Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 55


__ADS_3

Mereka makan di foodcourt. Makan siang pada hampir jam dua.


Maaf kawan aku mengikuti mu, tapi aku hanya memastikan dia aman!


Sambil menikmati kentang goreng aku terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Selama ini aku merasa aman karena sepertinya mereka tidak curiga sama sekali. Malah mereka semakin asik tertawa, sesekali wajah Lily merona. Hei, tolong jangan kemakan rayuan pria alay itu! Ingin rasanya aku datangi mereka dan membawa Lily pulang saat itu juga. Aku hanya kasihan sama Lily jangan sampai dia jatuh cinta pada Adit karena Adit bukanlah lelaki yang baik dalam berhubungan, entah berapa puluh wanita yang sudah ia buat terhempas setelah ia lambungkan ke atas. Dan aku tidak mau Lily menjadi salah satu dari mereka. Bukan karena aku punya perasaan pada Lily, tapi aku peduli sebagai sahabat dari istriku, Dena.


Mereka sudah mulai beranjak dari sana ku kira mereka akan langsung pulang, tapi ternyata mereka melanjutkan berjalan-jalan ke berbagai toko di lantai bawah. Aku tetap mengikuti langkah mereka. Mereka masuk keluar toko, dan menenteng belanjaan mereka. Selama hampir dua jam aku mengikuti mereka. Sebenarnya melelahkan menjadi penguntit seperti ini, apalagi ini adalah pengalaman pertamaku mengikuti seseorang. Lebih baik aku dengan segudang pekerjaanku!


Setelah selesai berbelanja. Akhirnya mereka ke basemen. Beruntung saat mereka keluar dari parkiran aku menemukan taksi kosong dan segera mengikuti mobil mereka. Aku penasaran kemana lagi mereka akan pergi! Tapi sialnya saat lampu merah taksi yang aku tumpangi berhenti dan tertinggal jauh dengan mobil Adit. Aarrrghht!


Ya sudahlah, aku pulang saja. Meskipun aku masih khawatir dengan Lily tapi aku juga tidak tahu dia kemana setelah ini, dan aku juga tidak bisa menelfonnya dan meminta dia pulang. Mengenai mobilku, aku jadi lupa. Ah biarkan saja dulu, nanti aku akan meminta orang dari bengkel langgananku membawanya ke bengkel.

__ADS_1


Tiga puluh menit setelah aku sampai di rumah. Terdengar suar mobil di luar pagar. Aku mendekat. Ku tempelkan jari telunjuk di depan bibirku kepada satpam yang akan menyapa ku. Satpam itu akhirnya hanya mengangguk. Aku keluar dari pintu kecil yang terbuat dari kayu di samping pintu pagar, dan berdiri menyender ke pagar dengan melipat kedua tanganku di dada. Rasanya menyebalkan sekali karena melihat Lily masih tetap berdiri disana meskipun mobil Adit sudah menghilang. Bahkan dia tidak pernah melakukan itu saat aku akan pergi bekerja. Eh aku lupa, dia kan juga bekerja. Kantor kami juga sama!


"Kenapa Adit antar kamu pulang?" tanya ku. Ku lihat barang bawaan Lily, yang aku yakin pemberian Adit. Dasar wanita sama saja! Silau dengan barang!


Lily hanya menunduk, seperti ketakutan. Padahal aku kan juga tidak akan menggigit!


"Tadi gak sengaja ketemu di bioskop." ucapnya.


Cihh, gak sengaja?!


Kenapa dengan mulutku ini? kenapa tidak bisa se-cuek biasanya?

__ADS_1


"I-iya."


"Kamu masih ingat dengan perjanjian kita kan?"


Ya ampun, kenapa membawa perjanjian segala?


Sudah jelas Lily selalu tidak suka saat aku bilang soal perjanjian!


"Bagaimana kalau Adit sampai tahu tentang kita, huh?!" tanpa sadar aku membentak Lily dan dia terkejut. Ada apa denganku? Aku merasa marah sampai aku terdiam saat melihat matanya berkaca-kaca.


"Yang salah disini tuh Mas Bima! Coba kalau mas Bima datang. Aku gak akan nunggu kayak orang ***** sendirian. Aku gak akan nonton sendirian sedangkan yang lain berpasangan atau sama temennya. Dan aku gak akan jalan sama mas Adit. Kita cuma kebetulan ketemu!" teriak Lily seperti tidak terima aku membentaknya, lalu dia pergi dengan keadaan marah. Dan aku hanya bisa melihatnya sampai menghilang ke dalam rumah.

__ADS_1


Lily marah? Baru kali ini aku melihat dia marah!


Kenapa aku sampai membentak dia? Wajar kalau dia marah, aku telat dan gak bisa masuk ke dalam bioskop.


__ADS_2