguk, menghapus air matanya lalu melanjutkan makannya kembali.
Seperti janji budhe tadi, kini Lily bersama budhe dan Mentari berkunjung ke pusara orangtuanya. Di pandangnya tempat peristirahatan terakhir mereka, bersih, tidak ada rumput liar, karena Pakdhe Yudha rajin datang dan membersihkan makam orangtuanya.
Lily berjongkok di tengah-tengah nisan keduanya, menaburkan bunga di atas pusara sang ayah lalu di lanjut menaburkan bunga di pusara sang ibu. Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa di cegah.
"Ih ibu. Kan mbak Una sendirian." protes Mentari yang tidak mau meninggalkan Lily disana.
"Wes toh, melu ae! Biarkan mbak mu sendiri dulu. Sepertinya dia mau curhat sama ibu bapaknya! ayuh!" Mentari pun menuruti saja permintaan ibunya.
Lily mengusap batu nisan kedua orangtuanya bergantian.
"Maafin Una bu, pak. Una baru bisa datang sekarang. Ibu dan bapak juga pasti melihat Una setiap hari kan dari sana. Una kuat koq bu, pak! Ibu dan bapak jangan khawatir!" air mata Lily mengalir dengan deras, dan Lily tidak berniat untuk menghapusnya. Lily membiarkan air mata mengalir deras. Berharap setelah ini Lily tidak akan bersedih lagi.
"Ibu dan bapak pasti kecewa dengan keputusan Una, tapi Una rasa ini yang terbaik untuk semuanya. Maaf, una belum bisa jadi anak yang baik buat ibu dan bapak. Ibu dan bapak pasti kecewa karena Una lebih memilih mundur dan menghilang. Una harap ibu dan bapak mengerti keputusan Una yang seperti ini. Una janji akan hidup lebih baik lagi di masa depan."
Hampir satu jam lamanya Lily mencurahkan isi hatinya kepada batu nisan yang bahkan tidak bisa bicara sama sekali. Perasaan Lily sekarang jauh lebih tenang setelah banyak bercerita dan menangis di hadapan nisan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Kedua orang yang menunggunya melihat Lily dengan iba. Bahkan budhe Nani sempat menitikkan air mata sedih saat ingat sang sahabat pergi meninggalkan Una kecil dengan cara yang mengenaskan.
Lily berpamitan dari hadapan kedua orangtuanya dan menghampiri kedua orang yang sudah menunggunya di pinggiran sana.
"Budhe, Tari. Ayuh pulang."
Sepanjang perjalanan Tari mengoceh membuat Lily tersenyum terkadang tertawa. Tidak pernah sedetik pun tangan Tari lepas dari lengan Lily, dia bergelayut manja pada Lily yang sudah di anggap seperti kakakknya sendiri. Budhe Nani lega melihat Lily sudah tidak sedih lagi.
"Mbak jadi mau bikin rujak?" tanya Mentari.
"Biarin mbakmu istirahat dulu, dari dia sampai disini kan belum istirahat." ucap budhe Nani mengingatkan. Mentari hanya tersenyum kecut.
"Lupa. Hehe. Ya udah mbak istirahat dulu aja. Nanti mbak bangun Tari bikinin rujak enak pakai bumbu kacang."
"Huss. Mbak mu kan alergi kacang!" Budhe Nani mengingatkan anaknya. Mentari hanya cengengesan, memperlihatkan dua gigi gingsulnya.
"Lupa, bu!"
"Gak pa-pa budhe, Tari. Bikin rujak sekarang aja yuk. Kan kalau besok mangganya gak seger lagi dong. Makan di sawah ya. Gubuk masih ada kan?"
Mentari mengangguk senang.
"Let's gooooo. "Ucap mereka berbarengan. Sedangkan budhe Nani hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua anak gadis di depannya. Mereka pun pulang ke rumah, meninggalkan area pemakaman.
Lily, Mentari dan Bulan sekarang berada di gubuk tengah sawah milik Pakdhe Yudha. Mereka menikmati rujak pedas dengan asam jawa dengan sangat nikmat, bukan hanya mangga muda, tapi juga ada jambu air, kedondong, dan juga bengkuang. Di belakang mereka berdiri termos berisi teh tawar hangat untuk mereka minum.
Lily sangat menikmati acara makan rujaknya, hingga tidak sadar sudah lebih banyak menghabiskan rujak itu di banding dua orang yang lain.
"Tari, Bulan, sepulang dari sini antar mbak ke rumah ya. Mbak kangen pengen lihat rumah." ucap Lily.
__ADS_1
"Mbak kenapa gak tinggal disini lagi sih. Sayang kan mbak kalau rumah malah orang lain yang nempatin!" protes Tari, Bulan hanya diam tidak tahu harus berkomentar apa-apa karena dia terlalu kecil untuk ikut campur masalah para orang dewasa.
"Oh iya!" seru Tari sambil menepuk dahinya. "Aku lupa. Mbak kan udah nikah ya." Tari terkekeh di ikuti Lily yang tertawa pelan.